MENGENANG AKTIVIS MUDA: MARTONIS

30 Januari 2010, di Harian ini kita dikejutkan oleh tulisan Martonis, mahasiswa Pasca Sarjana Administasi Pendidikan Unsyiah. Toni, begitu teman-teman memanggilnya, menulis dengan tajam tentang akreditasi C yang didapat oleh Unsyiah, yang baginya tidak bisa diterima dengan akal sehat serta memalukan. Toni menulisnya dengan kalimat yang tajam ”Nilai C yang diberikan untuk “jantung hati” rakyat Aceh itu membuat kita kaget sekaligus memalukan. Rasanya kita tak percaya. Mengingat Unsyiah selama ini paling banyak dana dihamburkan dari berbagai pos anggaran, seperti dari APBA, APBN, dan anggaran dari sumber yang tidak terikat”. Bagi Toni, Unsyiah itu tidak sekedar lembaga pendidikan biasa, namun lebih dari itu, bahwa Unsyiah adalah identitas masyarakat Aceh yang keberadaanya tidak boleh bernilai corot! Kritisisme Toni itu memang berbuah baik, berturut-turut setelahnya, lahirlah sejumlah artikel penting yang mempertanyakan tentang eksistensi Unsyiah. Polemik tersebut berkembang dengan sangat cepat. Toni, telah membuka mata kita, bahwa Unsyiah sebagai Jantong Hatee Rakyat Aceh ternyata memiliki masalah yang akut.

Membaca kembali tulisan Toni tersebut, membawa saya kembali mengingat awal perjumpaan kami. Awal pertemuan saya dengan Toni adalah ketika saya masih menjadi mahasiswa dan aktif di BEMA IAIN Ar-Raniry. Bersama teman-teman seorganisasi, kami mengadakan survey pemilihan rektor IAIN Ar-Raniry, karena Toni kuliah di Fakultas  Ekonomi Unsyiah, tentu lebih memahami metode survey yang sangat akrab dengan angka-angka, sehingga saya datang menjumpainya untuk berdiskusi tentang hal tersebut. Kesan yang tertangkap dalam perjumpaan itu sangat berbekas. Toni yang memiliki  perawakan kecil, mengingatkan saya pada tokoh-tokoh  seperti Sjahrir dan Agus Salim, sangat terbuka untuk membagi pengalaman dan pengetahuannya tentang metode survey. Dia menyediakan waktu yang lapang untuk kapan saja bertemu dan berdiskusi bersamanya, padahal dia juga memiliki kesibukan mengurus usahanya di Darussalam.

Sebagai anak muda, yang umur dengan saya hanya terpaut 2 tahun, Toni memiliki banyak kelebihan, diantaranya kematangan dan kemandirian  ekonomi yang luar biasa. ”Bakrie Group”nya, begitu saya menyebut tempat usahanya, benar-benar telah menjadi tempat favorit mahasiswa di Darussalam. Segala jenis usaha telah dilakoninya mulai dari jual buku sampai membuka usaha warnet, tetap tidak pernah sepi dan selalu dikunjungi oleh para pelanggannya. Kata seorang teman, Toni memiliki kreatifitas ekonomi yang tinggi.

Toni juga bukan pribadi yang menyepi. Dia adalah seorang aktivis mahasiswa yang  memiliki sikap familiar, kekeluargaan dan tidak menjaga jarak, karena hal itulah maka membuat dirinya memiliki banyak teman, dan tidak memiliki musuh. Selaku Sekretaris Umum BEM Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala periode 2002-2003, Toni menyakini betul tugas kemahasiswaannya sebagai pendobrak tata laku yang tidak adil. Namun kesibukannya itu tidak membuat kekreatifannya tumpul, malah semakin tajam. Cara pandangnya juga visioner. Hal itu dituangkannya dengan ide menulis buku 50Tahun Fakultas Ekonomi Unsyiah, dicetak tahun 2009, yang ternyata sudah dia rintis sejak tahun 2003.

Sebagai aktifis,  Toni tentunya bisa saja meneruskan kariernya ke partai politik dan menjadi politisi sebagaimana teman-teman sejawatnya yang lain. Namun hal tersebut tidak dilakoninya. Toni menolak gemerlapnya dunia politik dan lebih menghibahkan dirinya untuk masyarakat dengan memilih menjadi Trainer Specialist pada Human-Earth Development Center (HEDC) Indonesia.

Dari jauh saya melihat bahwa Toni semakin bertransformasi menjadi pribadi yang humanis. Perkenalannya dengan dunia aktifis dan pengadian masyarakat menjadikannya lebih memiliki rasa yang kuat dalam memahami realita kehidupan. Kesadaran itu dituangkannya dalam sebuah karya pentingnya ”Nyala Satu Tumbuh Seribu”. Satu buku  yang menceritakan bagaimana pentingnya hati dan pikiran yang terbuka bagi seorang pemimpin. Dalam buku itu Toni berpesan tentang pelajaran keikhlasan, harga diri, rendah hati, mencintai alam, kekuatan doa dan humor, kekuatan memaafkan, manajemen konflik, manajemen waktu, kekuatan mimpi dan menjadi manusia pembelajar.

Akhirul kalam, tulisan ini hanya hendak menceritakan tentang seorang anak muda yang telah membuka mata kita tentang beragam persoalan kemanusiaan yang menghimpit, namun bisa dihadapi dengan positif dan optimis. Mungkin dia juga tidak sepopuler politisi maupun artis, namun di tengah keserdehanaannya, dia telah menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Kamis 8 April 2010, pukul 06.02, Tuhan telah memanggil Toni, sang kekasih-Nya, dengan damai. Dia pergi dengan dengan seuntai senyum. Akan tetapi Toni tidak pergi dengan membawa semua kebaikannya. Kebaikannya telah ditinggalkan untuk kita yang masih hidup. Seluruh kebajikannya, sumbangsihnya,cinta kasihnya membuat kita kembali teringat apa yang Tuhan katakan ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki (QS Ali Imran, 3;169). Toni orang baik. benar jasadnya tidak lagi bersama kita. Tapi sebagaimana kata Tuhan, dia kini hidup di sisi-Nya. Benar raganya telah tiada, namun semangat Toni telah menjadi api yang berkobar-kobar untuk kita yang masih hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *