Beberapa Catatan Sekitar Buku Napoleon dari Tanah Rencong

’…adalah tindakan dan perbuatan meninggalkan kawan dalam perjuangan suci dan ditinjau dari sudut hukum ketatanegaraan adalah perbuatan yang salah’ (Hasan Ali dalam M. Nur El Ibrahimy, 1986; 174).

Selepas acara di PT. Arun ada dua mobil yang membawa Ali Hasjmy, Zaini Bakrie, Ahmad Daudy, Hasan Saleh dan Ar Rahman Kaoy sendiri melaju ke Banda Aceh. Ketika sampai di Bireueneun, rombongan tersebut berhenti di rumah Tgk. Daud Beureuh. Sebagai murid-muridnya, memang sudah sepantasnya mereka mengunjungi guru mereka, betapa-pun ada perbedaan pendapat pilihan politik di masa lalu. Sesampai di rumah Daud Beureuh, satu persatu dari rombongan memperkenalkan diri, saat itu penglihatan Daud Beureuh sudah tidak lagi sempurna. Setelah A. Rahman Kaoy memperkenalkan diri, berikutnya Ali Hasjmy, “Njoe lon Abu, Hasjmy (ini saya Abu, Hasjmy). Lalu Daud Beureuh mengatakan kepada istrinya Nyak Asiah, ‘Nyak, njoe Hasjmy (Nyak, ini Hasjmy). Berturut-turut setelahnya, Zaini Bakrie dan Ahmad Daudy memperkenalkan diri, dan mendapat sambutan yang sama dari Daud Beureuh. Lalu tiba giliran Hasan Saleh, menyalami tangan gurunya itu. Dia terdiam, tidak bersuara sama sekali. Tak lama, tangisnya-pun pecah, sambil terisak dia berkata ‘Peumeuah lon Abu, neupeu meuah lon Abu (maafkan saya abu, maafkan saya Abu). Lalu Hasjmy memberitahu, ‘njoe Hasan, Abu (ini Hasan, Abu). Daud Beureuh diam dan hanya berkata ‘kajeut, kajeut’ (sudah, sudah).

Dari Beureuneun menuju Banda Aceh, A Rahman Kaoy sambil bercanda mengatakan ‘hana pateh le lon haba dron, bunoe dikeu Abu neumoe’ (saya tidak percaya lagi omongan bapak, tadi di depan Abu menangis) Lalu Hasan Saleh menjawab ‘bek macam-macam kah, njan guree, that yoe lon bila gobnjan beungeh, jeut meureuka (jangan macam-macam kamu, itu guru, takut sekali saya bila beliau marah, bisa durhaka).

Akan tetapi cerita berikutnya tidak linear seperti di atas, karena Hasan Saleh dan Daud Beureuh memang tidak pernah bisa berdamai. Dalam memoarnya yang telah menjadi klasik, Mengapa Aceh Bergolak (1992), Hasan Saleh memberikan penialaian yang keras sekali terhadap kepemimpinan Daud Beureuh. Olehnya, Daud Beureuh disebut sebagai pemimpin ‘kepala batu’ (182) dan menertawakan pilihan Daud Beureuh dalam mendukung Gerakan Aceh Merdeka. Dengan nada satir, Hasan Saleh mengatakan ‘mungkin saja akan jadi Yang Dipertuan agung di Malaysia, karena menganggap diri sebagai keturunan Sultan dari sana (291).

Nama Hasan Saleh kembali muncul di publik setelah penerbitan buku ‘Napoleon dari Tanah Rencong’. Tidak seperti buku memoar dia sebelumnya, buku ini kurang mendapat perhatian publik. Kenapa hal itu terjadi, barangkali alasannya bisa mermcam-macam, soal marketing dan minat publik terhadap novel sejarah yang belum begitu kuat. Karena buku ini tidak dilaunching di Aceh, sehingga mendapat sambutan.

Akan tetapi, saya memiliki asusmi lain, bahwa ini bisa saja menunjukan semakin jauhnya jarak antara ingatan bersama mengenai peristiwa di tahun-tahun 1945, dengan narasi Revolusi Fisik dan Sosial, dengan keadaan sekarang.terlebih dengan dominasi GAM hari ini, maka penulisan sejarah-pun kini lebih bertumpu kepada mereka. Akan tetapi bukan menuju kepada 1976, yang hanya diperingati setiap setahun-nya secara semakina sederhana, melainkan dengan menempatkan MoU Helsinki sebagai tititk tertinggi dari capaian Aceh sejak bertintegrasi ke Indonesia.

Pun- demikian, kita sepanjang sejarah sering memperlakukan Hasan Saleh secara tidak adil. Hasan Saleh bahkan menjadi frasa sebagai ‘Judas’-nya Aceh untuk menggantikan setiap perilaku menelikung dalam lapangan politik di Aceh. Padahal kalau kita membaca dengan lebih hati-hati, Peristiwa Aceh yang diselesaikan secara terhormat, seperti; pemberian status istimewa, abolisi untuk para pejuang, rehabilitasi dan kompensasi, salah satunya adalah pekerjaan politik Hasan Saleh – tentu bersama nama-nama lain seperti Ayah Gani, Amir Husein Mujahid – melalui Dewan Revolusi. Negoisasi alot itu, melalui sebuah tawaran draft yang dinamakan Konsepsi Darussalam, dapat dibaca dalam sebuah risalah dari Darul Harb ke Darul Islam jilid dua yang dikumpulkan oleh Ali Hasjmy.

Di akhir dari tulisan ini, saya hendak mengatakan bahwa Aceh sering kali mampu berdamai dengan Yang Asing dan Jauh, meminjam istilah Reza Idria. Kita mampu berdamai, — meminjam istilah Cak Nur– dengan mereka yang berwajah pucat dan mata tidak awas setelah peristiwa Tsunami. Atau pula mampu berdamai dengan mereka yang memiliki nama berakhiran ‘O’ setelah Perdamaian pada satu dekade sebelumnya. Namun kita gagal sama sekali gagal berdamai dengan pihak kita sendiri.

Komentar

  1. Roy Sari Milda Siregar

    Benar sekali Bung Alkaf, khususnya alinea terakhir, Sesama Aceh justru paling susah berdamai… Kalau pun nampak lengang, layaknya api dalam sekam… menunggu momen-momen tertentu untuk meledak.

    Lepas dari tulisan Bung Alkaf di atas, alangkah irinya diriku, dengan luasnya wawasan Bung Alkaf dan lebih lagi karena sempatnya Bung Alkaf menulis di tengah-tengah kesibukan.

    Sukses terus my old friend… 🙂

    1. Post
      Author
  2. Taufik Al Mubarak

    Ini bukan lagi blogger, tetapi esais…tulisan Bung Alkaf menyadarkan saya dari lamunan, karena betapa kuat ilustrasi sejarah yang dikemukakan. Saya, setuju bahwa Napoleon dari Tanoh Rencong kurang greget karena selain alasan yang dikemukakan di atas juga karena kuatnya pengaruh ‘novel pesanan’ di balik lahirnya buku ini. Saya kebetulan juga pernah membuat catatan juga atas novel ini di sini http://jumpueng.blogspot.com/2014/07/resensi-novel-napoleon-dari-tanah-rencong.html

    1. Post
      Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *