Beberapa Catatan tentang Buku Islam, Demokrasi dan Pembangunan

Tugas kaum ulama adalah menciptakan masyarakat yang islami. Tugas kaum teknokrat melakukan modernisasi Aceh (Otto Syamsuddin Ishaq , 2006: 28)

Akhir Desember 2009, di pertengahan musim dingin yang menusuk di kota Leeds, Inggris, saya mendapatkan pesan dalam inbox akun facebook saya. Dikirim oleh nama yang tidak begitu asing, Asrizal Luthfi. Secara fisik saya tidak pernah bertemu, namun namanya sering saya baca di website Aceh Institute karena yang bersangkutan sering mengirimkan opininya untuk dimuat di portal yang pernah menjadi nomor satu di Aceh sejak 2005-2009.

Dalam pesannya, dia mengatakan, kurang lebihnya, karena saya tidak msengingat detil peristiwa enam tahun yang lalu itu, bahwa hendak membuat sebuah kelompok diskusi di Aceh — belakangan saya baru tahu bahwa Asrizal terinspirasi suasana akademik di kota ITB Bandung yang sangat tinggi antusiasme di sana mengenai diskursus ilmu-ilmu sosial dan filsafat.

Kata Asrizal dia sudah berbicara dengan Mirza Ardi mengenai rencana pembentukan sebuah kelompok diskusi. Mirza, yang saya sudah lebih mengenalnya sejak di kampus Darussalam, menyarankan agar Asrizal menghubungi saya.

Ajakan Asrizal tersebut tentu saya sambut dengan suka cita, sebab memang sejak kelompok diskusi saya bersama bang Fuad Mardhatillah bubar di tahun 2003, saya kehilangan tempat bertukar pikiran. Terlebih, minat intelektual saya semakin berkembang sejak diajak oleh Lukman Age bergabung di Aceh Institute. Maka dari itu saya kemudian ikut menghubungi beberapa nama yang saya kira cocok untuk menjadi anggota klub diskusi tersebut. Beberapa nama yang saya ajak adalah Jafar, Haris, Zuhri dan Ridha. Sehingga totalnya kami ada bertujuh. Walau dalam perjalanannya, Asrizal, Mirza dan Haris yang paling aktif dalam mengembangkan sayap kelembagaan Kelompok Studi Darussalam, sebuah nama yang Asrizal usulkan, sedangkan Ridha sendiri tidak aktif karena kesibukan urusan pribadinya.

Asrizal pula diantara kami berenam yang kemudian menerbitkan sebuah buku hasil kumpulan esai-esainya dari berbagai media. Di dalam buku yang diberi judul Islam, Demokrasi dan Pembangunan (2013), Asrizal mencoba menterjemahkan berbagai keresahan dan gagasannya mengenai ketiga tema tersebut.

Dalam topik Islam misalnya, yang memuat enam artikel, Asrizal meyakini tentang sebuah konsep Islam yang transformatif. Baginya, Islam itu adalah konsepsi keagamaan yang dikonstruknya tidak melangit, melainkan menjawab setiap tantangan kemanusiaan. Oleh karena itu Asrizal mengajak pembaca untuk kembali melihat ijtihad sebagai bagian dari etos Islam. Tentu baginya, ijtihad bukan melulu dalam ranah fiqh, melainkan seperti yang ditulisnya ‘…melainkan lebih kepada aspek-aspek sosial kemanusiaan terutama yang terkait dengan upaya mencari solusi atas permasalahan kemanusiaan’ (hal; 41).

Namun diantara banyak tulisan di buku tersebut, sebenarnya artikel terakhir yang berjudul Islam dan Pembangunan adalah gagasan terbaiknya, dan uniknya tulisan tersebut belum pernah dipublikasikan. Di dalam tulisan ini, Asrizal memasuki arena yang pelik karena berhadapan dengan sebuah situasi sosial bahwa Islam dan pembangunan sering sekali, meminjam istilahnya, bertubrukan atau ditubrukkan.

Dalam konteks Aceh, apabila kita menghubungkan dengan apa yang disebutkan Otto Syamsuddin Ishaq di atas, maka kita akan melihat bahwa ketegangan antara Islam dan Pembangunan terlah terjadi dalam sejarah panjang di Aceh. Dan dalam beberapa kasus, hal tersebut masih kita rasakan sampai dewasa ini.

Oleh karena itu menjadi relevan apa yang menjadi rumusan Asrizal akan hal tersebut. Baginya, Islam harus didekati dari aspek praktikal dan transeden. Bahkan, lanjutnya, dengan melihat kedua sisi tersebut maka akan membawa kita kepada pemahaman utuh mengenai pesan Islam yang sangat erat dengan aspek sosial, yaitu kesejahteraan. Dengan kalimat yang lebih utuh Asrizal menulis sebagai berikut ‘… Bahwa yang diperlukan dari pembangunan ala Islam adalah penciptaan kesejahteraan yang berkeadilan dan merata bagi seluruh masyarakat’.

Tentu kita terus menunggu karya berikutnya dari saudara Asrizal Luthfi, dan bahkan sebagai tanggung intelektuil, kita-pun wajib melakukan hal yang serupa dengannya; menterjemahkan pesan Islam untuk kemanusiaan.

Komentar

    1. Post
      Author
  1. SangDiyus

    Uraiannya menarik, aku sepakat dengan ide membumikan Islam sebagai ajaran yang tak terasing dari konteks. Kita harus menyadarkan setiap nafs yang telah, sedang dan akan menutup pintu ijtihad. Meski belum baca bukunya, uraian Bung membuat aku merasa bersua kawan lama.

    1. Post
      Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *