Pergerakan Bacaan Imam Shalat di Aceh: Sebuah Tinjauan Sosio-Historis

Saya patut menuliskan tema cara membaca Al Quran, untuk ikut meramaikan pembicaraan, apa yang disebut dengan Qiraah Langgam Jawa pada acara Isra’ Mi’raj di Istana beberapa hari yang lalu. Yang ternyata hal tersebut tidak-lah menjadi sederhana, karena mengundang perdebatan tentang boleh tidaknya membaca Al Quran dengan langgam yang tidak familiar dengan yang berlangsung selama ini.

Namun dalam tulisan ini, saya tidak turut dalam perdebatan tersebut. Tulisan malah hendak menjelajahi lokus yang lain. dan tentu saja, apa sangat personal sifatnya, karena hasil dari ingatan dan pengamatan.

Tulisan ini beranjak dari ingatan tentang bacaan imam mesjid di Aceh, dan bagaimana terjadinya pergerakan bacaan tersebut akibat pengaruh berbagai hal.

Maka cara memahami dengan baik topik ini adalah dengan mengalihkan mata dan telinga kita ke episentrum pergerakan Islam di Aceh: Mesjid Raya Baiturrahman..
Salah satu imam yang paling diingat adalah Tgk. Sofyan Hamzah. Aktifis PII dan pernah menjadi anggota Legislatif Aceh. Bacaannya khas sekali. Sebab diantara imam-imam yang lain, tentu yang lebih muda darinya, bacaan dari Tgk. Sofyan Hamzah tidak berirama seperti Qari.

Senior saya di ISKADA, Faisal Mahdi, menyebutkan bahwa itu irama Padang Pasir. Akan tetapi Faisal tidak menjelaskan secara lebih lanjut apa yang dimaksud dengan irama ‘padang pasir’.
Irama khas dari Tgk. Sofyan Hamzah ini-pun, pernah coba saya diskusikan dengan Imam Besar Mesjid Fathun Qarib Ar-Raniry UIN Ar Raniry, Agusni Yahya.

Alumni Mc Gill dan dan UIN Sunan Kalijaga tersebut mengatakan bahwa irama yang dibacakan oleh Tgk. Sofyan Hamzah tersebut pernah sangat populer di Aceh. Asumsi saya, irama tersebut populer di bawah tahun 1980-an, sebelum generasi qari alumni MTQ ikut mendominasi jagad per-imam-an di Aceh di tahun-tahun berikutnya.

Dua nama yang sangat berperngaruh dari generasi Qari setelah Tgk. Sofyan Hamzah, adalah Ust. Azhari Usman dan Ust. Hasanuddin. Kedua nama itu adalah guru dari guru para Qari di Mesjid Raya Baiturraman Banda Aceh sekarang.

Lagu bacaanya berbeda dengan irama ‘Padang Pasir’ tersebut. Lebih lambat, agak terdengar getaran (istilahnya. dalam dunia qari, adalah reunek) dan tentu enak didengar, karena yang membacanya adalah Qari. Untuk waktu yang lama, irama seperti ini, sangat mendominasi, baik di Mesjid Baiturrahman maupun di Banda Aceh dan wilayah Aceh lainnya.

Dan irama ini tidak lagi menjadi populer ketika gelombang kaset murattal, berikutnya tentu dari tehnologi yang lebih canggih seperti Mp3, dari bacaan Imam shalat di Masjidil Haram, mulai memasuki Aceh . Dalam hal ini diwakili oleh Syeikh Abdurrahman As Sudais, Syeikh Shuraim, Al Mathrud, Al Ghamidi dan yang lainnya, menyerbu telinga pendengar muslimin.

Irama khas Timur Tengah ini-lah yang kini menjadi sangat populer di Aceh, karena juga didorong tumbuhnya generasi hafisz di Aceh. Teman saya misalnya, Islahuddin, salah satu imam di mesjid Jantho, sangat fasih melagukan irama Syeikh Sudaish. Mungkin kalau kita tutup mata sambil mendengarkan dia membaca salah satu surat di Al Quran, hampir tidak ada bedanya dengan pemilik aslinya di Mesjidil Haram sana.

Atau-pun, salah satu imam di Mesjid Raya Baiturrahman, Ust. Salman, adalah salah satu contoh yang paling tepat yang mengambarkan perubahan irama bacaan dalam shalat, dari khas qari MTQ ke khas Imam ala Timur Tengah.
Pergerakan ini saya kira akan terus terjadi seiring dengan meningkatnya kuantitas ibadah. Misalnya saja di Kota Banda Aceh. Tuntutan akan bacaan seperti para imam di Timur Tengah pun semakin kuat, ketika banyak kegiatan keagamaan yang semakin semarak, sebut saja sebagai contoh yang dekat shalat malam di akhir bulan Ramadan.

Disanalah kebutuhan imam seperti para Syeikh akan mengharu-birukan hati para jamaah yang kemudian memejamkan mata, mendekapkan tangan kuat-kuat, bahkan tak jarang meneteskan air mata.

Tulisan ini saya akhiri, tanpa memberi kesimpulan apapun, kecuali hanya terus melihat akan sejauh mana pergerakan ini berjalan. Dan bahwa terjadinya polemik langgam Jawa sebagaimana yang sudah disinggung di awal tulisan ini, biar-lah menjadi ranahnya para pakar dan qari saja. Saya hanya berharap bahwa semuanya berjalan dengan baik-baik saja di masa mendatang.

Komentar

  1. Dayarni

    Dari : Dayarni
    Unit/prodi : 2/PAI
    Semester : III

    Assalamu’alaikum wr.wb
    kalo menurut saya tulisan ini sangat menarik

    judul : pergerakan bacaan imam sholat diaceh : sebuah tinjauan sosro-historis.
    saya setuju karna untuk ikut meramaikan pembicaraan apa yang disebut dengan qira’ah langgam jawa pada acara isra’ mi’raj diistana beberapa hari yang lalu yang banyak hal tersebut tidaklah menjadi sederhana karna, mengundang perdebatan tentang boleh tidaknya membaca Al-Qur’an dengan langgam yang tidak familiar dengan berlangsung selama ini, maka cara memahami dengan baik topik ini adalah dengan mengalihkan mata dan telinga kita ke episentrum pergerakan islam di aceh :
    mesjid raya baiturrahman : salah satu Imam-imam yang paling ingat adalah tengku sofyan hamzah.
    hanya ini komentar yang dapat saya berikan, lebih dan kurang saya mohon maaf… 🙂

    Wassalam…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *