Kembali ke Tanah Air

Atas keperluan Pelatihan Penelitian Antropologi Agama yang diselenggarakan oleh IAIN Langsa, maka saya dengan ditemani oleh Arief Muammar, salah seorang dosen di kampus tersebut, menjemput Al Makin – salah seorang pemateri di acara itu– ke Bandara Kualanamu Sumatera Utara.

Saya mengenal Al Makin di Banda Aceh sekitar dua tahun yang lalu. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, dosen UIN Ar Raniry, yang memperkenalkan saya dengan dosen dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Setiba-nya di Bandara, dia-pun menyapa hangat. Rupanya masih teringat bahwa kami pernah bertemu.ketika itu, dia sedang dalam penelitian tentang Islam dan masyarakat Aceh.

Perjalanan dari Bandara Kualanamu ke Langsa, normalnya menghabiskan waktu 6 jam perjalanan darat. Waktu yang lama ini saya pergunakan untuk bercakap-cakap dengan Al Makin.

‘Saya dengar mengajar di Australia Mas? Tanya saya.

Sambil berjalan menuju mobil, dia menjawab ‘Ah, cuma setahun. Setelah itu saya kembali ke Jogjakarta’. Lalu dari situlah Al Makin banyak berbicara tentang alasannya kembali ke tanah air.

‘Saya berfikir begini mas Alkaf, kalau kita di luar negeri kita tidak dapat berbuat banyak untuk negeri. Memang secara ekonomi lebih baik, akan tetapi kita tidak turut secara aktif dalam membangun masyarakat. Kalau di luar negeri, ya kita hanya beraktifitas di kampus’.

Saya langsung menimpali ‘Wah, seperti pak Harun Nasution ya. Beliau lebih suka membimbing mahasiswanya di Ciputat daripada memenuhi undangan seminar ke luar negeri’. Al Makin mengangguk setuju.

Cerita kami mengenai alasan kepulangan ke tanah air-pun semakin seru. Al Makin menceritakan pengalamannya yang ‘dimarahi’ Azyumardi Azra dan Amin Abdullah.

‘Saya pernah dimarahi sama pak Amin Abdullah. Saya pernah tanya sama beliau, bapak kan sudah tidak lagi jadi rektor, apa tidak mengajar di luar negeri? Lalu dijawab kalau jasanya lebih dibutuhkan di tanah air daripada di luar negeri!’

Pengalaman dengan Azra sebelas-duabelas. Menurut Al Makin, Azra lebih suka mengajar dan membimbing mahasiswa ‘Kalau-pun harus ke luar negeri, Azra tidak mau lebih dari tiga minggu’.

Narasi yang sama, tentu akan kita dapatkan dalam beragam pengalaman. Akan tetapi, saya tidak hendak berhenti disitu. Atau pun tidak hendak berhenti, bagaimana Al Makin, dan juga cerita tentang Harun, Amin dan Azra, memilih tanah air untuk mengabdi, daripada melulu mengejar privelege yang tentu akan mudah didapatkan di luar negeri. Melainkan melihat hal tersebut secara sosiologis. Bahwa sebenarnya, keberadaan ketiga nama tokoh-tokoh tersebut, meminjam istilah Fachry Ali, lebih sebagai penyangga antara masyarakat dengan negara.

Fachry Ali menyebutkan istilah itu untuk menjelaskan dimana posisi Nurcholish, Gus Dur dan Frans Magnis Suseno. Dan memang peranan para tokoh, yang memilih berkarir di tanah air untuk menjadikan dirinya sebagai penyangga, sekaligus jembatan – istilah terakhir dari saya sendiri, untuk generasi sesudahnya.

Dalam konteks Aceh, maka Ali Hasjmy adalah salah contoh terbaik untuk disebutkan.

Setelah selesai jabatan Gubernur Aceh, Hasjmy pun dipindahkan ke Jakarta, kembali bekerja di Departemen Sosial. Namun dia tidak betah, lalu meminta pensiun dan kembali pulang ke Aceh. Hasjmy masih teringat bayi yang ditinggalkannya terlalu cepat; Kopelma Darussalam.

Bergegas dia kembali, mengabdi untuk negeri yang tercabik-cabik karena konflik bersenjata sejak Perang Aceh, Revolusi Sosial dan Darul Islam.

Di Darussalam, Hasjmy melepaskan baju kebesarannya sebagai Gubernur Aceh yang menggantikan Abu Dawud Beureuh. Dia bersama, meminjam istilah Hasjmy sendiri – Angkatan Darussalam, bahu membahu membangun generasi mendatang. Di Ar-Raniry bersama Ibahim Husein, ISMUHA, Ramli Maha Usman Yahya Tiba dan Shafwan Idris dari generasi yang lebih muda. Kalau di Unsyiah bersama Ibrahim Hasan, Madjid Ibrahim, Syamsuddin Mahmud atau generasi yang lebih muda, Dayan Dawood.

Mungkin tidak berlebihan kalau kita mengharapkan hal serupa kepada generasi yang datang jauh setelah Hasjmy. Untuk menyebutkan beberapa contoh dari angkatan intelektuil Aceh yang lebih muda, yang kini sedang menempuh studi doktoral: Reza Idria di Harvard, Fajran Zain di ANU, Saiful Akmal di Goethe Frankfrut.

Ketiga nama di atas, dan nama-nama yang lainnya yang dapat kita sebut satu persatu, persis seperti profil Al Makin di atas, atau juga Azyumardi Azra dan Amin Abdullah, bahwa dengan kapasitas intelektuilnya dapat saja mereka mengakses pekerjaan yang lebih layak di luar negeri.

Namun, kalau itu dilakukan, tentu-lah mereka akan menjumpai apa yang dinarasikan Al Makin di atas. Mungkin saja lebih baik meraka kembali ke tanah air: untuk menjadi penyangga sekaligus jembatan untuk kebaikan negeri di masa mendatang. Mengingat pekerjaan rumah Aceh pasca konflik masih bertumpuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *