Asketisme dan Intelektualitas

Dia biasa dipanggil Nek Aisyah di Kampong Bak Syirih, salah satu desa di kecamatan Monatsiek Aceh Besar. Karena ada persoalan warisan yang agak rumit, maka pihak penggugatnya membawa urusan itu ke pengadilan di Banda Aceh. Dia kemudian datang ke Banda Aceh untuk mengikuti jalannya peradilan tersebut. duduk dengan rapi, melipatkan kainnya ke sekujur kepalanya, terlihat seperti orang kampung yang ke kota.

Pengadilan pun berlangsung, kala itu dipimpin oleh Pak Abd. Fatah, yang kelak menjadi Rektor IAIN Ar Raniry. Persidangan berlangsung alot. Karena sebagai pihak tergugat, Nek Aisyiah pun berdiri, dan memberi pendapatnya; dengan tutur kata teratur, lembut, sistematis, menguasai persoalan hukum Islam di level tinggi, bahkan pada topik yang hakim tidak menguasainya.

Pengadilan pun terkejut, karena tidak menyangka, ada seorang perempuan dengan penampilan sederhana, datang dari luar kota Banda Aceh, namun dapat berbicara sebaik itu. Lalu hakim bertanya ‘ibu ber-sekolah dimana?’ dijawab dengan singkat ‘saya sekolah di Bireun, di Normal Islam’.

Ada pula alumni sekolah Normal Islam yang lain, Teungku Hasyim, lama menjadi kepala KUA di Banda Aceh dan pernah pula menjadi anggota legislatif. Dia memiliki tutur kata-nya teratur, bahkan pikirannya pun masih jernih, walau usianya ketika itu sudah 80 tahun lebih. “Yang dibutuhkan agar negara ini menjadi lebih baik adalah negarawan” katanya suatu waktu.

Teungku Hasyim pun terkadang menggoda saya. Tanpa maksud serius, kecuali hendak mendorong agar yang muda lebih maju dan berkembang, dia mengajak saya berbicara dengan bahasa-bahasa asing, seperti Inggris, Jerman dan juga Perancis. “Kalau bahasa Arab, kemampuan kami di atas fasih”. Dan memang benar, dalam setiap pembicaraan, Teungku Hasyim hampir selalu menyelipkan ayat-ayat Quran. Dan seperti juga Nek Aisyah, Teungku Hasyim adalah generasi yang ikut merasakan pertumbuhan pendidikan modern di Aceh di awal abad ke-20, keduanya, serta juga yang lain, selalu memilih hidup secara askestis. menjauh dari hiruk pikuk dunia.
Bila saya bertemu, atau mendengar cerita yang mirip dengan kisah di atas, tentu banyak sekali hal yang berkeliaran di pikiran ini. Misalnya saja, mengapa orang-orang seperti Nek Aisyah dan Teungku Hasyim mampu mempertahankan level intelektualitasnya sampai sejauh itu. Atau mengapa pula mereka dapat merasa cukup dengan apa yang didapat tanpa harus mengejar materi lain yang lebih berlimpah.

Suatu waktu, karena sudah meminta pensiun lebih cepat, Ali Hasjmy harus membeli sendiri bensin mobilnya. Padahal saat itu, dia sudah diangkat sebagai Dekan Fakultas Dakwah IAIN Ar Raniry. Tidak-pun mengeluh. Sebab seperti Fuad Ramli, dosen Fakultas Ushuluddin UIN Ar Raniry “ Saya melihat, orang-orang tua di IAIN dulu selalu memiliki semangat untuk mendirikan lembaga. Yang difikirkan hanyalah membangun lembaga dan bagaimana mencerdaskan para generasi mendatang”

Fuad Ramli adalah anak dari Ramli Maha, yang pernah Pembantu Rektor I di IAIN Ar Raniry pada masa kepemimpinan Ali Hasjmy.

Yang menarik, Fuad Ramli pernah bercerita kepada saya ketika sama-sama hilir mudik di sekitar Nologaten Yogyakarta. “Maha adalah nama kakek saya, yang diberikan oleh Abu Dawud Beureuh”.

Dan tentu bukan saja kebetulan, sama sekali bukan. Ramli Maha kemudian bersekolah ke Yogyakarta, ke IAIN Sunan Kalijaga, bersama dengan pemuda Aceh lainnya. Salah satunya adalah Ismail Thayeb. Mereka bertema karib. “Kalau kami melepas penat di Jogja, Ayah kamu malah asyik belajar” ceritanya kepada Fuad Ramli. Saya kebetulan ikut mendengarkan.

Ismail Thayeb sendiri pernah menjadi pejuang Darul Islam Aceh, mungkin diantara yang termuda saat itu. Lalu dia disarankan turun gunung dan kemudian ke Jogja untuk bersekolah. Karena belajar langsung kepada dua intelektual hebat di Aceh, Teungku Ismail Thayeb Paya Bujok dan Teungku Hasbi Ash Siddqy, telah membentuk tradisi akademik yang luar biasa.

“Saya bahasa Inggris tidak begitu baik, masih lebih baik bahasa Perancis” katanya suatu waktu dalam sambutan untuk mahasiswa Pascasarjana dari Aceh di Jogja. Bahasa Arab? Jangan ditanya, kini hari-harinya dihabiskan untuk mengalih bahasa-kan kitab tafsir dari Syeikh Abdul Rauf Assingkili, Tarjuman al-Mustafid.

Ketika saya masih bersekolah di program magister UIN Sunan Kalijaga, beberapa kali, baik bersama Fuad Ramli, Fairus dan teman-teman lain, berkunjung ke rumahnya. Apa yang terlihat dari kehidupan Ismail Thayeb? Tidak lain juga apa yang saya juga saksikan dari para intelektual yang secara bersamaan tumbuh dalam tradisi pendidikan modern di Aceh: Asketisme dan kadar intelektual yang di atas rata-rata.

Dua hal itulah hemat saya yang menjadi modal sosial di Aceh pada suatu masa. Sehingga sekuat masalah yang dihadapi, perang-kah, revolusi-kah, konflik bersenjata-kah, selalu saja dilalui dengan baik. Aceh kemudian dapat dibangun kembali menjadi lebih baik.

Lalu apakah kedua modal tersebut masih hidup di Aceh?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *