Yang Masih Dikenang dari Balee Seumike Aceh Institute (Bagian Pertama)

Akhir desember 2005, di sela-sela acara Tsunami Summit yang diadakan oleh beberapa CSO di Banda Aceh, saya dengan Syahrir, kakak kelas di Fakultas Dakwah UIN Ar Raniry, sedang bersantai di salah satu ruangan tempat acara berlangsung. Saat itu, saya diminta oleh Lukman Age untuk ikut membantu jalannya acara. Tentu saja bukan sebagai panitia utama, cukup sebagai pembawa papan tulis dan peralatan lainnya saja.

Dalam suasana santai itu, tiba-tiba, handphone saya berbunyi “Alkaf…,” rupanya suara Lukman, “Mau ya bantu-bantu di Aceh Institute? Tolong kirim CV nya. Tapi saya kirim terlebih dahulu ke pak Saiful.”

Yang dimaksud oleh Lukman itu, adalah Saiful Mahdi, Koordinator Aceh Institute yang sedang menyelesaikan Phd di Cornell University. Sedangkan Lukman, saat itu menjabat sebagai Koordinator Program Aceh Institute, sebuah lembaga yang bergerak pada bidang penelitian dan penerbitan.

Tawaran itu tentu saya terima bulat-bulat. Walaupun belum tahu, akan seperti apa bekerja di sebuah lembaga penelitian, apalagi bagi saya yang baru menyelesaikan sarjana Strata Satu empat bulan sebelumnya.

Di Aceh Institute, kata Lukman “Kamu memiliki tugas untuk menghidupkan diskusi rutin yang sejauh ini belum pernah berjalan dengan begitu baik.”

Bila saya ingat kembali deskripsi tugas itu sekarang, barulah tahu bahwa hal tersebut pekerjaan mudah. Cuma dasar, saat itu saya hanya berfikir, bagaimana cara agar mendapatkan pekerjaan. Jangan menganggur terus menerus. Malu.

Tidak lama, mulailah saya mempersiapkan ancang-ancang untuk melaksanakan kegiatan diskusi.
Waktu itu, Aceh Institute masih mengontrak rumah yang lumayan besar berlantai II di kompleks perumahan elite di Kota Banda Aceh, sehingga semua staf memiliki ruangan tersendiri.

Saya di lantai satu, bersama para peneliti bidang Agama dan Budaya. Lalu juga ada Marlina, bendahara Aceh Institute dan Ichwan Nahar yang saat itu bertugas pada bagian dokumentasi. Kemudian ada juga Nurul Kamal dan Hardiansyah yang bertanggung jawab pada pelatihan. Tidak ketinggalan juga Ijal, sang Office Boy. Sedangkan Halim El Bambi, Web Master yang propagandanya di zaman milist mampu mengharu birukan diskursus wacana di website Aceh Institute yang legendaris itu, berada di lantai II.

Dan, dari lantai I itulah, cerita diskusi rutin Aceh Institute itu bermula.

Saat itu memang belum ada satu ruang yang digunakan untuk diskusi secara rutin, kecuali beberapa meja yang disusun berbentuk lingkaran, yang dengan format itu, diskusi mengenai topik-topik penelitian, yang menjadi tugas utama Aceh Institute dan rapat rutin lembaga dapat dilakukan.

“Bang Kamal, apa tema diskusi pertama yang dapat kita lakukan?” tanya saya kepada Nurul Kamal. Orang yang saya tanyai ini merupakan Assabiqunal Awwalun di Aceh Institute. Orangnya meledak-ledak kalau berbicara, bahkan sampai sekarang, kalau kami bertemu, gayanya tidak berubah sama sekali.

“Oya, saya punya teman. Dia bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat. Tentu ini akan menjadi hal menarik bila kita mendengar tentang apa yang sudah dilakukan selama ini,” jawab Kamal.

Maka dimulailah persiapan untuk menyambut diskusi perdana itu. “Diskusi ini harus sukses kak!” kata saya kepada Marlina dengan semangat membara. Marlina yang saya ajak bicara itu mengangguk-angguk, terlihat dia juga seperti optimis.

Teman-teman semuanya ikut membantu. Semuanya turun tangan. Bahkan Halim yang hampir sepanjang hari tidak pernah keluar dari ruang kerjanya, pun ikut turun ke lantai I. Lalu Ijal, yang memiliki pekerjaan menjaga stabilitas dan sirkulasi di kantor, sudah bersiap di depan laptop. Di hari yang bersejarah itu, dia bertransfromasi menjadi notulen!

Diskusi-pun dimulai, kami yang awalnya memiliki optimisme yang menggebu, mulai resah ketika pembicara mulai tidak begitu mempesona. Puncaknya ketika dia mengatakan “…Ya begitulah kegiatan yang sudah kami lakukan, bila berkenan, bolehlah kami mendapatkan bantuan dari Aceh Institute, agar lembaga kami ini dapat berjalan dengan lebih baik.”

Nafas saya tercekat “Oh tidak, diskusi perdana ini gagal total! Dikiranya, Aceh Institute adalah lembaga donor,” bisik ku, tentu di dalam hati saja. Kami pun saling melirik, lalu sama-sama menyumbang satu senyum tipis saja. Senyum tanda apes!

Bila cerita ini saya ulang kepada Marlina, dia tidak pernah berhenti ketawa, terbahak bahkan.

Pengalaman di atas tentu saja bikin saya bingung. Putar otak agar diskusi berikutnya lancar. Bukankah saya harus menunjukkan prestasi kerja, untuk memperlihatkan bahwa pilihan Lukman kepada saya sebagai pengelola diskusi di Aceh Institute tidaklah salah.

Lalu sampailah tawaran tema yang menarik dari Muhammad Waly “Bagaimana minggu depan kita undang Abu Nu?” Muhammad Waly salah seorang peneliti bidang Agama dan Budaya Aceh Institute. Saya yang mulai kebingungan menyambut dengan gembira, “Boleh. Apa temanya?”

“Bagaimana kalau kita mendiskusikan tentang pemikiran tiga tokoh Aceh. Tgk. Daud Beureuh, Ali Hasjmy dan Tgk. Muda Waly. Abu Nu sangat cakap kalau sudah berbicara menegnai tema itu,” kata Wali meyakinkan saya.

“Oke, minggu depan Abu Nu yang jadi pembicara. Jangan lupa, ajak murid-murid Abu yang lainnya,” jawab saya antusias, sekaligus meminta garansi bahwa diskusi itu akan berjalan dengan semarak karena dihadiri oleh banyak peserta dari murid-murid Abu Nu itu.

Saya sendiri tidak asing dengan Abu Nu, yang bernama aslinya M. Nur Adamy, sebab sudah lama mendengar legenda tentang dirinya; seorang militan yang menjadi poros bagi aktivis muda Muslim di Aceh. Hampir tidak ada aktivis Islam di Aceh, terutama di tahun-tahun rezim Suharto mencengkram di era 1990-an, yang tidak bersentuhan dengannya (Bersambung).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *