Yang Masih Dikenang dari Balee Seumike Aceh Institute (Bagian Kedua)

Diskusi bersama Abu Nu itupun berjalan dengan sukses. Sebelum kemudian kantor Aceh Institute-pun pindah ke Punge Blang Cut. Di kantor yang baru itu, kami mengontrak rumah yang tidak terlalu besar, namun cukup reseprentatif. Di kantor itu pula-lah beberapa agenda baru dilaksanakan, seperti peresmian perpustakaan Isa Sulaiman. Cita-citanya, perpustakaan itu akan menjadi pusat informasi dan pengetahuan tentang Aceh.

Di kantor baru itu, saya sempat was-was kalau diskusi rutin yang baru saja dimulai di kantor sebelumnya terhenti kembali. Bukan apa-apa, Punge Blang Cut tidaklah berada di pusat keramaian di Kota Banda Aceh.

Namun, tugas tetaplah tugas, maka diskusi pertama-pun tetap dilakukan dengan mengambil tempat di lab komputer. Saat itu topik yang diambil tentang 8 tahun reformasi Indonesia, dengan pembicara Gunawan Adnan, , akademisi dari UIN Ar Raniry.

Diskusinya memang berjalan menarik, akan tetapi tempatnya tidak begitu nyaman, karena itu kemudian dipikirlah bagaimana membangun tempat diskusi yang lebih reseprentatif.

Entah ide dari siapa, dipilihlah lokasi yang tepat berada di tengah-tengah kantor, dibangunlah satu balai sederhana, karena terinspirasi oleh Balai Meudrah yang ada dalam kebudayaan Aceh.

Kami memberi nama Balee Seumike, yang berarti tempat untuk berfikir. Cita-citanya sederhana saja, Balee Seumike ini akan dijadikan ruang bagi praktik merenung, berdiskusi, berdialog segala aras pemikiran. Diksi Seumike dalam tradisi akademik di Aceh Institute juga sudah digunakan sebelumnya untuk terbitan, yang bernama Jurnal Seumike. Jurnal yang memiliki fokus kepada isu-isu Aceh dari berbagai pendekatan keilmuwan.

Diskusi di Balee Seumike ini kemudian menjadi salah satu legenda, apabila orang bercerita tentang Aceh Institute. Dan dapat dikatakan, masa-masa kejayaan diskusi Aceh Institute di Balee Seumike itu berada antara tahun 2006-2009. Di tahun-tahun itu, setiap Jumat sore diadakan diskusi dengan menghadirkan pembicara dari berbagai disiplin keilmuwan.

Saya masih ingat, diantara yang pernah menjadi pembicara di Balee Seumike; Anthony Reid, sejarawan yang memiliki perhatian besar terhadap Aceh. Dua karya yang paling dikenang tentang sejarah Aceh adalah Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19 dan The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra.

Selain itu, diskusi di Balee Seumike pernah dihadiri oleh John Bowen, Antropolog besar dari Amerika yang menulis sebuah karya agong tentang Gayo, Sumatran Politics and Poetics: Gayo History, 1900-1989.

Indonesianis terkemuka dari Australia yang juga pernah hadir adalah David Reeve. Saat itu dia berbicara tentang penulisan biografi Ong Hok Ham, sejarawan dari Univeritas Indonesia, yang sedang dilakukannya. David Reeve dikenal dari karya besarnya tentang Partai Golkar, yang berjudul Golkar Sejarah yang Hilang: Akar Pemikiran dan Dinamika.

Edward Aspinall juga pernah mempresentasikan bakal bukunya di Balee Seumike. Buku yang kini dapat kita baca dengan Islam and Nation: Separatist Rebelion in Aceh, Indonesia. Saya ingat, waktu itu, Harold Crouch, yang saat itu menjadi Direktur Aceh Research Training Institute (ARTI), penulis buku Militer dan Politik di Indonesia, juga hadir untuk melihat muridnya itu berbicara.

Lalu, pembicara level nasional yang pernah bicara di Balee Seumike, yang sangat saya ingat, adalah Irwan Abdullah, Antropolog yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pascasarjana UGM. Murid kesayangannya, Hatib Abdul Kadir yang kini sedang menempuh Phd dalam Antropologi di California University, Santa Cruz, juga pernah muncul sebagai pembicara. Jadi, jauh sebelum Hatib mengajar di Amerika sana, dia sudah terlebih dahulu membentang makalah, yang penuh dengan referensi itu, di Balee Seumike.

Dari Aceh, beberapa nama yang pernah berbicara dalam diskusi di Balee Seumike, yang saya ingat itu adalah Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, penulis buku Acehnologi yang berjilid-jilid itu, saat itu dia berbicara tentang perkembangan Islam di Asia Tenggara.

Dapat dikatakan, Balee Seumike di tahun-tahun itu telah menjadi magnet bagi peminat pengetahuan di Aceh yang saat itu sedang ikut dalam proses pemulihan akibat bencana tsunami dan masa-masa kritis dalam perdamaian MoU Helsinki.

Aceh Institute, dengan keberadaan Balee Seumike itu, hemat saya telah memberikan andil dalam penyemaian semangat Aceh Baru. Walau kini, secara fisik bentuk dari balai itu telah hilang, setelah kantor lama di Punge itu dibangun Cafe Pustaka. Akan tetapi kehadirannya, yang terbilang singkat, telah menginspirasi lembaga-lembaga kajian lainnya di Aceh akhir-akhir ini (Tammat).

Komentar

  1. ansor

    Tulisan yang bernas. Hemat saya, memori tentang aceh institute tidak hanya ditulis sebagai esai, melainkan buku. Atau setidaknya artikel untuk jurnal. Perlu ada penelitian tentang sejarah sosial intelektual aceh institute.

    1. Post
      Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *