Nasihat Politik untuk Irwan Djohan

Politik Aceh harus dibaca dari dua periode penting ini, 1998-2002 dan 2005-2010. Periode 1998-2002 dilihat sebagai masa pergulatan politik. Mulai dari gerakan penjatuhan Suharto, Referendum Aceh dan penerapan Syariat Islam. Ketiganya peristiwa itu saling berkelindan, dalam pengertian sebagai pencarian bentuk Aceh Baru. Setelah lama dibekap dalam rezim yang otoriter. Oleh karenanya, aktor-aktor yang hadir di periode tersebut, penting untuk dibaca dikarenakan mereka masih aktif sampai era berikutnya.

Periode 2005-2010 adalah rentang waktu Aceh yang terbuka. Hal tersebut disebabkan oleh dua hal; proses reintegrasi politik dan berjalannya proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh paska Tsunami. Keterbukaan Aceh itu memungkinkan para aktor belajar banyak hal, sekaligus mengumpulkan modal sosial. Keterbukaan itu, dapat dikatakan karena seluruh mata dunia melihat Aceh. Sehingga memaksa pemimpin, dan juga masyarakat untuk juga lebih terbuka dan toleran kepada hal-hal yang datang dari luar, baik secara politik, kebudayaan dan sosial.

Lalu, dimanakah Irwan Djohan di dalam dua periode penting itu?

Pertanyaan itu harus dijawab secara genealogis. Irwan Djohan tumbuh dari jaringan elite uleebalang Aceh Besar, yang secara struktur, pada masa pemerintahan di zaman Kolonial, wilayah itu berada dibawah Panglima Polem, sebagai Panglima Sagi XXII Mukim. Harus diingat, bahwa Aceh Besar adalah wilayah yang tidak begitu parah terpapar akibat dari revolusi sosial. Sehingga secara sosial dan politik pula, keberadaan jaringan uleebalang Sagi XXII Mukim masihlah kuat. Misalnya saja, salah satu anak dari Muhammad Ali Panglima Polem, Bahtiar, pernah menjabat sebagai Bupati Aceh Besar.

Dalam unit yang lebih kecil lagi dari jaringan tersebut, Irwan Djohan adalah adalah anak HT. Djohan dalam makna sebenarnya. Baik secara biologis maupun politik. HT. Djohan adalah perwira militer yang memiliki karir gemilang di zamannya. Pernah menduduki beberapa posisi penting di atas panggung politik Aceh di zaman Orde Baru, Diantaranya menjadi Kasdam Iskandar Muda, Wakil Gubernur Aceh, Ketua Golkar Aceh dan Ketua DPRD.

Kemudian, di atas segalanya, sejarah telah memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada HT. Djohan karena dua hal; Pertama, perlawanannya kepada Panglima ABRI Jendral LB. Murdani dalam perkara pendirian gereja yang terbakar di dekat Mesjid Raya Baiturrahman. Kedua, karena dia telah menjadi korban dari konflik bersenjata di Aceh.

Saya mencatat, bahwa perlawanan terhadap Jenderal itu, yang mengakibatkan karir politiknya terhambat. Hal tersebut begitu membekas dalam ingatan masyarakat Aceh, Djohan senior disanjung karena pembelaannya yang tinggi terhadap Islam. Bukan saja karena menolak pendirian gereja itu, namun juga atas keberanian melawan panglima militernya, yang saat itu memiliki hubungan yang tidak baik dengan masyarakat muslim di Indonesia.
Jadi, naiknya Irwan ke panggung politik di Aceh itu membawa kekuatan moril dari HT Djohan itu.

Namun menariknya, walau datang dari keluarga elite di masa Orde Baru, Irwan Djohan juga hadir dalam dunia aktivisme, ketika rezim yang membesarkan keluarganya itu digugat. Dia melakukan hal penting; menyediakan radio Prima FM dan tabloid Aceh Kronika-nya sebagai medium keterlibatannya secara politik di periode 1998-2002
Melalui dua media tersebut, dapat dikatakan, sebagai bentuk negoisasi Irwan, sebagai anak dan ayahnya, yang bangunan politiknya sedang digugat oleh gerakan sosial 1998. Pengalaman secara psikologis Irwan ini, saya rasa hampir mirip dengan apa yang dirasakan oleh Kautsar Muhammad Yus. Namun bedanya, Kautsar lebih memilih jalan yang lebih radikal untuk menyampaikan asprasi politiknya.

Ketika Irwan Djohan menapaki jalan politiknya pada pilkada 2012, dia dianggap anak muda yang tidak tahu diri. Sebab tanpa basis politik, kecuali beberapa dukungan dari komunitas pemuda, dia sudah berani melawan para dedengkot politisi di Banda Aceh. Namun dia hebatnya, dia berhasil mencuri perhatian masyarakat Banda Aceh kala itu.

Lalu Irwan pun mendapat sambutan hangat di atas panggung politik Aceh. Ada harapan kepadanya. Sebagaimana orang Aceh meletakkan harapan kepada ayahnya. Harapan itu semakin kuat terlihat, ketika dia mengambil posisi moril dengan mempublikasikan gajinya setiap bulan di media sosial. Pujian pun semakin menghampiri. Apalagi bersama beberapa politisi muda lainnya, membentuk sebuah Konsorsium Pembangunan Aceh.

Namun, politik memang soal daya tahan. Belakangan Irwan terlihat semakin “biasa”. Publik menangkap hal itu. Dan lalu mereka memilih mengingatkannya, setelah Irwan mengatakan untuk memindahkan ibukota Aceh ke Bandung — hal yang muncul akibat polemik permintaan dana perjalanan dinas DPRA. Tentu saja maksud Irwan bukan demikian. Namun sekali lagi, inilah politik. Dunia yang menuntut kemawasan diri. Irwan harus sama sekali sadar akan hal tersebut.

Oleh karena itu, yang dibutuhkan oleh Irwan selekasnya adalah pembisik yang baik. Pembisik, sebuah frasa yang sangat populer di zaman Gus Dur, adalah simpul penting dalam pekerjaan politik. Mereka sering dibaca sebagai penentu arah dari sebuah sikap seorang pejabat politik.

Namun dalam konteks Irwan, tentu saja tidak tepat bila dikatakan dia disetir oleh para pembisiknya. Irwan adalah orang yang secara personal baik dan kuat. Keterlibatan penuhnya dalam dunia aktvisme di masa lalu itu sebagai bukti. Akan tetapi, dikelilingi oleh pembisik yang baik, maka tentu akan lebih membantu posisi politiknya yang kini semakin mendapat sorotan.

Dan, pembisik yang tepat adalah mereka yang pernah terlibat dalam dua periode penting di atas. Dimana atas keterlibatan itu, maka mereka akan mampu memberikan pertimbangan-pertimbangan politik yang tidak keblinger sama sekali.

Kemudian, Irwan harus berani keluar dari kungkungan dirinya yang semakin “biasa.” Dia harus kembali kepada harapan yang pernah disematkan. Irwan harus berani kembali melipat lengan bajunya dan hadir dengan warna politik yang dulu pernah melekat: Politik gagasan!

Politik gagasan adalah alasan mengapa dia dianggap sebagai harapan baru bagi Aceh. Melalui politik gagasan pula yang menyebabkan dia pernah begitu dekat menyapa rakyat. Tidak berjarak.
Apabila hal tersebut dilakukan, maka dapat dikatakan, karir  politik Irwan Djohan di masa mendatang, akan lebih cerah.

Tulisan ini sudah dimuat di http://aceh.tribunnews.com/2016/05/23/nasihat-politik-untuk-irwan-djohan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *