Jejak Normal Islam Institut

Dalam pertemuan-pertemuan di masa akhir hidupnya, masih terlihat cara berfikirnya yang sistematis dan jernih, terutama dalam memandang persoalan kebangsaan. Bahkan di-usianya yang hampir menyentuh usia ke-90 tahun, dia masih menunjukkan kapasitas intelektualnya dan menunjukkan gayanya yang teatrikal, terutama ketika memempraktekkan percakapan dalam bahasa Inggris, Arab, Jerman dan Perancis!

Namanya Syamsuddin Hasyim. Alumnus Normal Islam Institut, yang mungkin, terakhir yang saya temui. Nama yang saya sebut tersebut telah berpulang 5 tahun yang lalu.

Normal Islam Institut adalah sekolah yang didirikan oleh Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) di tahun 1939. Lembaga pendidikan itu didirikan untuk mendidik calon guru madrasah, yang mulai tumbuh marak sejak tahun 1920-an. Di Normal Islam Institut, para siswanya digembleng dengan ketat. Baik secara ideologi dan intelektual.
Sehingga tidak heran alumninya menjadi sangat bersinar ketika turun di dalam masyarakat. Beberapa nama bisa kita sebutkan seperti ISMUHA dan Ibrahim Husein yang pernah menduduki posisi Rektor IAIN Ar Raniry Banda Aceh, Ilyas Ismail yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi ke Filipina dan kemudian menjadi tokoh masyarakat Islam di sana.

Lalu ada Hasan Tiro, yang melanjutkan studi ke Amerika dan pernah menjadi pegawai Kementrian Luar Negeri. Kemudian juga tercatat nama Abdullah Thaib yang mendapatkan posisi strategis di awal pemerintahan Orde Baru. Nama Ismail Thayeb Paya Bujok juga patut dikenang karena menjadi intelektual penting di Aceh Timur.

Kehadiran Normal Islam Institut, dalam disertasi Daud Remantan (1984), disambut dengan suka cita oleh masyarakat Aceh. Salah satu bentuk penyambutan tersebut dapat kita tangkap melalui sebuah puisi yang dikarang oleh Abkamy, yang saya kutip lengkap sebagai berikut:

“Sedang Aceh termenung cenung,
Ditindas untung malang gulana,
Tampak nun jauh terkatung-katung,
Itulah PUSA mulai menjelma.

Ulama Aceh bangun berbimbing tangan,
Hendak menyeberang samudera maya,
Menuju pulau yang diridhai Tuhan,
Hendak memajukan agama dan nusa.
,
Dikala PUSA telah menjelma,
Nampaklah berkelip cahaya cemerlang,
Itulah N.I.I. yang dibangunkan PUSA,
Bersinar cahanya gilang gemilang.

N.I.I. sekolah menengah Islam,
Tempat menuntut putera dan puteri,
Sama-sama berbimbing tangan,
Untuk memajukan Islam suci.

Wahai kaumku Aceh mulia,
Bangunlah-bangun majukan bangsa,
Lihatlah kepada ulama kita,
Mereka t’lah siap di barisan muka.

Itu N.I.I telah sedia,
Tempat kita melatih diri,
Marilah bersama-sama,
Untuk mencapaik derajat tinggi.” (Daud Remantan, Pembaharuan Pemikiran Islam di Aceh, 1984: 306)

Normal Islam Institut, hemat saya adalah evolusi terbaik yang dilakukan oleh generasi intelektual pertama Aceh paska Perang Kolonial. Bahwa benar, sebelumnya, telah berdiri banyak madrasah, baik di Montasiek, Lampakuk, Seulimeum, Sigli dan Idi. Namun keberadaan Normal Islam Institut adalah sebuah capaian penting dalam memaknai Aceh yang baru dengan menerima kemodernan itu sendiri. Para siswanya memakai jas, dasi, celana dan belajar di atas meja dan kursi. Secara sistematis-pun, pelajar di Normal mempelajari beragam disiplin ilmu dan bahasa Eropa (Hamdiah Latif, 1992). Dengan modal tersebutlah, maka alumninya dapat tegak berdiri di atas berbagai lapangan di tengah masyarakat.

Namun sayang, ingatan terhadap lembaga pendidikan tersebut semakin menipis. Jejaknya semakin tersapu oleh kencangnya angin sejarah. Padahal seperti pesan Bung Karno; Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, karena sejarah adalah petunjuk dari masa lalu untuk masa depan. Maka keberadaan Normal Islam Institut haruslah direfleksikan secara mendalam.

Hemat saya, secara umum, generasi sekarang dapat belajar banyak dari generasi yang lebih awal. Tentang apa yang sudah mereka pikirkan dan lakukan di zaman yang lampau. Dan tentu saja, kita dapat belajar banyak dari satu lembaga pendidikan yang pernah hadir di atas panggung sejarah Aceh; Normal Islam Institut.

Komentar

    1. Post
      Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *