Untuk Dia yang Tidak Pernah Mati: Safwan Idris

Bagaimana kematian itu dimaknai? Gede Prama, seorang penutur hikmah, memberikan jawaban atas pertanyaan itu secara memukau. Kira-kira secara bebas, redaksi darinya begini; menurutnya kematian bahkan mendekatkan antara yang sudah pergi dengan yang masih tinggal.

Begitulah pemaknaan tentang kematian yang dapat kita pahami untuk kepergian Dr. Safwan Idris, 16 tahun silam. Maka acap kali kita mengingat bagaimana Pak Safwan, maka acap kali pula kita semakin dekat dengannya.

Kepergian Pak Safwan dari alam fana menuju keabadian tidaklah biasa. Pak Safwan pergi dengan meninggalkan sebuah tragedi kemanusiaan yang terperih. Yaitu ketika sebuah kearifan dan kejernihan, berakhir di tangan pemilik amarah dan kegelapan.

Kepergian Pak Safwan adalah sebuah kisah epos. Dia jatuh ke tanah, dengan darah yang mengalir dari kepalanya, akibat peluru yang dimuntahkan dari manusia terkutuk sepanjang sejarah. Manusia yang dikira olehnya mahasiswa di Darussalam, tanah yang mulia itu.

Pak Safwan tersungkur. Darahnya membasahi bumi Aceh. Menangislah seluruh semesta.

Pak Safwan adalah pemimpin yang sebenar-benarnyanya pemimpin. Rusydi Ali Muhammad, Rektor IAIN Ar Raniry yang menggantinya, sampai menulis bahwa dia bukan-lah Rektor, melainkan pengganti Safwan Idris.

Tumbuh dalam dekapan dua tradisi kuat di Aceh, Dayah dan Darussalam. Pak Safwan menjadi pengobat kehausan orang Aceh tentang makna pemimpin sebenarnya yang telah lama hilang; ahli agama sekaligus admistrator ulung. Hal yang pernah melekat pada dua tokoh besar Aceh sebelumnya, Daud Beureuh dan Ali Hasjmy.

Pak Shafwan adalah ahli agama. Kalau yang dimaknai dengan kemampuan membaca kitab kuning, maka dia mampu membaca kitab yang paling kuning sekalipun. Otoritas yang dipunyainya itu adalah hasil tempaan langsung oleh ayahnya, Abu Idris, salah satu ulama yang kharismatik, sekaligus pengikut setia Daud Beureuh.

Dia juga admistrator ulung, karena tempat belajarnya pun tidak tanggung-tanggung, sampai ke Amerika Serikat. Padahal zaman itu, Kuala Lumpur-pun masih terasa jauh. Begitu menurut Ibu Alawiyah dalam sebuah tulisannya yang menyentuh di buku Kearifan yang Terganjal; Shafwan Idris Ulama dan Intelektual Aceh.

Dia menceritakan, betapa sangat gugupnya ketika harus menyusul ke Amerika, karena Pak Safwan yang akan melanjutkan studi doktoralnya. Namun dia-nya bahagia ketika melihat Bang Safwan, begitu Ibu Alawiyah memanggil suaminya itu, tampak hadir menyambutnya di bandara Kuala Lumpur.

Bagi yang pernah berjumpa langsung dengannya, tentulah dapat memahami tentang dua kecakapannya yang di atas itu. Gelar akademik dan posisinya yang prestisius itu, tidak membatasinya untuk berjumpa dan berbicara dengan siapapun. Hari ini, dia bicara di panggung nasional. Duduk sederet dengan tokoh penting di negeri ini. Esok lusa, dia bicara di hadapan jamaah meunasah di pelosok Aceh. Tanpa mengurangi sedikit-pun antusiasnya.

Pak Safwan juga dengan sangat wibawa berbicara di hadapan mahasiswa paskasarjana, dengan timbunan teori dan referensi menjulang. Namun dengan lugas dan sederhana, dia juga mampu berbicara dihadapan mahasiswa strata satu sekalipun, tanpa menurunkan kualitas pengetahuannya.

Namun jangan pula, ketika sedang berbicara mengenai wibawa intelektual Pak Safwan tersebut, ada pula yang menuntut “Dimana karya pak Safwan? Bukunya? Jurnalnya?”

Lha, itu bukan pertanyaan untuk Pak Safwan!

Kehadirannya adalah untuk mencetak para intelektuil di bumi Aceh. Merekalah yang akan menulis buku, jurnal, karya agong, pengabdian tulus dan keindahan budi pekerti. Pak Safwan berdiri tegak untuk mewujudkan hal itu. Memang benar dia tersungkur 16 tahun yang lalu. Akan tetapi, bukankah jiwanya masih bersama kita?

Lalu apa yang dapat dimaknai setelah 16 tahun kepergian Pak Safwan. Apa yang sudah terjadi dan berubah?

Mengingatnya adalah harus, bahkan wajib! Namun jalan yang telah dilaluinya, bahkan tanggung jawabnya, harus ada yang memikul. Sebagaimana yang dilakukan oleh Pak Safwan terhadap generasi yang lebih lampau darinya.

Menyambung hal tersebut adalah kemestian, yang bahkan menjadi tugas sejarah yang mesti dipikul bersama-sama.
Maka dari itu, dekap-lah, rangkul-lah jiwa Safwan Idris itu setinggi-tingginya. Sebab hanya dengan demikian, kita mampu melanjutkan cita-citanya yang mulia untuk agama dan bangsa.

Komentar

    1. Post
      Author
  1. Komentator

    Berarti saat kejadian itu, saya masih SD.
    Tapi apapun cerita nya, kejadian itu adalah tindak kejahtan. Seharusnya dengan dalih alasan apapun polisi selaku pihak berwajib, harus dan terus bekerja untuk mengungkapkan fakta kejadian ini. Mngkin inilah salah satu cara untuk menyembuhkan duka kelurga.

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  2. Sri Pati

    Pendapat saya
    Memahami cerita dari Gede prama, safwan idris bukan hanya sebagai tokoh pendidik, almarhum adalah tokoh agama yang sangat bijaksana dan spesial dengan kepeduliannya. Kebijaksanaannya sebagai pemimpin. Sekaligus ulama aceh besar. Kejadian yang dialami almarhum safwan idris adalah tindakan kejahatan yang di perbuat oleh orang yang tidak nenyukai almarhum tentunya. Dengan kejadian yang dialami almarhum sebagai pihak yang berwajib berhak menindak lanjuti kasus atau kejadian yang menimpa almarhum. Dan banyak pelajaran yang kita dapat dari kepedulian dan kebijaksanaan di masa lalu almarhum untuk generasi penerus di masa yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *