Kepada Sukarno-Hatta

Perhatikan kalimat terakhir dari bunyi teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia “… Atas nama bangsa Indonesia, Sukarno-Hatta.” Terkesan ada harmoni di sana. Namun, sungguh, di sanalah sebenarnya cerita tentang hiruk-pikuk, banting-tulang, jatuh-bangun tentang bangunan keindonesiaan ini bermula.

Melalui dua nama itu pulalah apa dan bagaimana Indonesia merdeka disusun dan dibangun. Tidak ada harmoni pada keduanya, sebagaimana yang tertera di teks proklamasi di atas, terutama pada ide dan gagasan. Sebab dari keduanya, terpancang perdebatan ide yang mengagumkan. Ada banyak perbedaan diantara keduanya. Namun tidak kurang juga, terdapat banyak titik temu.

Sukarno-Hatta dapat dikatakan perwakilan dua identitas besar yang menopang keindonesiaan kita. Sukarno yang tumbuh besar di atas sawah, kebun, ladang dan rakyat yang masih mendambakan Ratu Adil. Sedangkan Hatta, datang dari sebuah masyarakat pesisir yang sejak awal sudah terbuka dengan apapun yang datang dari luar. Penerimaan atas yang datang dari luar itu, kemudian menjadikan Hatta sebagai wakil generasi awal bangsa ini yang melihat kemajuan Barat secara positif dan optimis.

Perbedaan karakteristik itulah yang kemudian hampir sepanjang hayat membuat keduanya selalu saja bertarung dalam memperjuangkan idenya. Awal segalanya, muncul dari pertanyaan, bagaimana kemerdekaan Indonesia diperjuangkan.

Menurut Sukarno perjuangan kemerdekaan adalah dengan pengerahan masa dan agitasi. Terlihat betapa aktifitas politik Cokroaminoto, yang dilihatnya selama tinggal di Surabaya, dan gagasan Tan Malaka tentang Massa Aksi, sangat berbekas baginya.

Akan tetapi Hatta melihat hal yang berbeda. Baginya, rakyat harus disadarkan dan diberi pengajaran. Sesuatu hal yang diyakininya akan membawa kemerdekaan yang hakiki dan kuat.

Tipikal keduanya itu dapat dilihat terang melalui buku otobiogafinya masing-masing. Kalau Sukarno, seperti biasa, orang yang selalu meluap-luap dan menunjukkan antusiasme. Hatta adalah kebalikannya, dia dingin, tenang dan tertib. Hal tersebut tercermin dari kesannya ketika belajar ke negeri Belanda melalui otobiografinya itu (2015). Sebuah buku yang yang tampak lebih ribet dari otobiografi Sukarno (1966) yang ditulis oleh Cindy Adams, yang tampak bernada narsistik.

Dari latar belakang keduanya, kemudian ikut memberikan warna perbedaan tentang demokrasi untuk Indonesia. Sukarno, sebagai orang yang sangat mempercayai bahwa alam dan tanah Indonesia memiliki nilai sendiri, mengusulkan adanya satu partai nasional, yaitu Partai Nasional Indonesia sebagai partai tunggal untuk menjaga persatuan dan menghindari perpecahan, hal yang di tentang oleh Sjahrir, teman dekat Hatta selama di Belanda, yang mengatakan bahwa hal tersebut, yang dianggapnya akan membawa Indonesia kepada alam otoritarianisme (Ign Sumanto, 2005: 13).

Hatta berbeda. baginya keberadaan partai-partai politik adalah prasyarat terbentuknya tatanan pemerintahan dan peropolitikan di masa depan bagi Indonesia. Oleh karena itu, atas nama Wakil Presiden, mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden No. X yang menjamin keberadaan partai-partai politik di Indonesia (Mohammad Hatta, 2011: 115).
Perbedaan yang paling mencolok tentu saja mengenai kritikan tajam Hatta mengenai konsepsi Demokrasi Terpimpin-nya Sukarno. Melalui sebuah risalah yang kini sudah menjadi klasik; Demokrasi Kita.

Awalnya, naskah demokrasi kita dimuat di majalah Panji Masyarakat 1 Mei 1960, pimpinan Buya HAMKA. Atas sikap redaksinya itu, majalah tersebut dilarang beredar dan Buya HAMKA tidak lama juga harus masuk penjara, tanpa pernah diadili.

Dalam risalah Demokrasi Kita, Hatta memberikan kritikan yang tajam sekali terhadap Sukarno. Hatta melihat bahwa konsepsi Sukarno itu tidaklah akan bertahan lama. Usianya akan sama dengan sang pemberi konsepsi itu sendiri, tegas Hatta.

Hatta sendiri percaya bahwa politik adalah kesatuan sistem yang yang mestilah berdiri secara kuat. Ia-nya tidak boleh bergantung kepada kharisma seorang pemimpin. Disinilah perbedaan yang sangat tajam antara Sukarno dan Hatta. Bila Sukarno kemudian percaya bahwa masa Indonesia pada Demokrasi Terpimpin – yaitu wibawanya. Hatta sebaliknya, dan dia berdiri dengan kokoh atas pilihan sikap politiknya itu.

Namun, perbedaan pemikiran sedemikian tajam itupun tidak pula membuat keduanya berpisah jalan dalam mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka. Sebab bagi Sukarno dan Hatta, mereka telah mewaqafkan seluruh hidupnya untuk bangsa ini. Sebagaimana untain kata-kata Hatta berikut ini: “Indonesia tanah pusaka. Pusaka kita semuanya. Marilah kita mendo’a: Indonesia bahagia! Marilah kita berjanji: Indonesia Abadi!

http://padebooks.com/kepada-sukarno-hatta/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *