Hari Jadi untuk ISKADA: Sebuah Esai

Ingatan saya kembali kepada tahun pertengahan tahun 1999 di MTSN I Banda Aceh. Dimana, untuk pertama kalinya, saya mengikuti training kepemimpinan, dengan nama Latihan Kader Dasar (LKD), yang diselenggarakan oleh Ikatan Siswa Kader Dakwah (ISKADA).

Mengikuti latihan demikian, yang ternyata memiliki pola yang sama dengan latihan dasar PII, tidaklah menjadi mudah bagi saya. Tidur di atas meja pada jam-jam yang larut. Lalu, bangun pagi-pagi sekali. Makanan dijatah seperti di hidup di dalam kamp. Tentu saja dengan lauk pauk yang seadanya. “Anda harus terbiasa dengan kondisi prihatin di dalam latihan seperti ini!” kata para senior kala itu.

Mengapa harus ke ISKADA? Saya mendapat informasi, kalau mau pandai pidato, maka harus ke sana. Kalau mau cakap bicara di depan orang banyak, maka masuklah ke ISKADA. Akan tetapi, setelah lama saya di organisasi itu, , tidak pernah atau jarang mendapat pelatihan pidato. Namun anehnya, hampir semua anggota ISKADA cakap berbicara didepan publik. Hal tersebut menjadi mungkin karena adanya kepercayaan dari senior untuk angkatan yang lebih muda untuk tampil di muka cukup tinggi, baik sebagai pemateri, instruktur pelatihan kader, penceramah maupun menjadi khatib.

Melalui guru kami tercinta, Ayahanda Rahman Kaoy, menceritakan betapa ISKADA ini besar dan tersebar di banyak tempat. Di dalam setiap pertemuan, Ayahanda Rahman, selalu saja menekankan modal pembangunan dakwah ISKADA, yaituh Bismillah. Sebuah ajaran agung yang menunjukkan betapa pentingnya menghadirkan nama Tuhan dalam setiap langkah dan gerak.

ISKADA sesungguhnya adalah organisasi yang didirikan untuk mendidik generasi muda Islam. Apabila kita memperhatikan setting sosialnya, pendirian ISKADA di pada tanggal 5 Februari 1973 adalah sebuah terobosan penting, di saat ada kekosongan gerakan membangun karakter generasi muda.

Di tahun itu memang sduah ada HMI dan PII. Akan tetapi bagi tokoh, yang masih muda saat itu, Tgk. Drs. A. Rahman Kaoy, yang didukung oleh tokoh Aceh, seperti Ali Hasjmy, Abdullah Ujung Rimba dan Sofyan Hamzah, mendirikan sebuah organisasi dakwah dengan personil para siswa yang berprestasi di sekolahnya.

Salah satu nama siswa yang cemerlang itu adalah Ahsanjas. Kami, para anggota ISKADA, menambahkan kanda di depan namanya. Masa-masa saya aktif di organisasi itu, beliau adalah senior yang paling sering memberikan dukungan secara maksimal kepada yang lebih muda.

Apabila ada kegiatan organsasi, berdua dengan Ayahanda Rahman Kaoy, beliau menjadi pembicara dalam upaya memberi sokongan, semangat dan inspirasi. Salah satu warisannya darinya mars ISKADA yang diciptakannya itu. Satu lagu yange menjadi pemompa semangat, yang selalu digemakan di setiap acara-acara keorganisasian.

Kini, usia ISKADA memang tidak muda lagi sebagai sebuah organisasi. Ada pasang surut melanda organisasi kader dakwah itu. Akan tetapi, ada dua hal yang tidak berubah dari ISKADA; silajturami yang kuat dan rasa ikhlas dalam mendidik ummat. Kedua hal tersebut adalah modal besar di saat situasi akhir-akhir ini semakin pekatnya aroma kebedaan di berbagai bidang, hatta dalam kegiatan dakwah sekalipun.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kader ISKADA jangan pernah goyah oleh badai apapun. Ingat pesan Ayahanda Rahman di dalam setiap perjumpaan dan silahturahmi kita, bahwa kader ISKADA hanjeut meu ep-ep!

Pesan yang sangat membekas, sehingga menjadi spirit dimana-pun kita berada. Kini yang dibutuhkan tentu, dengan spirit dasar itu, adalah pembacaan dakwah yang lebih mendalam dan kontekstual. Tentu saja gerakan dakwah, apapun medianya; baik mimbar, tulisan maupun gerakan langsung di lapangan, haruslah benar-benar menjawab tantangn zaman itu.

Isu-isu seperti intoleransi, kehancuran lingkungan, terorisme, ancaman kepada ideologi negara, relasi gender, pembangunan ekonomi ummat dan hal-hal yang mendesak lainnya, harus lah menjadi para kader. Sebab tidak mungkin sama sekali, pergerakan dakwah ini tenggelam oleh gempita dunia, tanpa berbuat apa-apa. Kecuali, kita memperbaiki gagasan dan gerakan dakwah itu sendiri.

Kini ISKADA merayakan hari jadi-nya ke 44. Tentu semua pihak ISKADA menyadari bahwa dunia telah berubah. Namun semangat tentang keiskadaan tidaklah berubah. Tanpa berlebihan, saya berharap bahwa tulisan ini dibaca oleh seluruh kader ISKADA yang berada di berbagai pelosok. Dan bersama sama membangun kembali cita-cita kebersamaan yang dahulu kita bingkai di menara selatan mesjid raya Banda Aceh. Selamat Hari Jadi ke 44 ISKADA. Semoga terus hadir sebagai penerang di tengah keresahan dan kecintaan ummat.

Komentar

  1. Riyanti

    ISKADA sebuah organisasi yang dibuat untuk orang-orang yang ikut ISKADA pandai berpidato, berbicara di muka umum seperti hal nya seminar atau pun yang lain nya. Seorang ayahanda Rahmat Kaoy, yang selalu menceritakan tentang betapa besar nya Iskada itu dan terkenal nya. Iskada ini terbentuk pada 5 Februari 1973. Iskada ini sudah banyak menyebar ke banyak sekolah terpencil. Dan ada salah satu siswa yang cemerlang yaitu Ahsanjas yang selalu memberikan motivasi-motivasi kepada anggota iskada yang lebih muda dari nya, agar iskada tetap berjalan dan tetap maju kedepan nya

    Kelebihan:
    Iskada ini mampu membuat para anggota nya untuk tetap bersemangat, percaya diri, dan tanggung jawab. Iskada ini juga mampu membuat para anggota untuk menyebarkan iskada ini sampai ke sekolah-sekolah lain nya

    Kekurangan:
    Iskada ini tidak lagi ada. Dan iskada ini hanya ada di aceh, tidak menyebar ke kota-kota yang lain nya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *