Juanda Djamal dan Nasib Sebuah Angkatan

Winter, awal tahun 2010, di tengah udara yang semakin dingin, saya menjemput Juanda Djamal di stasiun bus, di pusat Kota Leeds, Inggris. Juanda saat itu sedang mengikuti Kursus Using Democracy for Peace di Bradford University, satu kampus di kota yang hanya berjarak 30 menit dari Leeds.

Musim dingin itu pun membuat waktu bergerak lebih cepat. Pusat kota Leeds semakin sepi. Kecuali beberapa orang yang memang memiliki kegiatan di malam hari. Polisi Inggris, baik laki-laki dan perempuan, terlihat berjalan santai. Di pinggangnya terselip alat kejut listrik untuk menghentikan aksi kejahatan yang mungkin akan terjadi.

Di Inggris, Juanda, seperti pengakuannya kepada saya, melakukan pekerjaan besar. Dia menceritakan, atau lebih tepatnya membagi inspirasi dari Aceh untuk dunia.

“Dalam forum itu, saya berbicara di hadapan para delegasi dari berbagai negara berkembang. Menceritakan setiap proses politik di Aceh, sekaligus juga saya mendengar pengalaman dari negara yang berbeda, “jelasnya.

Bagi generasi saya, Juanda Djamal adalah perwakilan cerita dari tumbuh kembangnya sebuah angkatan baru yang melawan rezim tirani Orde Baru di tahun 1998. Gerakan yang dimulai dari isu nasional tentang merosotnya nilai tukar rupiah, kemudian bergerak cepat kepada penjatuhan rezim Suharto. Di Aceh, setelah Suharto jatuh, gerakan itu tidak berhenti, isu yang lebih spesifik tentang pelanggaran HAM, ketimpangan pembangunan sampai konflik politik laten, terus menggema. Bahkan bertiup lebih kencang.

Lalu, dari situasi demikian, Juanda mulai muncul dan begitu menonjol dalam peran-peran politik dan sosialnya di kemudian hari.

Menariknya, sebagai seorang yang berlatar belakang santri, dia kemudian, memilih Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) sebuah kelompok aksi yang sangat terkenal di masanya, sebagai medium pergerakannya. Bukan malah ke Pelajar Islam Indonesia (PII), tempat dia memulai memahami arti sebuah pergerakan sosial-politik.

Juanda juga beruntung, hemat saya, karena di usia yang sangat muda telah ikut serta dalam setiap proses politik di Aceh dan bertemu dengan banyak orang. Saya mendengar hal tersebut pada peresmian Perpustakaan Isa Sulaiman Aceh Institute di tahun 2007. Juanda kala itu diminta memberikan testimoninya tentang Dr. Isa Sulaiman; sejarawan cum aktivis itu.

Terlihat, dari penjelasannya mengenai keterlibatan Dr. Isa, betapa dia yang masih sangat muda, telah ikut terlibat jauh dalam upaya penyelesaian konflik Aceh yang bermartabat.

Persentuhan-persentuhan dengan dinamika politik Aceh itu terus berlanjut. Tentu yang paling diingat adalah perannya membangun gagasan Aceh Baru, paska perdamaian tahun 2005. Dimana dia menjadi tulang punggungnya secara langsung, sebagai Sekjend Konsorsium Aceh Baru.

Pada Pilkada 2017 kali ini, Juanda ikut terlibat langsung menjadi calon Wakil Bupati Aceh Besar dari Partai Aceh. Pilkada itu memang telah selesai. Dari hasil pleno KIP, menunjukkan kompetitornya lebih unggul. Juanda Djamal kalah. Namun kalah secara politik elektoral, bukan berarti sudah mengakhiri perjalanan politiknya. Bahkan saya rasa itu menjadi awal dari langkah-langkah politik dia berikutnya.

Namun, kekalahan Juada Djamal itu, ternyata malah memunculkan pertanyaan besar lainnya, yaitu apakah masih ada masa depan politik bagi angkatan ’98. Suatu generasi yang tumbuh dengan kesadaran politik yang tinggi itu, atau sudah selesai sama sekali.

Apalagi di awal-awal masa perdamaian, beberapa aktivis ‘98 berhasil menduduki posisi eksekutif. Dan ada yang ikut pula bertransformasi dari gerakan sosial, seperti masa-masa sebelum perdamaian, ke gerakan politik. Salah satunya dengan mendirikan partai lokal.

Namun cerita manis itu tidak berlangsung lama. Setelah politik elektoral akhir-akhir ini menjadi semakin berwajah transaksional, kemudian yang mengharuskan penyediaan modal besar dan juga populisme, maka angkatan tersebut-pun harus angkat tangan untuk berhenti, dan lebih memilih untuk masuk kepada struktur politik yang sudah mapan.

Keadaan demikian, maka akan membuat modal sosial yang lainnya, seperti kecerdasan dan jejaring, sebagaimana yang secara personal dimiliki oleh Juanda di atas, seakan tidak lagi berguna.

Mungkinkah, dengan segala dinamika yang terjadi itu, kita sudah boleh mengucapkan selamat tinggal untuk sebuah angkatan? Sekaligus memberikan jalan untuk angkatan yang lebih baru. Yaitu sebuah angkatan yang tidak memiliki beban masa lalu, kecuali tanggung jawab untuk membangun masa depan, dengan visi baru yang dimilikinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *