Divisi Rencong, Ksatria Pesindo

Kekalahan Jepang pada Perang Asia Timur Raya, maka membuat para pemuka nasionalis di Aceh berbegegas untuk mengambil alih kekuasaan politik dan militer. Salah satu yang paling fenomenal adalah tumbuhnya laskar-laskar pemuda yang menjadi pasukan para militer, di luar Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Salah satunya adalah Divisi Rencong, faksi militer dari organisasi Pesindo, pimpinan Ali Hasjmy dan Nyak Neh. Organisasi dan laskyar ini merupakan salah satu yang terkuat. Divisi Rencong, yang senjatanya didapati dari pangkalan militer Jepang di Lhok Nga, memiliki keunggulan pada penguasaan pesenjataaan alat berat dan anti serangan udara (Reid, 2011).

Keberadaan laskar militer ini harus dilihat dari sebuah seting sosial-politik, ketika pemuda yang pada hari-hari revolusi mengambil semakin memegang peranan penting, dalam upaya mempertahankan proklamasi kemerdekaan di Jakarta pada 17 Agustus 1945. Kesadaran pemuda tentang nasionalisme keindonesiaan, yang mulai terbentuk di awal abad ke-20n melalui organisasi pergerakan politik pelajar, kemudian menemukan momentumnya pada masa awal revolusi nasional.

Para pemuda ini kemudian melakukan pengorganisasian bersifat nasional diantaranya dengan membentuk Barisan Pemuda Indonesia (BPI) yang kemudian bertransformasi menjadi Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang kemudian semakin kuat warna nasionalismenya ketika organisasi ini bergabung dengan Pesindo (Sjamsuddin, 1998). Oleh Reid (2011), penggabungan ini mempertajam hubungan pemuda perkotaan yang medukung keberadaan Pesindo dengan pemuda perdesaan yang lebih memberi dukungan kepada organisasi Mujahidin.

Suasana revolusi yang masih mencari arah kemudian membuat ketegangan dapat terjadi kapan dan dimana saja antara anak bangsa. Begitu juga keberadaan Divisi Rencong yang ikut bersitegang dengan berbagai pihak, diantaranya dengan Tentara Republik Indonesia (TRI), yang hampir-hampir saja memulai pertempuran diantara dua organisasi itu (Ibrahimi, 1982). Bahkan, Pesindo, organisasi yang menaungi Divisi Rencong ini, juga pernah mengalami ketegangan dengan pemimpin ulama tradisional, Tgk.Hasan Krueng Kale, yang sempat menganggap bahwa organisasi ini adalah kepanjangan tangan dari kelompok ulama modernis, walau kemudian hal itu terbantahkan, sebab kehadiran Pesindo adalah bagian dari upaya perjuangan revolusi (Sjamsuddin, 1998).

Organisasi Pesindo ini memiliki cerita yang kompleks karena memiliki kesamaan dengan Pesindo nasional. Namun ketika Pesindo di nasional mulai terinfiltrasi komunsime, maka cepat-cepat organisasi di Aceh ini menarik diri dan menyatakan bukan dari organisasi itu (Dijk, 1983).

Peranan dari Divisi Rencong dalam menyelamatkan revolusi nasional dicatat dengan tinta emas karena melakukan dua hal besar. Pertama, adalah keterlibatan dalam Perang Medan Area. Kedua, ikut menyukseskan pembangunan Tentara Nasional Indonesia (TNI ) dengan ikut meleburkan diri ke organisasi tentara itu.

Pada perang Medan Area, panglima Divisi Rencong mengirimkan satu batalion untuk memperkuat pertahanan di Sumatera Timur (Hasjmy, 1984). Hasjmy memberikan penjelasan tentang keorganisasian Divisi Rencong, Laskar Pesindo yang memang rapi. Dimana prinsip-prinsisp keorganisasiannya berjalan dengan baik. Beberapa kali, Pesindo mengadakan konfrensi untuk menyempurnakan jalannya organisasi dan membahas perkembangan sosial politik republik yang baru saja merdeka. lalu, melalui Konfrensi Istimewa itulah Pesindo maka dibentuklah Divisi Rencong.

Di sisi lain, Divisi Rencong ikut membangun organisasi Tentara Nasional Indonesia, yang didaerah lain sering mengalami benturan dengan organisasi lasykar yang tumbuh di awal revolusi. Bahkan, tidak jarang benturan itu menyebabkan meletusnya pemberontakan bersenjata. Namun, di Aceh hal itu tidak terjadi, karena adanya kesadaran akan kepentingan nasional di atas segalanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *