Merawat Ingatan tentang Sultan Aceh

Para keturunan Sultan Aceh dan kerabatnya, sudah patut mengambil kembali peran politik dan kebudayaan-nya, yang telah terengut paska Pemberontakan Kutaraja 1907. 

Seorang ahli sejarah Aceh meriwayatkan, setelah Sultan Aceh terakhir, Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah, yang turun gunung di tahun 1903, dia  terpesona dengan kemenangan Jepang atas Rusia di tahun 1905. Kemenangan bangsa Asia atas salah satu imperium Eropa itu, menyentak kesadaran Sultan, yang hampir sepanjang hidup terus terusir dari tanah kelahirannya, untuk kembali melawan. Korespondensi-pun, atas nama Sultan Aceh, kemudian dilakukannya.

Hal tersebut diketahui oleh Pemerintah Kolonial, setelah berhasil memadamkan pemberontakan di Kutaraja. Sultan dianggap terlibat. Surat menyurat itu dijadikan sebagai bukti untuk menghukumnya. Lalu, dia dibuang ke Ambon. Berikutnya ke Batavia.

Memang, di tahun 1930-an, Pemerintah Hindia Belanda, mencoba untuk melakukan restorasi Kesultanan Aceh. Hal yang kemudian ditolak oleh salah satu kelompok uleebalang (Reid, 2012). Sehingga kesultanan Aceh tidak kembali sampai saat ini.

Sultan Aceh yang terakhir itu pastilah tumbuh dengan ingatan. Yaitu ingatan tentang bagaimana Kerajaan Aceh Darussalam sebagai salah satu bagian dari kekuatan global. Yang memiliki hubungan dengan negara-negara besar di belahan dunia lainnya. Hal tersebut kemudian memudahkan kita untuk memahami, bagaimana Sultan Aceh itu, dengan cepat merespon kemenangan Jepang atas Rusia. Dia menyadari sama sekali, walau Aceh telah diporak-porandakan oleh Belanda, Kesultanannya itu masih menjadi bagian dari komunitas dunia.

Spirit ini yang selama ini luput dari ingatan kita secara kolektif. Sultan telah yang ditinggalkan oleh sejarahnya sendiri, oleh tanahnya sendiri. Bahkan anak cucunya telah menjadi tamu, bukan lagi tuan atas rumahnya.

Pada satu masa, Amir Husin Mujahid, Ketua Pemuda Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), pernah hendak mengambil kembali spirit perlawanan itu. Dalam sebuah safari politiknya (Fauzi, 2016), dia berjumpa dengan Sultan Aceh di Batavia. “Bertemanlah dengan Jepang.” Mujahid menangkap pesan itu dengan baik dan berkomitmen melaksanakan amanat itu.

Lalu, seperti yang dicatat oleh sejarah, demi memperjuangkan kedaulatan Aceh, PUSA menjadi organisasi terdepan untuk mengusir Belanda dari tanah Aceh dan memberi sambutan dengan syarat kepada Jepang.

Upaya-upaya untuk menyambut inspirasi dari Sultan Aceh itu yang mesti diterjemahkan oleh angkatan sekarang ini. Terutama oleh para anak cucu dan kerabatnya. Spirit itu tidak akan pernah padam. Walau Sultan Aceh badan sudah berkalang tanah. Tinggal bagaimana hal tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perubahan zaman yang sudah terjadi lebih dari satu abad setelah tersingkirnya Sultan.

Bahwa benar, feodalisme bukanlah jawaban untuk zaman yang demokratis ini. Namun sebuah simbol patut diketengahkan, sebagai bentuk penguatan identitas. Sebab yang diingat oleh masyarakat dunia adalah Aceh bukan sebagai provinsi, namun Aceh sebagai sebuah imperium di Asia Tenggara.

Hal tersebut pernah diceritakan oleh seorang aktivis sipil dari Aceh yang pernah melakukan lawatan ke Inggris. Dia kemudian bertemu dengan salah seorang aristokrat dari Inggris yang juga anggota parlemen di sana. Lalu memperkenalkan dirinya dari Aceh. Tanpa disangka, aristokrat itu mengatakan bahwa buyutnya dulu, adalah orang terdepan di parlemen Inggris dulu yang menentang invasi Belanda ke Aceh.

Kini, upaya merawat ingatan tentang Sultan Aceh terakhir sudah mulai digalakkan kembali. Setelah diawali dengan usulan mengangkatnya sebagai pahlawan nasional. Lalu baru-baru ini telah dilaksanakan pula bedah buku Ragam Cita Kota Banda Aceh karangan Kamal Arif, arsitek yang juga anak Abdullah Arif, salah seorang intelektual PUSA. Yang menjadi catatan, bahwa acara tersebut dilaksanan oleh organisasi Al Asyi. Sebuah komunitas, tempat berhimpunnya para keturunan Sultan Aceh. Sebuah hal yang patut disambut dengan positif. Sebab, pada hakikatnya, Sultan Aceh adalah milik semua masyarakat Aceh. Dan yang terpenting, inspirasi dan spiritnya harus menjadi tauladan bagi kita semua.

 

Komentar

    1. Post
      Author
  1. Mentari Aflaha Ridha

    Esai ini berbicara tentang peran politik dan kebudayaan yang terrenggut pasca pemberontakan kutaraja 1907.
    Ahli sejarah aceh meriwayatkan bahwa sultan alaidin syah terpesona dengan kemenangan jepang di atas rusia pada tahun 1905.Ingatan tentang bagaimana kerajaan Aceh sebagai salah satu baguan dari kekuatan global yang memiliki hubungan dengan negara negara besar di belahan dunia membuat kita mudah memahami bagaimana sultan Aceh merespon kemenangan Jepang atas Rusia.Feodalisme bukan lah jawaban untuk zaman yang demokratis ini.Kini upaya merawat ingatan tentang Sultan Aceh terakhir sudah mulai di tegakkan kembali.

    Kelebihan :Bagi saya sendiri,membaca tulisan tentang “Merawat ingatan tentang Sultan Aceh” sangat banyak manfaat nya,dari mulai terpesona nya Sultan Alaidin Syah atas kemenangan Jepang hingga berjumpa nya Ketua PUSA dengan Sultan Aceh.

    Kekurangan :Tulisan nya terlalu singkat,sedikit susah di pahami.

    Nama :Mentari Aflaha Ridha
    Nim :1032018022
    Prodi/Unit :PMA/1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *