Setelah Peristiwa Politik; Menimbang Poros Darussalam

Tjita-tjita yang terkandung didalam dada pemimpin-pemmpin dan rakjat Atjeh dengan pembangunan “Darussalam”, ialah karena dorongan dan kesadaran hendak mendjadikan hari-depan Atjeh, selaku bagian Republik Indonesia, kembali megah dan berbahagia seperti zaman-zaman kebesaran dahulu, dengan tudjuan, bahwa disamping akan mendjadi sebuah mata-air ilmu pengetahuan, “Darussalam” djuga merupakan suatu lembaga, dimana manusia-manusia baru jang berdjiwa besar, berbudi luhur, dan berpengalaman luas dilahirkan. (Ali Hasjmy, 1961)

Fisiknya memang semakin menua. Rambut putihnya yang lebat, menunjukkan betapa telah dia melalui panjangnya perlintasan kehidupan. Namanya adalah Ismail Thajeb, dosen tafsir di UIN Sunan Kalijaga. Saya aktif mengunjunginya, selama studi di Yogyakarta hampir satu windu yang lalu.
Dalam beberapa kali kunjungan, ingatan saya selalu ada pada dialog dan gagasan-gagasan yang dilontarkannya. Bersih, jernih dan tertib. Tampak darinya, telah lama dibina dengan latihan akademik yang ketat.

“Saya bisa bahasa Inggris, akan tetapi lebih lancar bahasa Perancis,” kataya suatu hari kepada saya,. Kalau bahasa Arab jangan ditanya, saat saya masih bersekolah di Jogjakarta, dia sedang mengalih bahasakan Tarjum Al-Mustafid karya Abdul Rauf Assingkili.

Dari Ismail Thajeb, banyak hal yang disampaikannya. Salah satunya, tentang rehabillitasi nama Tgk. Daud Beueruh, mengingat jasanya terhadap Republik. Sebab, menurutnya, bila tidak ada arahan Tgk Daud Beureuh, maka tidak ada Republik ini. Atas jasanya itu pula, sepatutnya Daud Beureuh diberikan gelar pahlawan nasional.

Suatu kali, dia bertanya, ”Kamu kuliah dimana?’ Saya jawab di UIN Sunan Kalijaga. Lalu saya menceritakan beberapa dosen di kampus itu, yang merupakan murid langsungnya. Seperti Prof. Minhajii, Prof. Amien Abdullah, Prof. Musa Asyari, Prof. Syamsul Anwar, Prof. Machasin, dan Noorhadi, Phd. Nama-nama di atas, sangat otoritatif dalam studi Islam.

Ismail Thajeb sendiri adalah generasi awal intelektual Aceh, yang melakukan migrasi ke pulau Jawa, akibat peristiwa politik. Apabila Teuku Jacob dan Teuku Ibrahim Alfian, kedua guru besar di UGM, melakukan migrasi paska revolusi sosial di Aceh. Ismail Thajeb, sebagaimana ceritanya, pindah ke Jogjakarta ketika peristiwa Darul Islam Aceh masih berlangsung. Dan, di Jogjakarta, Ismail Thajeb bertemu dan belajar kepada Hasbi Ash Sidiqie, ahli Islam Indonesia yang tersohor itu.

Hasbi Ash Sidiqie merupakan, seperti disampaikan oleh pakar Wahabinologi, Khairil Miswar, tokoh awal penganjur modernisme Islam di Aceh, bahkan sebelum Daud Beureuh.Oleh Ali Hasjmy, Gubernur Aceh setelah provinsi Aceh dipulihkan di tahun 1956, Hasbi Ash Sidiqie diminta menjadi Dekan Fakultas Syariah IAIN Ar Raniry yang baru dibentuk menjelang selesainya Darul Islam Aceh.

Adanya Hasbi Ash Sidiqie adalah bahagian dari proyek besar oleh Gubernur Aceh, setelah persitiwa politik kala itu; konsolidasi intelektual baru Aceh. Cara yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan para cerdik pandai dari Aceh yang tersebar di berbagai tempat. Dari pulau Jawa sampai luar negeri guna. memperkuat dua kampus di Darussalam yang baru saja didirikan, IAIN Ar Raniry dan Universitas Syiah Kuala.

Tercatatlah, untuk menyebut beberapa nama, seperti Ismuha dari Jogjakarta, lalu ada Usman Yahya Tiba yang menyelesaikan studi di Kairo. Sedangkan untuk Universitas Syiah Kuala, ada para intelektual baru seperi Ibrahim Hasan dan Syamsuddin Mahmud yang memperkuat Fakultas Ekonomi. Lalu juga ada Syamsuddin Ishaq yang membangun kampus IKIP Darussalam.

Ketika nama-nama tersebut hadir, wajah Darussalam belum-lah secantik sekarang. Kalau meminjam gambaran dari TA. Talsya, bukankah di gampong Rumpet, tempat bangunan kampus itu didirikan, pernah membuat bulu kuduk berdiri bila berpergian di malam hari.

Lalu, sambil menunggu selesainya pembangunan tempat tinggal, para dosen, menempati wisma Universitas Syiah Kuala, di sebelah barat lapangan Tugu Darusalam. Juga, sambil bekerja rutin sebagai pengajar di dua perguruan tinggi itu, para dosen itu membentuk kelompok studi. Tempat dimana mereka menyusun materi, mendiskusikan dan menulisnya secara serius. Dari kelompok studi itulah, lahir majalah ilmiah Sinar Darussalam. Majalah yang kemudian menjadi tempat konsolidasi para intelektual baru di Aceh dari kedua perguruan tinggi tersebut, mampu bertahan selama tiga dekade.
Lalu, baru-baru ini, Saiful Akmal, pengajar di UIN Ar Raniry dan salah seorang pendiri Padebooks melakukan konsolidasi intelektual juga, dengan disebutnya sebagai Poros Darussalam.

Poros Darussalam mengingatkan saya pada frasa Angkatan Darussalam yang pernah disampaikan oleh Ali Hasjmy ketika memberi sambutan pada peralihan Gubernur Aceh dari Teuku Hadi Thayeb kepada Ibrahim Hasan. Oleh Hasjmy, Angkatan Darussalam adalah sebagai penanda. Pijakan baru untuk Aceh. dia menyebut sebagai putra-putri Aceh yang lahir setelah tanggal 26 Mei 1959. Ketika Aceh sudah menjadi damai. Ketika Aceh sudah menjadi daerah istimewa.

Boleh dikatakan, Poros Darussalam di atas sebagai pelanjut semangat ke-darussalaman Ali Hasjmy itu sama sekali. Tentu saja dengan alam dan tantangan yang berbeda. Namun memiliki kesamaan; lahir setelah peristiwa politik. Apabila frasa Angkatan Darussalam ditengahkan 27 tahun setelah perundingan damai antara Dewan Revolusi DI/TII Aceh dengan pemerintah pusat, maka Poros Darussalam hadir untuk merespon setiap perubahan Aceh setelah 12 tahun MoU Helsinki.

Kita masih akan menunggu. Namun tentunya, setiap pihak perlu mengambil bagian. Dan tidak patut menjadi penonton belaka. Apalagi kehadiran Poros Darussalam ini juga bertepatan dengan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) yang ke 58. Sebuah momentum yang tentunya sudah tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *