Tembok Helsinki

26 Desember adalah cerita tentang gelombang besar. Menyapu apa yang ada di depannya. Gelombang itu membumbung tinggi. Hitam.

Lalu, ada yang tidak sama setelah gelombang itu hadir di pagi itu. Kehidupan kita berubah. Cara bicara kita berubah. Penglihatan kita berubah. Bahkan, ingatan kita pun ikut berubah.

Gelombang itu, Smong kata orang di pulau Simeuleu, memaksa yang bertikai duduk semeja. Mengenyampingkan terlebih dahulu tentang ide politik. Sesuatu hal yang pertengkarkan. Gelombang itu, ternyata memembuat apa yang disengketakan selama tiga dekade berhenti lebih cepat. Jadi, membicarakan 26 Desember, juga membuka percakapan tentang 15 Agustus. Bukan di Banda, tapi di Helsinki. Penanggalan waktu yang kini dijadikan sebagai frasa baru dalam kamus politik di Aceh.

Helsinki, ditambah istilah asing di depannya, MoU, adalah cara baru untuk membaca Aceh. Ia nya menjadi kode. Bahkan menjadi timbangan, dari apa-apa yang hendak dilakukan. Helsinki menjadi standar.

Para elite menggunakan itu sebagai retorika politik, ketika hendak merumuskan sebuah agenda. Namun bagi rakyat digunakan untuk memperbaiki hidupnya yang selalu sengsara. Helsinki pun kemudian diperebutkan.
Diperebutkan karena Helsinki menjadi klaim. Tentang siapa yang paling Aceh. Sekaligus tentang siapa pula yang menjadi judas. Maka, semakin Aceh seseorang, maka teriakannnya pun semakin nyaring: MoU Helsinki.

Namun tidak seperti Lamteh, yang dimiliki dalam ingatan banyak orang. Menyebut Helsinki, seperti mengucapkan frasa asing.

Memang asing. Tidak seperti Lamteh yang wilayahnya ada di pinggirn Banda Aceh. Helsinki adalah negeri nun jauh. Tidak ada teriakan Pawang Leman di sana yang gusar karena pembicaraan perdamaian menjadi alot. Yang ada adalah pembicaraan di tengah hawa dingin, dibawah penglihatan pihak ketiga.

Tidak seperti Lamteh yang ditegaskan dengan tiga butir gamblang. Helsinki dirumuskan lebih detil. Tentang apa dan bagaimana Aceh setelah perang dihentikan. Namun, Helsinki bukan sekadar itu. Ia kemudian menjadi tembok tinggi yang menutup horison kita kepada masa lalu.

Aceh kemudian menjadi semakin pendek. Helsinki, dengan segala histerianya, telah membuat Aceh menjadi ironi. Sebagai entitas yang selalu saja terhubung dengan masa lalunya, Helsinki malah memotong hal itu sama-sekali.
Akibat yang ditumbulkan tidak sederhana. Absennya masa lalu, seperti peranan berbagai elemen sipil, referendum, pejuang HAM, produksi pengetahuan di Darussalam, Lamteh, Revolusi dan tumbuh kembangnya gerakan modern, membuat kita kemudian gagal membangun sebuah gagasan yang utuh tentang Aceh yang baru paska Perang. Tembok semakin menjulang dan pekat.

Namun semakin waktu berjalan, ternyata tembok itu dapat dijebol. Ia semakin rapuh. Atau yang mendobraknya semakin kuat.

Kehendak sejarah memang tidak dapat ditolak. Kelompok baru yang tumbuh di Aceh secara kolosal, terutama kaum terdidik — optimisme terhadap angkatan itu tanpa putus, mulai menghendaki hal tersebut. Ini menjadi ironi berikutnya. Helsinki-lah yang mencetak mereka — seperti adigium revolusi memakan anaknya sendiri, malah kemudian memakan induknya pula.

Tembok yang mulai rubuh, dan tidak akan lama lagi akan ambruk itu, megingatkan betapa penanda harus dirawat, dipupuk bahkan dimitoskan. Seperti ketika Angkatan 45 hendak berakhir, dengan cepat, diberi penanda baru, yang dinamakan Angkatan Darussalam.

Lalu, bila sejarah sudah menghukum, kita bisa apa? Ketika penanda Helsinki itu gagal dirawat, kita bisa apa? Kecuali berkata bahwa Helsinki pernah menjadi sebuah milestone. Tentang cara kita berfikir dan bertindak, pada satu masa. Namun setelah itu berakhir, sepertinya kita harus kembali membuat jalan baru. Jalan untuk zaman baru pula.

Komentar

  1. Ulfa Khairina

    Bagaimanapun, Helsinki adalah awal dari sejarah. Bagi orang Aceh Helsinki bukan saja berbicara tentang sejarah perdamaian. Tapi awal hidup baru dengan gaya baru. Dimana euforia kebarat-baratan juga mulai mempoles wajah Aceh lebih bling bling.

    Jumpa lagi di dunia maya Bang Alkaf. Setelah lama tak melihat di kampus.

    1. Post
      Author
  2. Syauqas Rahmatillah

    * Karena seharusnya helsinki tidak hanya menjadi catatan dalam sejarah. Justru harus dipupuki dan dilandasi dalam setiap jiwa penerus bangsa. Agar tembok yang semakin menjulang dan pekat dapat terus terjaga dengan pemikiran idialisme setiap anak bangsa.
    Karena helsinki bukanlah tentang siapa yang paling aceh. Tetapi tentang sesulit apa kita berjuang bersama dan mendapatkan perdamaian yang selama ini kita harapkan. Hal itulah yang seharusnya kita ingat agar kehidupan dan ketentraman warga aceh khususnya dapat lebih terjaga .

    * PAPER ini Sangat menarik, memberi wawasan luas bagi generasi muda untuk lebih memahami tentang sejarah bagaimana awal mula helsinki terbentuk.

    * Pembahasan terlalu luas hingga sedikit sulit dipahami bagi generasi penerus ( pembaca pemula ) yang sedikit tahu tentang sejarah yang sedang dibahas .

  3. Syahruni

    Karena pada dasarnya helsinki bukan untk menjadi sejarah dalam kehidupan bangsa indonesia terutama di aceh. Sejarah ini harus dipertahankan dan ditanamkan dalam diri setiap generasi penurus. Bukan tentang siapa yg paling aceh sekali. Tapi tentang siapa yang bisa menghargai perjuangan dan kerja kerasa orang sebelum kita untuk memulai kehidupan baru di fase mou helsinki terjadi. Karena siapapun yang tinggal di provinsi aceh berharap hidup damai dan tentram. Jangan sampai hal yang zaman dulu terjadi lagi. Alangkah lebih baik apabila aceh ini menjadi salah satu provinsi yang sangat aman dan tentram yang ada di aceh. Dan semoga aceh tidak terlalu membuka peluang untuk orang asing merubah budaya yang ada di aceh

    Pembahasan yang bagus. Jujur saya belum pernah tau apa itu helsinki. Saya baru tau hari ini. Tapi begitu saya membaca saya langsung bisa membayangkan apa yang terjadi sebelumnya. Dengan bacaan ini saya menjadi lebih banyak mengenal sejarah yanh ada diaceh. Bukan hanya mengenal tapi saya bisa membuat diri saya dan teman2 saya menjadi orang yang harus menghargai sejarah yang ada di indonesia terutama di aceh.

    Hanya aja ditulisan ini penjelasanya belum terlalu melebar. Sehingga membuat saya harus mencari informasi dari website lain. Mungkin dengan ditambahkan lagi informasi tentang helsinki tulisan ini akan menjadi tulisan terbaik yang saya baca.

    Terima kasih

  4. Diajeng Hafizah Putri Ayu

    Helsinki bukan hanya jadi catatan sejarah juga tentang perdamaian yang harus di pupuk agar terus terjaga dalam idealisme

  5. Diajeng Hafizah Putri Ayu

    Helsinki bukan hanya jadi catatan sejarah juga tentang perdamaian yang harus di pupuk agar terus terjaga dalam idealisme. Karena Helsinki bukan tentang siapa yang paling Aceh dan paling judes tetapi tentang seberapa besar kita berjuang untuk menjadi Aceh yang sesungguhnya agar kehidupan Aceh menjadi lebih tentram dan damai.

    Kelebihan : esai ini sangat menarik dan menambah wawasan yang luas untuk generasi muda. Dengan tulisan ini saya ( generasi muda ) lebih mengetahui sejarah Aceh,serta dapat membayangkan bagaimana peristiwa yang terjadi pada masa itu.

    Kekurangan : tulisan ini kurang rinci mengenai halinski sehinhga saya harus mencari informasi dari situs lain.

  6. Diajeng Hafizah Putri Ayu

    Setelah 26 Desember keadaan Aceh berubah pesat. Helsinki lalu menjadi catatan sejarah yang terus di perebutkan, tentang siapa yang paling Aceh dan siapa yang paling judes. helsinki bukan hanya merubah cara pandang namun juga merubah cara fikir tentang berapa besar cara kita berjuang demi kedamaian dan perdamaian Aceh. Kini helsinki menjadi primadona bagi kaum elite.

    Kelebihan : esai ini sangat menarik, memaparkan tentang sejarah Aceh yang sebagian besar generasi muda tidak mengetahui hal itu.

    Kekurangan : esai yang kurang rinci membuat saya harus mencari informasi dari situs lain mengenai helsinki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *