Bang Fuad yang Saya Kenal

DI ACEH, sedikit orang yang namanya selalu saja hadir dan dibicarakan selama dua dekade. Sebab untuk sampai pada maqam itu, yang bersangkutan harus memiliki keunikan diri, sekaligus konsistensi atas sesuatu yang diyakini. Sebab zaman, tidak memiliki tempat bagi orang yang mencla-mencle. Namun, zaman selalu memiliki tempat kepada mereka yang selalu percaya terhadap keyakinannya. Sekaligus memperjuangkannya.

Di antara sedikit nama itu, Fuad Mardhatillah adalah salah satunya.

Saya, dan juga kebanyakan yang lain, menyapanya dengan panggilan egaliter, Bang Fuad. Dari fisik, badannya tidak terlalu tinggi, gempal dan memiliki kumis, yang terus dipeliharanya sedari muda. Orangnya terlihat bugar dan menarik kalau sudah berbicara. Tutur bahasa Indonesia rapi dan fasih.

Ketika masih berkuliah di IAIN Ar-Raniry, saya sering melihatnya beranjak dari rumah yang berada di kompleks kampus Darussalam dengan vespa biru tua. Terkadang dengan jeans dan ransel. Sangat casual, untuk ukuran dosen di IAIN, yang saat itu sering berpenampilan formil.

Di kalangan mahasiswa, Fuad menjadi dosen favorit. Selain karena lontaran-lontaran pikirannya yang bernas dan sering menggugah, juga pemurah akan nilai mata kuliah.

Walau tumbuh dari keluarga elit modern baru — ayahnya Usman Yahya Tiba adalah alumnus Kairo, Mesir  dan menjadi dosen angkatan pertama di IAIN Ar Raniry, Banda Aceh– Fuad muda  tumbuh menjadi pemberontak. Pemberontakan pertama adalah keengganannya untuk bersekolah di madrasah, yang menjadi pilihan ayahnya.

Ceritanya, setamat dari sekolah dasar, anak-anak dari dosen di kampus Darussalam harus melanjutkan sekolah ke kota. Saat itu, di tahun 1970-an, angkutan umum sangat terbatas. Hanya ada bus sekolah yang dikenal dengan nama robur.

Namun, di antara kawan-kawannya, hanya Fuad yang bersekolah di madrasah. Sedangkan yang lain di sekolah umum negeri. Gara-gara itu, Fuad selalu disoraki oleh teman-temannya, karena bus robur yang mereka tumpangi terlebih dahulu melewati tempat Fuad bersekolah. Lama kelamaan, hal tersebut membuat Fuad kecil jengah. Lalu, mulai melakukan protes kepada ayahnya, untuk minta dipindahkan sekolah negeri umum, bersama-sama temannya yang lain.

Padahal maksud dari Usman Yahya menyekolahkan anaknya itu ke madrasah adalah untuk mengikuti jejaknya sebagai ahli Islam. Walau keinginan itu akhirnya dikabulkan oleh Fuad. Di tahun 1996, dia melanjutkan studinya tentang Islam. Namun bukan seperti ayahnya yang ke pergi Mesir, melainkan ke Barat, di Mc Gill University, Kanada.

 

SAYA mengenal Fuad di tahun 1999, dalam satu acara seminar yang diadakan oleh Tim Pengelola Ceramah Agama SMA 3 (TPCA) Banda Aceh. Bersama Shafwan Idris,Fuad Mardhatillah menjadi salah seorang pembicara. Saya masih ingat betapa dia dengan santai,  tajam dan serius dalam menyampaikan pandangan-pandangan politiknya. Namun tidak pula risau dengan perbedaan pendapat.

Saya masih ingat, ketika dia masih berbicara, saya mengangkat tangan, untuk menginterupsi pernyataannya. Padahal sebelumnya, sebagai peserta, saya sudah bicara panjang lebar. Tidak ada yang melihat interupsi saya itu, kecuali Fuad. Dan, lagi-lagi, dengan santainya, dia memberi kode kepada moderator bahwa ada peserta yang mau berbicara lagi. Padahal dia tahu saya mau membantah apa yang dia sampaikan itu.

Caranya menghargai setiap pemikiran yang berbeda itu, benar-benar saya temukan di tahun-tahun 2003. Saat itu, saya dan beberapa teman aktif mengadakan diskusi rutin dan belajar menulis di rumahnya. Keinginan itu diresponnya dengan serius. Bahkan dengan khusus, Fuad membuat satu balai yang akan menjadi tempat kami berdiskusi. Balai itu dinamakannya sebagai Rausyan Fikr. Istilah yang diperkenalkan oleh salah satu tokoh revolusi Iran, Ali Syariati.

Dalam perjumpaan yang intensif itu, Fuad selalu menekankan satu hal kepada kami, yaitu kemerdekaan berfikir. Baginya berfikir haruslah dioptimalkan. Sebab kalau tidak, akan diombang-ambing oleh segala kebodohan. Kepercayaannya kepada kekuatan nalar juga ditunjukkan kepada penolakannya segala bentuk ekstrimisme dan fanatisme buta. Baginya, kedua hal itu mengancam kemerdekaan berfikir dan juga sikap moderasi.

Sebagai intelektual, Fuad menolak berada di atas menara gading. Bahkan dia mengecam perilaku demikian. Dia percaya bahwa menjadi intelektual itu harus berada di tengah-tengah masyarakat. Jadi, ide, gagasan dan pemikiran, harus digerakkan. Tidak boleh berhenti pada buku teks-teks belaka. Sehingga baginya, menjadi intelektual haruslah sekaligus menjadi aktivis. Itulah mengapa, sebagai intelektual, dia menulis banyak makalah, artikel dan berbicara di berbagai seminar. Lalu sebagai aktivis, dia ikut menjelaskan setiap gagasannya dalam bingkai aksi. Sehingga, di tahun-tahun pancaroba politik Aceh, Fuad menjadi salah satu pusaran pembicaraan tentang gagasan dan pergerakan sekaligus.

Selamat ulang tahun, Bang Fuad.

Komentar

  1. Siti aisyah

    Menurut saya ceritanya sangat menarik dan terinspirasi. Karna dengan membaca cerita Bg fuad ini kita dapat mengambil hal yang positif, bahwa kita wajib menghargai pendapat orang lain, walaupun pemikiran yang berbeda. Dan berfikir itu harus dioptimalkan karna akan diombang ambing oleh kebodohan.

  2. Siti aisyah

    Menurut saya cerita ini sangat menarik dan terinspirasi. Karna dengan membaca cerita Bg fuad ini kita dapat mengambil hal positif. Bahwa kita harus menghargai pendapat orang lain walaupun pemikiran yang berbeda. Dan berfikir itu harus dioptimalkan, karna diombang ambing oleh kebodohan.

    Kekurangan cerita ini menurut saya , biografinya kurang lengkap.

    Kelebihannya cerita ini walaupun singkat tapi sangat menarik.

  3. Rizky Fajar Kinanti

    Kita sebagai seorang anak lebih tau dimana kemampuan dan apa yang kita ingin kan , tetapi saran orang tua juga sangat penting untuk kita . Hargai setiap pendapat atau saran yang di berikan untuk kita dan cari jalan tengah untuk menyelesaikan nya . Buktikan bahwa kita mampu sukses dengan cara dan jalan kita masing masing .
    Kelebihan: cerita nya sangat menarik dan dapat memotivasi pembacanya
    Kekurangan: bahasanya kurang baku dan sedikit sulit dimengerti

  4. Rizky Fajar Kinanti

    Kita sebagai seorang anak lebih tau dimana kemampuan dan apa yang kita ingin kan , tetapi saran orang tua juga sangat penting untuk kita . Hargai setiap pendapat atau saran yang di berikan untuk kita dan cari jalan tengah untuk menyelesaikan nya . Buktikan bahwa kita mampu sukses dengan cara dan jalan kita masing masing Tanpa harus mengecewakan orang lain.
    Kelebihan: cerita nya sangat menarik dan dapat memotivasi pembacanya
    Kekurangan: bahasanya kurang baku dan sedikit sulit dimengerti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *