Ke Aceh dari Blitar: Esai untuk Saiful Hakam

SAIFUL Hakam suka berbicara. Oleh para koleganya, dia dipanggil mas Hakam, atau “Kam” saja. Orangnya sopan. Dia selalu mencium tangan orang yang lebih tua di LIPI, kantor tempatnya bekerja. Bagi Hakam, kantornya seperti pesantren. Peneliti senior adalah para kyai, sedangkan dia santrinya.

Di LIPI, hampir semua orang seperti mengenalnya. Kantor yang megah itu, tidak membuatnya menjadi gaib. “Pak Saiful Hakam di gedung bundar pak, Lantai delapan,” kata frontdesk yang menjawab pertanyaan saya ketika kali pertama mencarinya.

Di LIPI, setiap peneliti mendapatkan ruang masing-masing. Tidak terlalu besar.

Di ruang kerjanya, ada bendera RRC yang digantung. Juga tumpukan buku dengan tema-tema sejarah, politik dan budaya Cina. Hakam pernah tujuh bulan ke Cina untuk belajar bahasa mandarin. Bahasa yang tidak pernah dikuasainya sampai sekarang.

“Saya tidak bisa bahasa mandarin. Bahkan untuk berbicara-pun, saya melakukannya di bulan ke enam. Namun saya selalu hadir di kelas bahkan sebelum gurunya datang. Jadi ibaratnya, saya ini adalah murid bodoh yang rajin,” ujarnya tanpa beban.

Cerita tentang China itu, saya mendapatkan buku darinya. Buku tentang China juga. “Ini bung, orang ini adalah bangsawan, tapi menjadi tokoh utama revolusi di Tiongkok,” sambil menunjukkan buku Zhou Enlai.

Revolusi adalah sabda. Dia tahu, saya menyenangi topik itu, sama sekali.

Saya diajak berkeliling gedung LIPI yang megah itu. Diperkenalkan dengan siapapun yang bertemu di sana. Secara khusus, dia bahkan mempertemukan dengan salah seorang peneliti asal Aceh. Setelah itu, saya, diajaknya bertemu dengan koleganya  yang lain.

Kami naik satu lantai. Di ruang yang lain., tiga orang yang menunggu. oleh Hakam, saya diperkenalkan satu per satu. “Bung, kawan kita ini dari Jambi. Dia intelektual partikelir.” Orang yang diperkenalkan pun menjabat tangan saya. Dari cerita Hakam, sekarang dia sedang mengumpulkan karya-karya  tentang Jambi. Saya berfikir, “ini orang hendak membangun Jambinologi.”

Hakam rupanya ke ruangan itu hendak berdongeng. Dia pintar untuk hal itu, menarik perhatian orang untuk menyimak. “Kita tidak pernah mengenal konsep kota sebenarnya,” begitu dia memulai sabda. Yang lain tergelak. Satu yang hadir rupanya wartawan. Dia mencatat dengan serius. Padahal, saya tidak yakin Hakam itu serius, kecuali ketika dia memesan kopi ketika datang tawaran dari staf pantry.

 

HAKAM dari Blitar, Jawa Timur. Menurutnya kota itu adalah penting bagi Indonesia setelah Jakarta.

“Karena di Blitar ada makam Bung Karno,” katanya.

Di tahun 2000 dia menjadi mahasiswa Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah UGM. Hal yang membuatnya bertemu dengan Prof. Ibrahim Alfian. Hakam menjadi khadamnya. Saat itu Ibrahim  sudah pensiun. Tapi masih mengajar dan membimbing mahasiswa pascasarjana.

“Fakultas sejarah adalah lingkungan yang kecil, namun memiliki para pengajar yang berdedikasi,” katanya.

Prof. Ibrahim adalah mahasiswa angkatan pertama di Fakultas Sastra. Langsung di bawah bimbingan Prof. Sartono Kartodirdjo. Ketika Sartono menyelesaikan disertasi di Belanda mengenai pemberontakan petani, Ibrahim menyusul ke negeri itu. untuk membantu gurunya itu. Dari tangan Ibrahim pula, kita mengenal Kuntowijoyo, sejarawan cum budayawan itu.

Di Fakultas Sejarah Hakam dididik menjadi sejarawan. Namun dia enggan didapuk sebagai sebagai  sejarawan, “aku belum punya buku,” katanya satu waktu.

Pertemuannya dengan prof. Ibrahim telah membuatnya mengenal Aceh. Tapi menurut saya lebih dari hal itu. Dia bersimpati untuk Aceh dengan dalam. Dari Ibrahim dia mendapatkan Aceh secara lebih utuh. Ketulusan Ibrahim kepadanya membuat dia seperti memiliki  tanggung jawab besar kepada Aceh.

Kepada saya selalu diserukan, “Bung, lihatlah Selat Malaka!” Atau, “Aceh lebih dekat dengan China, juga India.” Yang menggelikan, “Bung terlampau cinta Jogja.”

Dia melihat bahwa Aceh dan Jawa memiliki kesamaan. Para intelektualnya sama-sama hafal cerita raja. Seperti di Jawa, intelektualnya hafal nama sultan-sultan di Mataram, Aceh pun begitu. Dan, memang benar perkataannya itu, tidak ada orang Aceh yang tidak mengenal Sultan Iskandar Muda.

Namun, hemat saya, Hakam adalah model intelektual yang mulai tersisih dari poros pembicaraan. Ada beberapa nama lagi yang demikian. Mereka yang memiliki ketajaman bacaannya, kedalaman refleksinya, harus tersingkir, setelah slogan “menurut data” dan “dari hasil survey yang sekian persen itu” merangsek begitu jauh dalam percakapan intelektual akhir-akhir ini. Padahal, kita tidak terlalu membutuhkan hal itu. Sebab angka, atau apa yang disebut data adalah hanya cara bantu saja. Karena sebenarnya, yang kita butuhkan adalah penyelaman lebih  jauh tentang setiap gejala yang tampak, serta berusaha menangkap maknanya. Dan hal itu, dimiliki oleh Hakam.

 

 

 

 

 

 

Komentar

  1. Fina eldiana

    Saiful hakam bisa kita liat beliau orang yg sangat baik, suka berbicara dan sopan.
    Sehingga bisa kita liat apa yg kita ketahui bahwa Aceh dan Jawa memiliki kesamaan. Para intelektualnya sama-sama hafal cerita raja. Seperti di Jawa, intelektualnya hafal nama sultan-sultan di Mataram, Aceh pun begitu. Dan sebagaimana kita ketahui pendidikan ialah hal yang sangat penting untuk membangun bangsa ini lebih baik lagi
    Kelebihan dan kekurangan
    Tidak ada kelebihan atau kekurangan dalam artikeel ini semuanya sudah bagus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *