Mencari Aceh di Fakultas Kopi

BANGUNANNYA bergaya vintage dan bertingkat dua. Memiliki halaman parkir yang memadai untuk mobil dan sepeda motor. Untuk menandai nama tempat ini, tepat didepan bangunan, diletakkan plang nama, dengan tulisan terang: Fakultas Kopi. Tempat ini adalah cara untuk menikmati kopi yang datang dari Aceh. Wilayah di Indonesia dimana segala hal tentang kopi itu berasal. Untuk menegaskan hal itu, di salah satu bagian dinding, tertera peta letak dua jenis tanaman kopi: Robusta dan Arabika. Dua jenis itulah yang menjadi sajian utama di tempat ini.Meja dan kursi hampir memenuhi ruangan. Untuk kenyamanan pengunjung, juga dibuatkan ruangan untuk yang tidak merokok. Tapi ruang untuk merokok lebih luas. Karena merokok memang tidak dilarang. Sebab, menurut hikayat, merokok adalah cara terbaik untuk menyeruput kopi.

Tempat itu memiliki halaman samping dan belakang. Ada tanah yang lebih luas yang dimanfaatkan untuk para pengunjung. Beberapa meja diletakkan di halaman luar. Ini merupakan lokasi favorit. Pengunjung lebih memilih berada di situ. Bergerombol.

Untuk menjadikan suasana terasa di Aceh. Dibangunkan juga tempat lesehan yang luas. Di Aceh dikenal dengan nama balee (balai). Oleh pemiliknya, Fakultas Kopi dibangun semirip mungkin dengan warung kopi di Aceh. Dari suasananya sampai dengan cara rasa penyajian kopi dan juga kuliner lainnya.

Dengan setting demikian, Fakultas Kopi pun menjadi melting pot bagi orang Aceh yang di Jakarta. Atau yang sedang di Jakarta. Untuk menunjukkan hal itu, dari meja demi meja, akan selalu ada pengunjung yang bertutur dalam bahasa Aceh.

 

“KITA jumpa nanti malam ya. Tidak usah pulang, bergadang kita malam ini, “kata Junishar, pemiliki Fakultas Kopi. Dia katanya hendak mengawasi renovasi dapur baru di kedai kopinya. Setelah sampai, dia masih terlihat sibuk. Bertemu dengan para pekerja di kedainya berulang-ulang. “Saya sedang memberikan pengarahan. Ada sedikit ketegangan di antara mereka. Jadi harus membereskannya terlebih dahulu.”

Junishar tidak berasal dari keluarga kedai kopi. Dia seperti anak lelaki Aceh lainnya yang tumbuh sebagai penikmat kopi. Keberaniannya untuk memulai bisnis kopi, disebabkan karena dia kehilangan tempat meminum kopi Aceh ketika bekerja di Medan di tahun 2007, sehingga memutuskan membuka kedai kopi sendiri. “Saya juga melihat orang lain memerlukan tempat minum kopi di Medan saat itu.”

Dia pun kemudian mendirikan keudai kopi yang dinamakan Uleekareng.

Uleekareng adalah salah satu tempat di Kota Banda Aceh, yang memiliki banyak warung kopi terkenal. Tempat di mana tradisi minum kopi di Aceh begitu kuat. Beberapa kedai kopi telah menjadi tempat laki-laki segala umur berkumpul. Ketika masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh, kedai-kedai kopi di Uleekareng menjadi tempat para pekerja kemanusiaan. Solong salah satunya. Tempat Junishar mengenal kopi.

Tidak lama mengelola kedai kopi Uleekareng, merk itu dijualnya. Lalu dia mendirikan Fakultas Kopi. Tahun 2015 dia memutuskan untuk melakukan ekspansi bisnisnya itu ke Jakarta. Berawal lokasi di Han Tuah, kini sudah pindah ke kawasan elit di Setia Budi.

Di Jakarta, dia melakukan terobosan baru, menjual kopi dari jenis Arabika. “Saya mulai menjual kopi jenis Arabika ketika memulai. Ini kopi kita. Jenis yang tumbuh di Gayo, Namun selama ini kita tidak memiliki keberanian meminumnya. Sehingga mengekspornya ke Eropa.”

Robusta dan Arabika adalah dua jenis kopi yang tumbuh di Aceh. Kedai-kedai kopi di Aceh dalam jangka waktu yang lama didominasi oleh jenis yang pertama, yang tumbuh di Lamno, salah satu wilayah di Aceh bagian barat. Namun sejak tahun 2007, jenis Arabika mulai dilirik dan menjadi cara baru minum kopi di Aceh. Termasuk di kedai kopi kepunyaan Junishar.

“Bagi saya, hal tersebut bukanlah perubahan selera, melainkan kesadaran baru. Kalau selera bisa cepat kembali berubah. Sedangkan kesadaran tidak. Kecuali ada hal baru yang datang. Memang, minum kopi itu seperti agama,” Junishar menjelaskan.

Fakultas Kopi mulai diarahkan dengan manajemen modern. Para pekerja digaji dari hasil penjualan. Semakin tinggi penjualan semakin tinggi penghasilan yang didapat. Lalu sebagaimana sebuah bisnis, selalu tidak pernah ingin berhenti. Begitu juga dengan Junishar, yang sudah memikirkan beberapa perkembangan baru dari usahanya itu.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *