Menjadi Jubir di Zaman Internet

Bagi yang pernah hidup di zaman Orde Baru, tentulah  pernah dibayangi oleh dua orang ini, Harmoko dan Moerdiono. Keduanya adalah penyambung lidah Suharto. Harmoko adalah Menteri Penerangan, sedangkan Moerdino bertindak sebagai  Mensesneg.

Keduanya tidak hanya hadir, melainkan menghantui. Sebab, kita saat itu, tidak tahu jadwal kemunculan mereka. Lagi asyik menonton TVRI, menunggu berbagai acara: Selekta Pop, Film Akhir Pekan, Anekaria Safari, mereka muncul dengan seenaknya. Acaranya pun tidak tidak tanggung-tanggung, Laporan Khusus.

Oleh Harmoko kita dipaksa mendengar keberhasilan pembangunan ala Orde Baru. Mulai dari harga cabe sekian, harga beras sekian, harga kedelai sekian. Tentu saja, dengan penggunaan frasa khasnya: Menurut Petunjuk Bapak Presiden. Sedangkan Moediono berbicara dengan tergagap dan lambat. Setiap kata yang hendak disampaikan sepertinya dipikir dengan mendalam.

Kedua orang ini, cukup lama bertahan sebagai penyambung lidah Suharto. Keduanya menyampaikan apa apa yang kehendaki presiden. Tepatnya, Harmoko dan Moerdiono bertindak sebagai spokesman atau  Juru Bicara (Jubir). Walau Suharto tidak pernah menggunakan istilah demikian.  Dalam tradisi kepresidenan setelah reformasi, Gus Dur-lah yang mempopulerkan istilah tersebut.

Tidak lama setelah pelantikannya sebagai presiden, Gus Dur mengangkat juru bicara, salah satunya, Wilmar Witoelar, seorang pejuang demokrasi dan kritikus utama Suharto. Uniknya, sebelum itu, Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan, tempat yang dulunya Harmoko menyampaikan setiap titah Suharto. Menurut Gus Dur, lembaga itu,  penghambat kebebasan berpendapat dan ikut mengontrol rakyat berbicara.

Mengangkat juru bicara oleh Gus Dur, awalnya dimaksudkan untuk menjembatani komunikasi presiden dengan masyarakat. Gus Dur, sebelum menjadi presiden, kerap disalah pahami. Pikiran-pikirannya terkadang menyulut emosi dengan protes. Kalau kata-kata demikian, diucapkan olehnya sebagai cendekiawan atau pejuang demokrasi adalah sah-sah saja. Namun, kalau hal demikian berlanjut oleh Gus Dur, sebagai presiden Republik Indonesia, bisa-bisa bubar ini negara.

Lalu kini, entah ide dari siapa, seorang Gubernur di Aceh juga memiliki jubir. Tidak hanya satu melainkan dua. Irwandi,Yusuf memiliki Saifullah Abdulgani dan Wiratmadinata. Yang disebut pertama adalah seorang birokrat tulen. Pada periode pertama Irwandi memimpin, dia menjadi juru penerang program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) itu.  Sedangkan Wiratmadinata adalah aktivis sipil, seniman dan belakangan menjadi politisi. Namun yang menarik bahwa jubir ini diangkat ketika hiruk pikuk di dunia media sosial begitu kentara. Setelah internet telah mengubah landscape komunikasi kita.

Pertumbuhan internet cepat, dengan produk-produk seperti media online, media sosial dan layanan pesan. Wajah dunia seperti ini mungkin tidak pernah dibayangkan 20 tahun sebelumnya. Kita terhubung dengan cepatnya. Sekaligus ikut menggantikan pola interaksi yang lama. Arena pertempuran pun berubah, dari dunia nyata ke dunia maya.

Melalui media sosial misalnya,  masyarakat dapat bertanya langsung kepada kepada Gubernur tentang berbagai hal. Bahkan, tidak hanya bertanya, namun juga dapat bersuara keras

Sebelum zaman internet, pola komunikasi begitu berjenjang dan berlapis, kini dengan gampang ditembus. Kita ingat, dahulu komunikasi terkadang hanya satu arah. Contoh dari zaman Orba di atas adalah buktinya. Dimana pemerintah memiliki kekuasaan tidak terbatas, rakyat hanyalah pendengar yang harus manut.

Saat itu juga meja redaksi masih berkuasa, menjadi penentu tentang apa saja yang patut dikabarkan, apa pula yang tidak. Ada sisi baik dari hal itu. Misalnya verifikasi semakin detil. Namun negatifnya, dapat  menjadi kesempatan rezim, ketika media menjadi kolaborator, untuk mengontrol informasi dan berfikir masyarakat.

Kita tentu masih ingat ketika rezim Orde Baru berkuasa, informasi yang disajikan hanya dari versi pemerintah. Tidak boleh ada informasi yang berbeda. Hal yang berbeda di zaman ini, ketika internet hadir melalui penyediaan layanan penyampai pesan, sms, line, whats’ app.  Atau dengan media sosial seperti facebook, twitter dan instagram.

Singkatnya, dua jubir Gubernur Aceh di atas, berhadapan dengan masalah tersebut. Hal yang tidak dihadapai oleh Harmoko, Moerdiono dan Wilmar Witoelar. Kini, semua orang sudah menjadi produsen informasi, yang sering tanpa verifikasi. Oleh karenannya, perlu kecakapan tinggi untuk menghadapi zaman gelombang informasi seperti ini. Tanpa itu, maka jembatan komunikasi pemimpin dengan rakyatnya akan terputus. Memang, menjadi jubir di zaman internet itu susah.

Tulisan ini sudah dipublikasikan di Harian Waspada, 10 Februari 2018

Komentar

  1. Muhammad Abdillah

    Pendapata saya: Pada masa sebelum reformasi internet serta media sosial belum berarti atau masalah bagi seorang jubir pada masa itu karena masyarakat tidak menyampaikan pendapat secara langsung dan pemerintah memiliki kekuasaan tidak terbatas dan rakyat hanya sebagai pendengar, kita hanya dapat di dunia nyata tidak melalui dunia maya. Sedangkan sekarang masyarakat dapat bertanya langsung kepada gubernur dan dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyularkan pendapat. Sekarang informasi tidak hanya dapat dari surat kabar. Dan menjadi jubir pada masa sekarang lebih harus pandai dalam berbicara dan pola fikir karena lebih banyak mendapat serangan dari masyarakat.
    Kelebihannya: Menurut saya internet dan media sosial media sangat bagus bagi masyarakat apabila menggunakan dengan baik, karena masyarakat dapat mengetahui informasi tidak hanya dari surat kabar saja. Kita pun dapat berfikir luas dalam politik di indonesia ini. Saya sangat suka dengan isi tulisan dari bapak ini.
    Kekurangannya: Sejauh ini saya baca tidak ada kekuranganya saya masih dapat memahami apa yang bapak nulis.

  2. nursyakira

    Saat ini indonesia telah mengenal dengan adanya media sosial,media sosial sebagai sarana untuk mengembangkan diri,menjalin komunikasi dan sebagainya,mungkin pada tahun 1980 an masyarat tidak membayangkan dunia akan berubah sedemikian rupa seperti saat ini,mereka masih mengandalkan jubir untuk berkomunikasi,sekarang dengan adanya media sosial masyarat lebih leluasa untuk menyampai kan dan melihat langsung informasi yang telah terjadi saat itu,bahkan masyarat bisa langsung mengeluarkan pendapatnya melalui media sosial tanpa harus mengandal kan orang lain untuk menyampaikannya,saat ini dunia semakin canggih dengan perubahan zamannya,mungkin 20 atau 30 tahun kedepan dunia akan terus berkembang dengan hal hal yang tidak pernah terfikirnya sebelumnya.
    Sekarang semua tergantung pada diri kira pribadi,media sosial ini membutuhkan pengguna yang cerdas dan bijak serta mengontrol dirinya,dari media sosial kita terkadang dengan mudah kita tidak sadar menceritakan,mengemukakan sesuatu pada masyarat,hingga akhir nya berpeluang menjadi sasarn tembak para pelaku kejahatan di dunia maya.
    Kelebihan.artikel yang sangat mudah dipahami dan dimengerti,saya saat suka.
    Kekurangn.kurang panjang pak.

  3. Leny Damayanti

    Menggunakan jubir untuk menyampaikan sesuatu pada masa itu mungkin hal yang terbaik, karena tidak ada yang pernah menyangka kedepannya akan ada internet atau sosial media . Jubir merupakan orang yang dipercayai untuk tampil mewakili seseorang, kata-kata atau perilaku seorang jubir akan memengaruhi tanggapan publik terhadap seseorang ataupun organisasi . Untuk menjadi seorang jubir tidak lah mudah , mereka harus percaya diri ,jujur,tegas ,dan dapat dipercaya dan pasti ada saja yang tidak menyukainya . Di masa sekarang orang tidak akan begitu mudah mempercayai sesuatu dan mereka dapat menanyakan , mengajukan pendapat, mengomentari apa pun secara langsung dari internet dengan mudahnya kapan pun dan dimana pun . Internet membuat semua hal menjadi mudah tetapi jangan pernah menyalahgunakan internet tersebut .
    Kelebihan: artikel yang di bahas sangat bagus , bahasnya juga mudah dipahami , jelas dan tidak berbelit-belit.
    Kekurangan: terlalu sering menggunakan tanda baca koma .

  4. Kasmawati

    Informasi yang tersedia pada zaman sekarang perlu disaring dan di kaji dari segala sumber. Untuk hal yang dilakukan oleh gubernur aceh yang melakukan pengambilan kebijakan yang mempunyai kesamaan pada zaman pemerintahan gus dur merupakan kehendak dimana segala sesuatu yang ingin disampaikan kepada masyarakat disampaikan melalui juru bicara tersebut.

    Kekuatan dari essay ini : bahwa dengan adanya informasi yang dengan mudah didapat akan menjadikan masyarakat mendapatkan informasi dari sumber manapun.
    Kekurangan dari essay ini : didalam essay ini merujuk kesuatu permasalahan yang dihadapin oleh suatu pemimpin daerah tetapi tidak memberikan solusi yang dapat dilakukan

  5. Kasmawati

    Informasi yang tersedia pada zaman sekarang perlu disaring dan di kaji dari segala sumber. Untuk hal yang dilakukan oleh gubernur aceh yang melakukan pengambilan kebijakan yang mempunyai kesamaan pada zaman pemerintahan gus dur merupakan kehendak dimana segala sesuatu yang ingin disampaikan kepada masyarakat disampaikan melalui juru bicara tersebut.

    +dari essay ini : bahwa dengan adanya informasi yang dengan mudah didapat akan menjadikan masyarakat mendapatkan informasi dari sumber manapun
    – dari essay ini : didalam essay ini merujuk kesuatu permasalahan yang dihadapin oleh suatu pemimpin daerah tetapi tidak memberikan solusi yang dapat dilakukan

  6. shyndi maharani

    menurut pendapat saya,esai ini menceritakan tentang seorang juru bicara (jubir) yang sudah ada sejak dulu hingga sekarang.dan esai ini juga menceritakan tentang jubir-jubir yang para penjabat negara seperti presiden dan bupati.semakin majunya teknologi sekarang semakin banyak jubir yang bisa bicara melalui sosial media.
    + esai ini memberikan saran bagi orang2 yang slalu menggunakan media sosial agar tidak mrnyindir orang lain melalui komentar-komentar yang ia berikan.
    -esai ini seharusnya lebih bisa memperbanyak contoh jubir pada zaman dulu dan sekarang agar para pembaca bisa mengetatahui lebih jelas tentang manfaatnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *