Membaca Aceh dari Dalam

PAPER ini akan saya mulai dari dari dialog yang sangat populer di Aceh, tapi tidak di Jakarta, antara Sukarno dengan Daud Beureuh. Sekitar tahun 1947. Dialog ini sebenarnya panjang, berisi tentang ajakan Sukarno, agar Aceh membantu perjuangan revolusi Indonesia yang sedang digugat oleh sekutu pasca kekalahan Jerman dan Jepang dalam perang dunia kedua. Daud beureuh, yang saat itu, dikenal sebagai pemimpin rakyat, atas keberhasilan organisasi yang dipimpinnya, PUSA menjadi dominan mewarnai kehidupan sosial keagamaan masyarakarat Aceh sejak tahun 1930-an. Ajakan Sukarno disambut dengan hangat. Tapi Beureuh memberikan syarat, bahwa, kelak jika perang usai, Aceh diberikan hak untuk mengelola daerahnya dengan penerapan syariat Islam. Sukarno meng-amini. Lalu dari sinilah kisah akut Aceh dan Indonesia bermula. Beureuh mengambil secarik kertas dan pena, meminta Sukarno menuliskan kesediannya itu. Sukarno hening, dan tumpahlah air matanya. Dalam isaknya dia berkata “Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi Presiden. Apa gunanya menjadi Presiden kalau tidak dipercaya (M. Nur Ibrahimy, 1982: 65).

Tangisan Sukarno kini menjadi cerita yang diulang-ulang, tentang betapa culasnya Jakarta terhadap Aceh. Kisah air mata itu, lalu dijadikan sebagai energi perlawanan atas ketidak adilan dan pengikaran janji. Karena, setelah itu kita tahu, apa yang dijanjikan di hadapan Daud Beureuh tidak terjadi. Aceh-pun meradang. Apalagi ketika otonomi yang diberikan sebagai salah satu provinsi, dibubarkan. Aceh dilebur menjadi bagian dari Sumatera Utara, wilayah di masa revolusi fisik, dipertahankannya dalam sebuah peperangan Medan Area.

Pembubaran provinsi disambut dengan murung. Aceh pun menjadi kasak kusuk. Rumor bahwa Aceh akan berontak semakin menyeruak. Boyd R Compton, melihat itu dari dekat. Bukunya yang telah menjadi klasik,  Kemelut Demokrasi Liberal: Surat-surat Rahasia Boyd R. Compton (1992),  merekam keresahan itu.

“Kami ingin Aceh ini seperti zaman Iskandar Muda,” kata Daud Beureuh dengan perasaan yang mendalam. Ucapan, yang disaksikan oleh Compton, membuat para pengikutnya  sempat kikuk. Iskandar Muda, Sultan Kerajaan Aceh Darussalam, di abad ke 17, sering menjadi prototype tentang kejayaan Aceh. Dia sering disebut-sebut, diulang-ulang, oleh siapa saja. Aksinya yang menghukum putera mahkota, karena melakukan kejahatan, disambut dengan suka cita. Penuh dengan glorifikasi. Iskandar Muda menjelma menjadi orang besar. Jalannya harus diikuti sebagai syarat kemajuan. Tidak terkecuali ketika Aceh hendak dibawa keluar dari krisis identitas.

Ali Hasjmy, salah seorang pemimpin pergerakan nasional yang juga seorang sasterawan, menulis roman tentang Iskandar Muda (Sulaiman, 1997). Roman itu ditulis saat pembicaraan mengenai masa depan Aceh, mulai diambil alih oleh generasi terdidik. Generasi yang tumbuh di atas kesadaran baru, yang bernama nasionalisme Indonesia.

Nama Iskandar Muda juga disebutnya dari Mardhatillah, nama markas dari gerakan perlawanan yang dipimpinnya terhadap Pemerintah Pusat, Darul Islam. Beureueh mengirim surat, ketika proses perdamaian dari konflik bersenjata itu sedang berlangsung, di tahun 1962. Namun, untuk surat itu, saya lebih suka menyebutnya sebagai Manifesto Politik Mardhatillah. Dalam manifesto itu, terlihat  penekanan tentang syariat Islam. Beureuh, dengan dengan penuh  pengharapan, memberi penerangan, “’Ketahuilah wahai rakyat Aceh yang tercinta, bahwa Syari’at Islam cuukup luas sempurna dan hidup , mencukupi segala bidang hidup dan kehidupan manusia.”

Syariat Islam, sebagai imaji Aceh, yang dimaksud meliputi aqidah dan nidham. Tentang hal itu, Beureuh menulis:

Bahwa jang dimaksud dengan ‘Aqidah ialah iman kepada Allah , Malaikat-malaikatNya, segala kitab-kitabNya, segala rasul-rasulNya, hari akhirat dan qadha-qadhar-Nya. Termaksud pula didalamnya peribadatan “ibadat badaniah seperti : sembahyang, puasa ‘ibadah seperti zakat, zakat fitrah , wakaf , hibbah dan ada pula ‘ibadah jang berjampur antara badan dan harta seperti hdji, jihad pada jalan Allah.

Bahwa jang dimaksud dengan Nidham ialah : aturan jang mengatur hidup dan kehidupan manusia, perseorangan dan mayjarakat, rakyat dan pemerintah, hubungan bangsa dan bangsa di bumi ini.

 

Perlawanan atas nama Darul Islam terhadap pemerintah pusat berhasil diselesaikan. Aceh diberikan wewenang untuk menjalankan syariat Islam, sebagai keistimewaannya. Lalu Aceh pun hidup dengan tenteram. Pemerintah Sukarno, yang semakin kuat sejak tahun 1959, tidak menyentuh Aceh. Daerah ini diberikan keleluasaannya untuk membangun negeri.

Sampai kemudian keresahan demi keresahan muncul kembali. Adalah Hasan Tiro, murid Daud Beureuh, menjawab itu dengan menggelorakan kembali pemberontakan. Dia menamakan perlawananannya itu sebagai Gerakan Aceh Merdeka di tahun 1976. Ada dua isu besar di dalam jalan perlawanan itu, krisis sumber daya alam dan pembangunan kembali identitas nasional Aceh. Tidak seperti perlawanan politik sebelumnya, isu Islam tidak menjadi dominan.

Namun, seperti Darul Islam, Aceh Merdeka juga berhenti di atas meja perundingan, melalui MoU Helsinki tahun 2005. Aceh diberikan wewenang luas dan kompensasi besar, melalui UU No 11 tahun 2006. Bahkan lebih luas dari apa yang didapat dari penyelesaian peristiwa Darul Islam. Mulai dari adanya partai politik lokal, dana otonomi khusus selama 20 tahun dan tentu saja, wewenang khusus untuk melaksanakan hukum syariah Islam.

Tulisan ini telah disampaikan dalam acara Peluncuran Buku dan Diskusi “Syariah dan HAM: Belajar dari Pengalaman Aceh, di Universitas Muhammadiyah Malang, 16 April 2018.

 

Komentar

  1. megawati semester:3 unit:2

    Membaca Aceh dari dalam
    Aceh mendapatkan hak untuk mengelola daerahnya dengan tuntunan syariat islam,Namun dari kepiluan sukarno menjadi sebuah cerita yang terus terulang,Dan kisah pilu tersebut membuat Aceh menjadi bagian dari Sumatra,Dan karena proses tersebut Aceh menjadi rusuh sampai akhirnya keresahan pun muncul kembali,Yaitu Hasan tiro murid dari Daud beureuh beliau mengatakan perlawanan tersebut sebagai gerakan Aceh merdeka,Namun seperti darul islam Aceh juga mendapatkan hak yangn luas dan konpensasi yang besar dibandingkan dengan peristiwa darul islam tersebut melalui UU no 11 tahun 2000,Dan karena itu Aceh mendapatkan hak khusus untuk melaksanakan hukum syariat islam.
    Kelebihan dari tulisan tersebut bahwa di setiap poin-poin pentingnya di bedakan dengan yang lainnya jadi mudah untuk dipahami dan dimengerti bagi pembacanya,Dan kekuatannya dalam tulisan tersebut mampu menceritakan Aceh tersebut dengan detail,jelas,singkat,dan akurat,Dan juga kata-kata yang digunakan sangat amazing dan tertata dengan rapi.
    Kekurangan atau pun kelemahan dari tulisaan tersebut bahwa seharusnya dari ketika awal menjelaskan tentang Aceh seharusnya diceritakan dengan dengan sebab-sebab yang mendasar dari peristiwa tersebut,Agar ketika memasuki paragraf selanjutnya cerita tersebut menjadi lebih menarik perhatian dan simpati bagi pembacanya,Dan seharusnya cerita tersebut lebih di perpanjang lagi karena memang menyangkut tentang wilayah kita sendiri.

  2. Nanda elvia

    Berisi tentang, ajakan soekarno ke daud beureuh untuk mmbntu perjuangan revolusi Indonesia pasca kekalahan Jerman dn Jepang, dlm perang dunia ke dua, sejak tahun 1930 an, daud beureuh sebagai pemimpin rakyat atas keberhasilan organisasi yg di pimpin a, dn ajkn soekarno d sambut hangat oleh daud beureuh, namun daud memberi persyaratan bahwa, jika perang usai Aceh di berikan hak untuk mengelola daerahnya dalam penerapan syariat islam, lalu daud beureuh mengambil secarik kertas meminta untuk soekarno menuliskan kesediaannya, dlm sekejap soekarno hening, karena iya menggaangap tdk mempercayai a, soekarno menumpah kn air mata a dlm isak a ia berkata :apa gunanya mnjdi presiden jika tidak di percayai, Menurut saya Aceh pada saat itu keadaan nya tidak stabil, bnyk hal yg terjadi salah satunya adalah ketika otonomi yg di berikan sebagai salah satu provinsi di bubar kn, Aceh d lebur mnjdi bagian dari Sumatera Utara Aceh pun mnjdi kasak kusuk, bnyk tokoh maupun masyarakat menginginkan Aceh seperti zaman iskandar muda,

  3. Aqila fadya zahra ,Badratun Navis ,Maisarah

    Artikel ini mengingatkan kembali kepada pembaca ,betapa culas nya soekarno terhadap masyarakat aceh,yang tidak menepati janji awalnya hingga terjadinya pergerakan aceh merdeka dan berunding akhir di mou helsinki,dari peristiwa itulah aceh mendapatkan hak nya untuk menjalankan syariat islam dan mendirikan otonomi daerah dengan sendirinya.
    Akan tetapi dalam artikel ini, tidak dijelaskan lebih rinci tentang proses kejadian tersebut dan membuat pembaca tidak paham akan kejadian sebelumnya.Namun,menurut kami artikel ini sangat menarik untuk dibaca, karna langsung menjelaskan bagian bagian terpenting nya saja, sehingga membuat para pembaca tidak monoton dalam membaca artikel *Aceh dari Dalam* ini.

  4. Ramisah.Dian Rosifa.Karlindawati

    Dari artikel yg berjudul membaca aceh dari dalam.ialah sebuah artikel yang bagus,walaupun artikelnya itu tidak terlalu panjang,itu kita sudah bisa,memberimemberi kesimpulan atau membuat kesimpulan,dan kita juga dapat mengetahui bagaimana sejarah jalan berkembangnya aceh dari sekitara tahun1947 dari masa sukarno dengan daun beureuh yang mereka kelola untuk menerapkan syariah islam jika perang usai
    Tulisan artikel ini penulisan kata kata atau kalimat nya masih ada yg kurang tepat dan kalimat tersebut masih ada yg sulit untuk dipahami dari kata kata artikel itu.dan dari cara penyampaiyan kalimatnya belum tersusun rapi hingga sulit untuk dimengerti

  5. Mujibur Rahmah Ema Junita Keliat Friska Ermaulidani Pratiwi

    Membaca Aceh dari dalam menurut kami artikel ini sangat bagus yang mana dengan adanya artikel ini dapat menarik kembali simpati para remaja dalam mengenang lebih dalam lagi tentang sejarah Aceh.
    Tetapi, sayangnya banyak remaja sekarang tidak mengerti lagi betapa pentingnya sejarah bagi generasi .

  6. Ramisah.Karlindawati.Dian Rosifa

    Artikel yang berjudul membaca aceh dari dalam ialah sebuah artikel yang bagus walau pun artikel nya tidak terlalu panjang dan kita juga dapat mengetahui bagaimana sejarah jalan berekembangnya aceh dari sekitar tahun 1947 masa sukarno dengan daud beureuh yang mereka kelola untuk menerapkan syariat islam jika perang usai
    Tulisan artikel yang berjudul membaca aceh dari dalam itu mempunyai kekurangan pada penulisan kata kata tau kalimat masih ada yg kurang tepat dan mungkin belum tersusun dengan rapi

  7. AINAL MARDLIYAH

    Membaca aceh dari dalam
    1.kelebihannya
    Artikel ini berjudul membaca aceh dari dalam,artikel ini sangat bagus ya walaupun artikel nya tidak terlalu panjang,kami hanya bisa mmberi kesimpulan hanya sebatas kemampuan kami saja,dan dari artikel ini kami mengetahui bagaimana jalan berkembang nya Aceh,dan aceh berkembang pada tahun 1947 di masa Ir Soekarno,bersama dengan Daud Beureh mereka mengelola aceh untuk bisa menerapkan syariat islam jika perang sudah usai.
    Dan kami menemukan beberapa hal yg mmbuat kami sedikit bingung untuk memahami kata2 nya
    Tulisan artikel ini yang berjudul membaca aceh dari dalam ini,penulisan kalimat nya masih ada yg kurang tepat,contohnya seperti di artikel ada terdapat kalimat yang tertulis “JANG” seharusnya adalah ‘YANG’,itulah yg kami temukan di artikel ini,dan juga kalimat nya masih ada yg sulit untuk kami fahami,dan juga terlalu bnyak menggunakan tanda koma dan juga dari awal ceritanya tidak berurutan sehingga kami sedikit kesulitan memahami nya.

    Nama kelompok :
    – Ainal Mardliyah
    – Mismida

  8. Nur aini

    Membaca Aceh Dari Dalam Aceh
    Aceh bisa mendapatkan hak penuh untuk menjalankan syariat Islam. Kisah sedih yang dialami oleh Soekarno membuat Aceh terbelah menjadi Aceh dan Sumatra
    Kelebihan nyaa udah dipahami oleh pembaca nya di setiap alur cerita nyaa
    Kekurangan nya agar penulis bisa membuat cerita tentang daerah Aceh yang lebih dalam lagi agar lebih bnyak orang yang mengetahui cerita daerah Aceh yang belum mereka ketahui

  9. rismaasni

    Membaca Aceh Dari Dalam
    Aceh diberikan hak untuk mengelola daerah nya dengan penerapan syariat islam.Namun kisah sedih yang dialami oleh soekarno membuat Aceh terbelah menjadi Aceh dan Sumatera,kemudian karena proses tersebut aceh ribut hingga keresahan terulang kembali.Hasan Tiro, Murid Daud Beureuh melakukan pemberontakan ,ia menamakan perlawanan nya itu dengan Gerakan Aceh Merdeka tahun 1976.Aceh diberikan wewenang melalui UU No 11 thn 2006 untuk meaksanakan hukum syariat islam
    Kelebihan artikel ini ialah tidak terlalu panjang sehingga tidak terkesen bosan ketika dibaca
    Kekurangan nya agar sedikit lebih detail dalam pemulisan sehingga agar lebih mudah dipahami

  10. rismaasni

    Membaca Aceh Dari Dalam
    Aceh diberikan hak untuk mengelola daerah nya dengan penerapan syariat islam.Namun kisah sedih yang dialami oleh soekarno membuat Aceh terbelah menjadi Aceh Sumatera,kemudian karena proses tersebut aceh ribut hingga keresahan terulang kembali.Hasan Tiro, Murid Daud Beureuh melakukan pemberontakan ,ia menamakan perlawanan nya itu dengan Gerakan Aceh Merdeka tahun 1976.Aceh diberikan wewenang melalui UU No 11 thn 2006 untuk meaksanakan hukum syariat islam
    Kelebihan artikel ini ialah tidak terlalu panjang sehingga tidak terkesen bosan ketika dibaca
    Kekurangan nya agar sedikit lebih detail dalam pemulisan sehingga agar lebih mudah dipahami

  11. Hafilda

    Membaca aceh dari dalam adalah ajakan tentang soekarno kepada aceh agar aceh membantu perjuangan revolusi indonesia yang sedang di gugat oleh sekutu karena pada kekalahan jerman dan jepang dalam perang dunia ke dua. Dan di situ di katakan ketua perang itu usai aceh di berikan hak untuk menetapkan syariat islam dan kisah ini lah yang menceritakan tentang kisah akut aceh dan indonesia bermula.

    Kekurangan :dalam penulisan sukarno yang saya tau penulisan yang benar itu soekarno bukan sukarno

    Nama : Hafilda
    Jurusan : Hukum Tata Negara
    Semester : 3
    Unit : 2

  12. Ida Maulina-PMA unit 1- semester 1

    *Membaca Aceh dari Dalam*. Didalam esai ini menjelaskan tentang pengkhianatan Soekarno terhadap Aceh. Dimana Soekarno mengingkari janjinya yaitu memberikan hak dan wewenang untuk menjalankan syariat islam sepenuhnya terhadap rakyat Aceh tanpa ada campur tangan pemerintah pusat. Hingga akhirnya terjadi GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang diketuai oleh Teuku Hasan Cik Ditiro dan berakhir di perundingan Mou Helsinki . Hasil dari perundingan tersebut ialah akhirnya Aceh mendapatkan hak dan wewenang untuk menjalankan syariat islam tanpa ada campur tangan pemerintah pusat.

    Kelebihan :
    Pembaca mudah memahami maksud dari esai ini. Tulisan didalam esai sangat tertata rapi ,disetiap poin poin penting yg terdapat pada esai ini di bedakan penulisannya,sehingga pembaca mudah menyimpulkan isi dari esai ini

    Kekurangan :
    Seharusnya didalam esai ini diterangkan lebih detail lagi tentang percakapan Soekarno dan Daud Beureuh.

    Ida Maulina
    1032018007
    Fakultas Tarbiyah
    PMA Unit 1
    Semester 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *