Museum dan Perpustakaan Ali Hasjmy: Sebuah Amatan dari Dalam

Di usia senjanya, Ali Hasjmy mulai merasa risau mengenai koleksinya pribadinya yang meliputi apapun mengenai Aceh. Kerisauannya itu, dia tuliskan dengan sangat epik, maka izinkan saya mengutipnya, untuk kesekian kalinya, sebagai berikut:

Pada saat usia senja, buku-buku, dokumen-dokumen dan benda-benda budaya yang telah bersusah payah saya kumpulkan puluhan tahun, membuat saya gelisah, menganggu ketenangan tubuh saya, merepotkan keheningan malam sunyi saya dan membuat saya kadang-kadang tidak bisa tidur. Ingatan bagaimana nasib benda-benda itu setelah saya meninggal, akan dijadikan bagai barang loak atau akan dikilokan untuk pembungkus barang-barang dagangan?”

 Demi mengatasi keresahannya itu, Ali Hasjmy menyerahkan segala koleksinya yang memiliki nilai yang tak terhingganya itu kepada sebuah lembaga nirlaba. Lembaga yang dibangun atas nama dirinya; Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, yang didirikan tanggal 5 Januari 1991.

Pendirian Yayasan ini, yang meliputi museum dan perpustakaan, ternyata disambut dengan positif oleh berbagai pihak. Misalnya, dari kalangan wartawan, Muhammad TWH yang menyatakan bahwa keberadaan lembaga ini dapatlah menjadi wadah yang menumbuhkan ilmu pengetahuan (Waspada, 2 Februari 1991). Begitu juga dari pihak pemerintah, yang menyebut bahwa pendirian lembaga tersebut ikut memberi kontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa (Serambi Indonesia, 28 Januari 1991).

Dari laporan resmi Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, lembaga tersebut memiliki berbagai koleki yang meliputi: buku dari bermacam bahasa, baik Arab, Inggris, Indonesia. Selain itu, museum di Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy memiliki benda-benda purbakala, kitab-kitab klasik dan foto-foto bersejarah.

Saya sendiri, sejak tahun 2013, mulai bekerja di Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy. Dari beberapa beberapa staf yang sudah lebih lama, saya mendapatkan banyak cerita bagaimana Ali Hasjmy membangun mimpi besarnya tentang lembaga ini, terutama dari pekerjaan kebudayaannya itu.

Misalnya saja secara rutin, lembaga itu mengadakan pameran kebudayaan, terutama meliputi perkembangan Islam di belahan dunia lain, seperti pameran masyarakat muslim di Uni Soviet. Lalu juga dilaksanakan kegiatan kesenian seperti pembacaan puisi yang dihadiri oleh seniman daerah, nasional dan dari semenanjung Melayu.

Catatan saya yang paling berkesan adalah keberadaan perpustakaan yang menjadi pusat dokumentasi dan informasi yang sangat baik untuk ukuran Indonesia. Dalam salah satu sarakata yang terletak tepat di depan bangunan, bertuliskan bahwa,  museum dan perpustakaan ini akan menjadi pusat informasi Aceh.

Sehingga dalam perjalanannya, perpustakaan ini tidak pula menjadi tempat penumpukan buku semata melainkan juga sebagai pusat informasi mengenai Aceh dan belakangan tetang khazanah Dunia Melayu Raya.

Pendirian pusat kekayaan  dunia Melayu misalnya, hal ini dinyatakan sendiri oleh Ali Hasjmy, bahwa melalui pergerakan kebudayaan, disebut sebagai “Dunia Melayu Raya”, yaitu sebuah pekerjaan yang hendak mempersatukan kebudayaan di wilayah ASEAN melalui persamaan identitas, seperti bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa pengantar di Malaysia, Singapura, Thailand dengan bahasa Indonesia, dimana Ali Hasjmy sendiri yakin, bahwa gerakan kebudayaan ini malah akan semakin memperkuat peranan ASEAN. (Serambi, 28 November 1992).

Sebagai sebuah lembaga yang memberikan fokus pada penyediaan informasi, museum dan perpustakaan Ali Hasjmy memiliki banyak content yang berhubungan dengan bidang sosial dan kebudayaan.

Sejauh pengamatan saya, Ali Hasjmy meninggalkan banyak sekali dokumen yang terutama berkenaan dengan perjalanan Aceh, baik sebelum dan sesudah abad ke-20 baik dalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris.

Misalnya saja, bahwa perpustakaan ini memiliki ratusan koleksi manuskrip, yang mungkin untuk wilayah Aceh, hanya kalah dari perpustakaan Tgk. Tanoh Abee. Sampai-sampai pernah satu kali, sebagaimana yang saya saksikan sendiri, seorang peneliti dari British Museum Library sampai gemetar begitu melihat sebuah manuskrip. Sebab setelah dia berkeliling di hampir seluruh perpustakaan dunia, tidak menemukan manuskrip yang sedang dicarinya, sampai mengunjungi perpustakaan Ali Hasjmy .

Mengenai keberadaan koleksi manuskrip itu, cerita yang saya dapatkan, berasal dari kepemilikan pribadi Ali Hasjmy dan juga dari orang lain yang menyerahkan koleksinya agar lebih terjaga dan terawat.

Sedangkan koleksi yang berhubungan dengan Aceh ke 20, perpustakaan ini memiliki resource mencengangkan. Terutama sekali yang menyangkut Darul Islam Aceh. Perpustakaan ini tidak saja memiliki koleksi yang berbentuk buku tentang Peristiwa Aceh yang ditulis oleh berbagai sarjana dan juga pelaku sejarah. Akan tetapi juga menyimpan dua jilid dokumen yang diberi judul oleh Ali Hasjmy Dari Darul Harb ke Darussalam.

Dokumen ini sendiri berisi mengenai arsip-asrip dari tangan pertama, surat menyurat politik antara pemerintah dengan pejuang DI/TII, seruan Dewan Revolusi sampai draft tawaran Dewan Revolusi dalam berdialog dengan Pemerintah Pusat. Karena memiliki posisi yang penting dalam studi mengenai Aceh, maka dokumen ini-lah yang juga  dipakai oleh Isa Sulaiman dalam penyelesaian karya magnum opus  nya tentang Sejarah Politik Aceh yang berjudul Sejarah Aceh; Gugatan Terhadap Tradisi.

Lalu, dapat dikatakan, melalui dokumen Dari Darul Harb ke Darussalam sebenarnya bukan saja menjelaskan posisi Ali Hasjmy sebagai arsiparis yang mumpuni, melainkan juga menjelaskan betapa pentingnya perannya dalam penyelesaian Peristiwa Aceh itu secara bermartabat.

Selain itu, perpustakaan ini pula memiliki koleksi yang sangat menarik mengenai terbitan yang sudah menjadi klasik dari Kopelma Darussalam yang dinamakan Sinar Darussalam sejak dari penerbitan pertama di tahun 1969 sampai pertengahan 1990-an. Dari koleksi itu kita bisa menyelusuri bagaimana pertumbuhan intelektual Aceh secara periodik berdasarkan isu dan perubahan sosial politik yang melingkupinya.

Maka dari itu, dapat dikatakan Museum dan Perpustakaan Ali Hasjmy sebagai warisan yang tak ternilai, karena menjadi saksi dari perjalanan Aceh secara umum, dan Kota Banda Aceh secara khusus. Oleh karena itu, menjadi tugas kita semua untuk dapat melestarikan keberadaan lembaga tersebut, sehingga dapat digunakan oleh generasi di masa mendatang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *