Apa dan Bagaimana Kaum Intelektual Itu (Bagian Pertama)

Saya memperhatikan lekat-lekat tulisan Ali Hasjmy tentang Angkatan Darussalam. Tulisan itu dihadirkan olehnya dengan gempita. Saat Ibrahim Hasan menggantikan Madjid Ibrahim sebagai Gubernur Aceh. Angkatan Darussalam kini menggantikan Angkatan 45, begitu titahnya. Saya mencoba masuk ke alam ketika Hasjmy melihat peristiwa itu. Begitu berkecamuk pikirannya, sekaligus begitu pula bahagia, sebab apa yang dirintisnya di masa lampau semakin terang benderang hasilnya di masa kini. Hasjmy mungkin tidak membayangkan, cita-citanya – atau lebih tepat, cita-cita angkatannya – kini semakin berdampak luas. Darussalam, yang dibangunnya gampong Rumpet, tempat yang Talsya sebut membuat kita bergidik ketika melewatinya – telah ikut menyumbang jasa pembangunan Aceh. Lulusannya menyebar. Menjadi ini dan itu. Apalagi kini hampir di seluruh bagian Aceh terdapat perguruan tinggi. Anak-anak Aceh, tidak perlu lagi berbondong-bondong ke Banda Aceh untuk berkuliah. Perguruan tinggi ada di depan halaman rumahnya. Secara kuantitatif, hal tersebut mengembirakan.

Ali Hajsmy, dan generasi yang pernah bertemu dengannya, telah melakukan pekerjaan intelektualnya. Sebuah perbuatan yang memungkinkan, generasi sekarang – yaitu kita – menikmati kerja kerasnya. Ali Hasjmy, dan angkatannya, turun dan bahu membahu. Mereka  melakukan setiap hal yang di dalam timbangan nilainya itu memiliki makna. Jadi dalam konstruk berfikir mereka, mendirikan lembaga pendidikan – atau bekerja di dalamnya, tidaklah sekadar menghimpun pengetahuan. Terlebih pengetahuan yang dikumpulkan itu sebatas menjadi koleksi belaka. Itu jelas bukan intelektual. Dan jelas pula bukan keinginan Ali Hasjmy dan angkatannya. Mungkin lebih tepat disebut sekedar akademikus, yaitu mereka yang bekerja di dunia akademik. Semestinya, dan itu harapan Ali Hasjmy, akademikus itu harus naik menjadi intelektual. Sebab, kalau tidak, maka akademikus hanya berhenti sebagai penyedia pengetahuan. Semestinya meningkat lagi menjadi intelektual, yang menggerakkan pengetahuan itu sebagai pembebas dan pencerah. Tidak boleh menjadi menara gading, akademikus. Tapi harus menjadi menara air, intelektual.

Bukankah sejarah kita, Indonesia, dicetak oleh kaum intelektual. Mereka yang terdidik, tapi melipat lengan bajunya, untuk menerbitkan gaung pembebasan. Kaum intelektual itu, yang ada di buku-buk teks pelajaran sejarah, turun ke bawah. Bertemu muka. Bertatap wajah. Merasakan aroma peluh. Tidak ada jarak. Sebab jarak tidak hanyalah pembatas namun juga pembeda. Itu mengapa, Sukarno yang jatuh bangun dalam binaan HOS Cokroaminoto, membangun teori manusia Indonesianya, melalui jabatan tangan dengan seorang petani yang bernama Marhaen. Tanpa itu, tidak ada namanya manusia Indonesia.

Inilah yang dimaksud dengan intelektual. Selalu ada nilai etik yang menyertai dan yang diperjuangkannya. Seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang Aceh, yang kesemuanya intelektual,

Mereka mengelilingi meja. Pembicaraan berhenti. Tidak ada titik kesepakatan, ketegangan mulai menyertai. Sebelum semuanya terhenyak dengan dengan pekikan Pawang Leman, “kalau tuan-tuan tidak mau berdamai, mari kita luluh lantakkan Aceh ini, agar kita dikutuk oleh anak-cucu kita.”

Itu adalah fragmen dengan apa yang kita kenal dengan nama Ikrar Lamteh. Yang hadir adalah para intelektual. Yaitu mereka yang tumbuh sebagai kelas terdidik di awal abad ke-20. Namun, sebagaimana khas kaum terdidik serupa di belahan Indonesia lainnya, mereka tidak berjarak dengan rakyat. Sehingga, produk setelah Ikrar Lamteh itu juga, memiliki bobot nilai. Salah satunya Darussalam yang sedang kita rayakan ini.

Tanpa kesadaran intelektual, yaitu kesadaran yang penuh bobot nilai, tentu kita pernah melihat akan nada sebuah jalan terbentang demikian, dalam satu lintasan sejarah Aceh modern. Jalan yang pada satu masa, telah membentuk satu masyarakat yang terbuka. Yaitu masyarakat tidak pernah risau dengan pikiran-pikiran baru. Dan satu masyarakat yang terus hendak mengalami kemajuan, pastilah di sisinya tegak berdiri kaum intelektual itu. (bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *