Maarif Institute dan Keindonesiaan Kita

SABTU, 21 Juli, dari Setia Budi, saya bergerak ke Tebet Dalam. Kantornya Maarif Institute. Karena, sesuai jadwal, pukul 14.00, satu rombongan akan diberangkatkan ke Bogor. Ke Grand Mulya Bogor, tempat acara Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif (SKK-ASM) berlangsung. Di Tebet Dalam, Zulfadli  sudah hadir.

“Taufani mana? tanya saya. “Lagi makan dengan Yayum,” jawabnya

Zulfadli adalah, dosen Universitas Andalas. Kami baru bertemu di hari itu. Sebab, ketika proses wawancara, kami tidak berbarengan. Sedangkan dua nama yang disebut tadi, sudah berjumpa sebelumnya. Dengan Taufani dan Yayum, saya mendapat jadwal wawancara yang sama. Dari perjumpaan itu, saya tahu, bahwa Taufani orang Makassar, alumnus CRCS UGM, bekerja di Manado, sebagai dosen IAIN. Sedangkan Yayum, merupakan alumnus Fakultas Sejarah UGM

Tidak lama, Taufani dan Yayum tiba di kantor Maarif. Lalu, setelah berbasa-basi sejenak. Mobil tumpangan Grab yang dipesan oleh panitia sudah sampai. Saya juga lihat, Fadli sibuk berputar-putar ke sana kemari, gara-gara terus  dihubungi mbak Henny, direktur keuangannya Maarif, untuk memastikan keberangkatan kami. Bahkan  sepanjang perjalanan, peran Zulfadli besar. Dia tokoh kunci yang memastikan arah mobil sesuai dengan tujuan.

Di dalam mobil, saya, Taufani dan Zulfadli duduk bertiga di baris kedua. Yayum duduk di samping supir. Sepanjang perjalanan dia hanya menjadi pendengar yang baik, atas ocehan demi ocehan kami. Kalau dirasa perlu, sekali-kali menanggapi. Selebihnya, membisu.

Kami bertiga bercerita banyak hal. Terutama soal daerah masing-masing. Saya ditanya soal Aceh, satu perkara yang selalu menarik perhatian orang luar. Walau banyak yang belum memahami dengan baik, tentang apa yang terjadi di Aceh. Keingintahuan itu biasanya seputar Syariat Islam, suasana politik pasca konflik, relasi dinamika elit lokal, serta perubahan sosial yang terjadi sekarang ini.

Sedangkan Taufani berbicara panjang lebar tentang Manado.  “Kami di sana minoritas,” jelasnya. Mengajar di IAIN Manado, membuatnya fasih bercerita tentang relasi antar agama di sana. Terutama ketegangan masyarakat adat, yang non-muslim, atas aksi-aksi satu kelompok yang intoleran di provinsi lain.

Zulfadli lain lagi. Dia orang Minang. Bicaranya khas logat minang. Sebenarnya pun begitu dengan Taufani, khas aksen Makassar. Terkecuali saya. Logat bahasa Indonesia saya lebih bagus dari mereka berdua. Zulfadli, juga bercerita tentang kampungnya. Mungkin memang begitu, bahwa cerita demi cerita itu,disebut sebagai perjumpaan. Oleh Fadli dia bercerita, betapa gelombang pengerasan keagamaan mulai tampak di Sumatera Barat. Misalnya, tentang aksi penolakan pendirian rumah sakit Siloam. Cerita siloam menjadi bahannya hampir sepanjang kursus. Jadi kasihan dengan Siloam. Pastilah batuk-batuk ketika disebut oleh Fadli tanpa henti.

Setelah berputar-putar dan tersesat di jalan, karena google mapnya kebingungan mencari hotel yang berada di sudut bumi, kami pun sampai. Hujan memang turun lebat sejak kami memasuki Bogor. Seakan-akan alam hendak mengatakan selamat datang ke Bogor, kota hujan itu. Hujannya lebat. Tapi kami tidak basah. Bukannya karena kami karomah, tapi karena di dalam mobil.

Turun dari mobil, mbah Henny menyambut kami. Wajahnya tampak khawatir. Sepertinya dia takut,  kami, para peserta yang menjadi harapan bangsa ini, tidak sampai ke acara Maarif Institute. Tapi, begitu kami turun dari mobil, tanpa ada satupun kekurangan, senyumnya mengembang. Bahagia, tentu saja. Setelah itu mbak Henny berperan besar, karena harus membayar uang lebih kepada supir yang menjengkelkan itu. “Ini tempat tidak sesuai dengan map,” gerutu supir itu. Tampak dia kesal. Terang, hati saya mengutuknya, tapi tidak sampai terkutuk.

Hari pertama, kami menginjakkan kaki di bumi Bogor, masih sepi. Peserta lain belum tampak batang hidungnya. Menjelang makan malam peserta satu persatu mulai hadir. Tapi belum semuanya.

Setelah makan malam, waktunya beristirahat. Saya jelas meraasakan penat. Perjalanan dari Langsa, Aceh, menuju Bogor, tentulah sangat jauh. Empat jam perjalanan darat ke kota Medan. Ditambah 1 jam ke bandara Kuala Namu, Deliserdang. Setelah itu menempuh perjalanan udara hampir dua jam ke Jakarta. Dari Jakarta, berpindah ke Bogor, menempuh perjalanan sekitar satu jam. Melelahkan.

Ketika makan malam, saya berjumpa  dengan beberapa orang peserta. Saepullah salah satunya. Diantara keseluruh perserta, Saepullah yang paling senior – untuk  tidak mengatakan paling tua. Selama kursus nanti, terlihat penguasaannya yang baik terhadap literatur baru dan klasik. Hari-hari, dia mengajar di Institut Ilmu Al Quran. Saipullah juga sedang menyelesaikan disertasi di UIN Ciputat. Tapi acap kali bicara tentaang topik itu, fajar kegembiraan belumlah tampak dari wajahnya

Selesai makan malam, saya bersantai terlebih dahulu di lobi hotel. Di lobi, saya lihat seorang perempuan (bukan) paruh baya, dengan koper, yang pastinya diseret-seret dari tadi. Rupanya salah satu peserta yang baru tiba. Nanti, saya tahu namanya Destara. Mahasiwa pascasarjana Fakultas Hukum UI. Destara, sepanjang kursus lebih banyak diam. Berbicara seperlunya. Kecuali satu pernyataannya yang membuat satu kelas tersentak, pada materi yang disampaikan oleh Kyai Husin Muhammad. “kenapa, laki-laki yang belajar tentang relasi gender, namun masih seksis dalam menyampaikan pendapatnya.”

 

ESOK harinya, tibalah acara pembukaan. Muhammad Shofan, sang kepala sekolah sudah bersiap. Di sampingnya ada Muhammad Darraz, Direktur Eksekutif Maarif Institute dan Prof. Amin Abdullah, guru besar di UIN Sunan Kalijaga. Prof. Amin termasuk dewan Pembina di Maarif Institute. Saya sudah pernah berjumpa dengannya. Baik melalui dengan bukunya yang telah menjadi klasik, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas, maupun dengan mengikuti kuliahnya sewaktu menempuh studi di UIN Sunan kalijaga. Kebetulan, saya punya teman yang menjadi mahasiwa di Prodi Filsafat Islam, tempat Prof. Amin mengampu perkuliahan.

Menyimak kembali pemaparan, baik ketika membuka acara kursus maupun sewaktu menyampaikan materi tentang, Islam Indonesia dan Tantangan Global,  tampak kejernihan dan kedalamanya. Ketika menjadi ketua PP Muhammadaiyah, Buya Syafii mempercayai Prof. Amin untuk memimpin Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. Dan, bukankah ketika  menjadi Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Amin telah menyusun pemikiran tentang integrasi dan interkoneksi ilmu. Gagasan yang mendorong, mahasiswa di kampus tersebut untuk memiliki “mahzhab” pemikiran keislamannya.

Memang, selalu saja ada yang menarik dari paparannya. Salah satunya, keyakinan Prof. Amin tentang ketahanan masyarakat Indonesia. Prof. Amin percaya, dengan modal kolektifitas masyarakat Indonesia, melalui satu diksi yang disampaikan oleh Bung Karno, 1 Juni 1945: Gotong Royong,   dalam menghadapi gelombang radikalisme yang datang dari luar

Hari pertama kursus, hanya ada materi dari Prof. Amin. Setelah beramah tamah, yang dipimpin oleh kepala sekoleh, Mohd Shofan, kami lebih memilih , bersantai. Sebab nanti malamnya, para  peserta akan malam bersama Buya Syafii Maarif di salah satu rumahh makan di kota Bogor. “Selepas magrib ya, jangan terlambat. Buya tunggu di sana,” seru mbak Henny.

Kami mulai bersiap. Saya bersama Irfan. Teman sekamar. Memang, setiap peserta harus berbagi kamar. Bahkan ada yang bertiga dalam satu kamar, seperti Saepullah dan Amir — peserta dari Lombok, NTB — yang berbagi dengan salah seorang teman panitia. Begitu juga dengan tiga peserta perempuan. Celakanya, panitia membagi kamar dengan ranjang single bed!. Saya yang mendapat kabar itu, buru-buru mendatangi mbak Henny, dan meminta yang double bed. “Satu ranjang begitu, selama 10 hari, geli! kata saya.  Mbak Henny terkekeh.

Dari hotel, kami, saya, Irfan dan Rico dipesankan grab oleh panitia. Rico salah satu peserta dari Jakarta. Dia pengajar di salah satu pesantren dan memiliki penguasaan bahasa Arab yang bagus, karena pernah studi di Kairo, Mesir. Sepanjang perjalanan kami berbagi cerita ringan-ringan saja.

Sampai di lokasi, ternyata Buya Syafii sudah hadir. Duduk didekatnya, pak Amin Abdullah dan Najib Burhani. Najib adalah aktivis muda Muhammadiyah yang cemerlang. Dia peneliti di LIPI. Pada pagi harinya, setelah sesi Prof. Amin selesai, dia memberikan materi tentang bagaimana Pancasila, terutama sila pertama itu dapat ditafsirkan secara luas, sekaligus memiliki bias “ajaran monoteisme.”

Saya dan Irfan berjalan beriringan. Hendak bersalaman dan sekedar memperkenalkan diri kepada Buya. Irfan lebih dahulu menghampiri Buya. “Ini alumnus UCL,” kata Najib. UCL yang dimaksud Najib, University of College London. Salah satu kampus yang bergengsi di dunia. Buya tampak sumringah. Lalu, giliran saya memperkenalkan diri, dengan menjabat erat tangannya, “dari Aceh, Buya.”

Melihatnya langsung dan menjabat erat tangannya, membuat ingatan saya kembali kepada kejadian unik sebelas tahun yang lampau. Saat itu, saya masih bekerja di Aceh Institute, akan mengadakan diskusi tentang agamawan dan demokrasi. Salah satu pembicara yang hendak saya undang ke Aceh, adalah Buya Syafii. Entah dari mana, saya mendapatkan nomor handphonenya. Lalu, tanpa pikir panjang, sayapun menghubunginya. Panggilan tersambung, tapi tidak diangkat oleh Buya. Tidak lama, saya masih ingat betul kejadian ini, mungkin di sore harinya. Sambil mengendarai sepeda motor, sepulang dari warung kopi,  tiba-tiba, handphone saya berdering. Sayapun berhenti, dan melihat layar handphone, tertulis “Pak Syafii Maarif calling! Tanpa menunggu lebih lama, sayapun mengangkat panggilan Buya, dari pinggir jalan! Di tengah riuhnya kendaraan yang hilir mudik.

Bertemu Buya malam itu dan menjabat tangannya, membuat saya tersenyum geli ketika mengingat kejadian itu (bersambung).

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *