Ketika Aceh Mengurai Kekusutan Nasional

Sejak tahun 2014, Pemilu pertama yang mempertemukan Jokowi vs Prabowo – ditambah kegaduhan di Jakarta menjelang Pilkada 2017 – politik identitas seperti menemukan lahan yang subur di Indonesia. Terlebih dalam soal polemik pilpres kali ini, tentang siapa yang paling islami di antara kedua calon. Prabowo menemukan ceruknya pada organisasi Islam modernis dan muslim yang memiliki orientasi keagamaan yang independen. Hal yang membuat Jokowi mencari backbone Islamnya, yang akhirnya jatuh kepada NU dan gerakan Islam tradisional serupa. Walau, pembelahannya tidak vis a vis sedemikian. Namun polanya menguat pada dua oreintasi besar paham keagamaan di Indonesia itu. 

Lalu, akibatnya, suka atau tidak suka kita dihadapkan pada kenyataan, ketika ajang Pilpres lebih mirip kepada festival anak saleh.

Parade demi parade keberagamaan dihadirkan  ke ruang publik, sehigga menciptakan kebingungan secara nasional. Seakan-akan, adu kesalehan dan kecakapan beragama ii akan terus belangsung, minimal sampai 17 April 2019. Atau bahkan tidak tahu berujung ke mana. Sampai akhirnya, entah dari mana munculnya, datanglah Ikatan Dai Aceh, yang mengajukan satu dalil, untuk menghentikan polemik siapa yang paling Islam dan paham agama di antara kedua calon presiden – beserta wakilnya. Maka  diadakanlah uji baca Quran untuk Capres-Cawapres.

Publik nasional teugeupak!

Kebingungan menyelimuti lagi. Bahkan di Aceh-pun, yang juga terbelah dukungan terhadap calon presiden, ada yang sakit kepala, ada pula yang bersorak. Respon demi respon diberikan. Bahkan menjadi perbicangan nasional. Mengelinding deras. Ada Capres-Cawapres yang sudah bersiap hadir, ada pula yang menolak. Tentu menolak dengan halus. Kata panitia, acaranya, tanggal 15 Januari 2019 ini. Ditunggu saja. Bila keduanya datang, tentu akan semakin mengharu-birukan perpolitikan nasional. Kalau Cuma satu pasangan yang datang, fix acaranya batal. Namun, kalau kedua-duanya tidak datang, memang demikian adanya. Apa hendak dibilang.

Akan tetapi yang pasti tes baca Al Quran ini sudah semakin serius. Bukan lagi galak-galak ku tak sigoe. Bahkan bisa jadi, isu ini akan semakin massif menjelang hari-H nanti. Lihat saja di lini masa media sosial masing-masing. Betapa riuh dan gaduh.

Terlepas apapun motif pelaksanaan kegiatan itu dan apapun yang akan terjadi mengenai perlehatan tersebut – yang semakin banjir dukungan. Dapat dikatakan, beginilah cara Aceh melepaskan benang kusut Indonesia. Menyelesaikan ketegangan demi ketegangan yang dirasakan republik ini.

Sedari dulu.

Ketika Sukarno bingung dengan armada pesawat terbang, Aceh hadir dengan membeli. Tidak hanya satu – seperti yang diminta – melainkan dua.

Atau, sewaktu, Hatta kebingungan  ketika ditanya – dalam Kofrensi Meja Bundar di Den Hag – di mana letak Republik Indonesia? Noh, tunjuk Hatta, ke Aceh.

Begitu pula kini, ketika wacana NKRI bersyariah menggema, Piagam Jakarta hendak disorong ulang, Aceh diminta hadir ke muka publik. Dahlan Iskan kali ini sebagai pelakonnya.  Dia meminta Aceh untuk meyelesaikan benang kusut itu.

Dalam satu esainya, hasil lawatan ke Turki, dia harus meminjam mulut orang Aceh untuk menjelaskan bahwa Turki tidak seislami yang dibayangkan oleh orang di Indonesia. Dalam esai yang diberi tajuk Pancingan Aceh Istanbul, terlihat Dahlan bekerja cukup keras untuk memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi di Turki. Mengapa pula bukan hal yang sebenarnya itu yang sampai ke Indonesia.

Kenapa Turki? Dahlan tentu tahu, bahwa negara ini merupakan wilayah yang menjadi kekuasaan Islam terakhir, atas nama Ottoman Empire. Lalu, di bawah rezim Erdogan, wakil dari AKP, sekularisme Attartuk mendapat perlawanan sengit. Turki, melalui para pengagumnya – baik di Indonesia maupun di Aceh, dirayakan. Turki diharapkan dapat kembali menjadi poros masa depan Islam dunia, seperti yang dilakukan oleh Ottoman dahulu.

Dahlan, tentu hendak membuktikan apa yang dilihatnya di tanah air langsung dari Turki. Kesimpulannya ternyata tidak. Namun, Dahlan tahu, dia tidak akan bertenaga bila langsung menyampaikan hal demikian. Namun, demi mengurai kekusutan di tanah air, maka hal tersebut mesti disampaikan. Lalu, dipilihlah dari Aceh untuk mengatakan apa yang hendak disampaikan.

Baginya, hanya Aceh yang mampu menjelaskan tentang kondisi Turki yang sesungguhnya. Bukan hanya, secara sejarah Aceh yang paling dekat dengan Turki, namun lebih dari itu. Bahwa, Acehlah yang paling memiliki otoritas keislaman di tanah air. Sehingga dapat menjadi cara meluruskan yang bengkok dan mengurai yang kusut.

Ya, persis, seperti  uji baca Quran bagi Capres dan Cawapres itu.

Komentar

  1. Muthmainnah

    Bangsa aceh adalah bangsa yang sangat persatukan satukan bangsa walau banyak masalah yang telah dihadapi oleh bangsa indonesia.Namun,aceh sanggup untuk menghadapinya.contohnya seperti bung karno dan bung hatta yang mungkin terpikir sulit bagi mereka.

  2. Ema Junita Keliat

    Tulisan ini bagus . Uji baca Quran bagi capres dan cawapres itu sangat penting , karena sebagai umat muslim harus bisa membaca kitab suci Al quran

  3. Mujibur Rahmah

    Saya setuju dengan usulan capres dan cawapress untuk membaca al-quran karena ini adalah awal untuk mengakhiri politik identitas yang sudah terlanjur terjadi sekarang dan setelah uji baca al-quran bagi dua pasangan calon tersebut masyarakat bisa menentukan sendiri mana calon yang pantas memimpin negeri ini.

  4. Delvia Mentari

    Saya sangat setuju dengan diadakannya tes baca Al-quran untuk capres dan cawapres karena dinegara kita Indonesia yang kebanyakan mayoritas masyarakatnya yaitu beragama islam dan sebagai umat islam kita wajib bisa membaca Al-quran,dan perlu kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia tidak semua bisa membaca Al-quran. Dengan diadakannya tes baca Al-quran untuk capres dan cawapres maka kita akan tahu siapa yang pantas untuk menjadi pemimpin dinegara kita dan supaya masyarakat tidak salah pilih dan memilih capres dan cawapres.

  5. Julinda purnamasari

    Dicerita ini sangat terinspirasi bagi kalangan indonesia.
    Karna di aceh sangat bijak dalam mengajukan sebuah pendapat yang dapat menghentikan polemik/masalah contoh seperti cerita diatas dalam pemilihan capres dan wacapre,itu dengan cara mengadakan uji baca al-quran dan ini sangat bagus sekali untuk sebuah sekali untuk sebuah tindakan,supay tidak dalam suatu permasalahan siapa yg paling islam dan bahkan siapa yg paling paham agama islam diantara capres dan wacapres
    Dan begitulah cara aceh dalam melaksanakn tindakn benang kusut ketegangan yang dirasakan republik indonesia.

  6. Lusiyani

    Menurut saya tulisan ini bagus dan saya sangat setuju di adakan uji baca al-quran bagi capres dan cawapres, karena sebaigai pemimpin negara kita harus pintar membaca al-quran.

  7. Indina Tazkiya Lubis

    Menurut saya tulisan ini sangatlah benar adanya, saya sangat setuju dengan tulisan ini karena memang pada hakikatnya masyarakat kebanyakan berpendapat dalam memilih capres selalu tentang siapa yang paling islam Antara kedua calon. Dan aceh lah yang menjadi sasaran untuk menyampaikan indentitas keislaman di negara ini.

  8. Dayu pratiwi

    Dalam tulisan ini sangat terlihat aceh termasuk peran penting bagi indonesia. apa yang mereka lakukan benar-benar berpengaruh bagi bangsa. Dan untuk kali ini Aceh turut berperan dalam pesta demokrasi pemilihan presiden dan wakil presiden periode 2019-2024. Sehingga datanglah ikatan Dai Aceh, yang mengajukan satu dalil diadakanlah uji baca Al-quran untuk capres dan cawapres. Ini sangat bagus dikarenakan sebagai negara yang mempunyai pendudukan islam terbesar didunia, penting juga kita harus mengetahui pemimpin yang berkualitas baik untuk bangsa dan beragama

  9. Julinda purnamasari

    Dicerita ini s terinspirasi dan dikalangan indonesia
    Karna aceh sangat penting bagi kalangan indonesia karna di aceh sangat bijaksana dalam mengajukan sebuah pendapat yang dalat menghentikan polemik/masalah contoh seperti cerita di atas dalam pemilihan capre dan cawapres itu dengan cara mengadakan uji baca Alqur-an dan ini sangat bagus sekali untuk sebuah tindakan .supaya tifak ada suatu oermasalahan siapa yang paling islam dan siapa yang paham agama diantara kefua capres dan wacapre
    Dan begitulah cara aceh dalam benang kusut ketegangan yang dirasakan publik indonesia.

  10. Wilda tahjia

    Saya sangat setuju dengan tulisan ini karna dalam hal apa pun sekarang sangat menyangkut dalam hal politik akan dilibatkan dalam hal agama.

  11. Chairul husna rahmi

    Saya setuju dengan tulisan ini karena setiap calon presiden dan wakil presiden harus bisa membaca alquran,karena mereka akan menjadi pemimpin disatu negara.dan dengan diadakan tes baca alquran masyarakat bisa memilih pemimpin yang baik menurut masyarakat, baik untuk bangsa. Apalagi aceh mayoritas penduduk nya beragama islam.

  12. faradilla aprina

    Tulisan ini sangat bagus. Membahas tentang problem yang terjadi saat ini. Aceh merupakan penenang dari segala problem publik yang terjadi. Dengan adanya usulan memberi tes baca quran pada capres dan cawapres maka berkurang lah satu masalah yang ada pada saat sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *