Ali Hasjmy dan Dunia Melayu Raya

SAYA sampai di bandara KLIA sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Setelah menunggu antrian yang mengular, akhirnya visa on arrival di-approve. Bersama rombongan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Aceh dan perwakilan Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, saya menuju Kuala Lumpur, tempat berlangsungnya acara, yang telah disiapkan jauh-jauh hari.

Agenda saya ke KL adalah untuk menghadiri acara seminar dan MoU untuk pengembangan tentang Perpustakaan dan Museum Ali Hajsmy dan Kontribusi intelektualnya untuk Aceh dan Dunia Melayu Raya. Satu kegiatan yang digagas oleh, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dan Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy. Tentu saja, di belakang ini semua, atas usaha keras dari Budayawan besar Malaysia, Prof. Siti Zainon Ismail.

Hari pertama agak melelahkan, karena perjalanan yang memakan waktu hampir seharian dari Aceh. Walaupun demikian, seperti biasa, suasana gembira meliputi, ketika melihat suasana perkotaan dan perkampungan – hal yang terlihat apik di kota Kuala Lumpur.

Dengan mengendarai mobil rental, dari bandara, sampailah kami di hotel. Tentu saja hotel yang berbeda. Saya, memilih hotel yang kecil di pinggiran Bukit Bintang – destinasi yang selalu ramai dikunjungi oleh pelancong.

Sebelum kami tiba, rombongan keluarga besar Ali Hasjmy dari Jakarta, sudah terlebih dahulu tiba. Akan tetapi tidak berjumpa. Seperti saya dan rombongan, mungkin mereka lebih memilih beristirahat terlebih dahulu.

Setelah istirahat sejenak. Saya berkeliling Bukit bintang. Melihat tempat itu di malam hari, adalah pilihan yang menyenangkan.

Sepanjang jalan, pusat perbelanjaan seperti Berjaya Square, Low Yat Plaza, Sunge Wang Plaza dan Pavilion, penuh dengan lampion merah. Di sini, Imlek dirayakan dengan meriah. Hal ini menarik perhatian para wisatawan yang membanjiri bukit bintang.

Di beberapa persimpangan, di depan beberpa plaza yang lebih kecil. Orang berkumpul. Rupanya mengitari penyanyi lokal dengan alat musik akustik. Dengan percaya diri, mereka melantunkan lagu. Penonton antusias, ringgit pun membanjiri penyanyi itu.

Saya ikut pula menonton. Pastilah, akan banyak lagu Malaysia, yang biasa saya dengar di tanah air, akan dilantunkan secara live. Tapi apa yang terjadi, tentu selain lagu Malaysia, mereka malah lebih bersemangat membawa Lagu-lagu Indonesia, mulai dari Wali, Jamal Mirdad, maupun Ari Wibowo

Mungkin sudah nasib, jauh-jauh ke Malaysia, hendak mendengar lagu Zamani atau Saleem, malahlagu Indonesia juga yang mengalun syahdu.

 

SELASA, 20 Februari, rombongan tiba di Menara Dewan Bahasa dan Perpustakaan. Gedungnya menjulang tinggi. Lebih dari 30 lantai.

Tiba di lobi, kami di sambut oleh para staf, dan diajak naik ke lantai 3, tempat koleksi Dokumentasi Melayu, dari jaman lampau sampai modern. Awalnya, oleh salah seorang pengurus teras DBP, kami disambut dan diberi pengenalan awal mengenai Pusat Dokumentasi Melayu.

Tidak lama, Puan Kamariah binti Abu Samah, Ketua Pusat Dokumentasi Melayu, tiba. Dia tidak hanya memberi penjelasan tentang koleksi apa saja yang DBP punyai, seperti karya Tun Sri Lanang mengenai Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu),  namun juga mengajak rombongan berkeliling Pusat Dokumentasi Melayu tersebut.

Diperlihatkanlah koleksi kitab klasik dan juga satu ruangan dari sastrawan besar Malaysia, yang diisi oleh koleksi piringan hitamnya. Salah satu koleksi yang menarik adalah kumpulan lagu keroncong pilihan Sukarno.

Di sampul piringan hitam itu, tertulis kalimatnya, “Saya restui pengedaran piringan hitam daripada lagu-lagu “galian” saya ini ” 7 September 1966

Setelah berkeliling ruang Pusat Dokumentasi Melayu, acara seminar pun dimulai.

Ada dua pembicara, Prof. Siti Zainon Ismail, budayawan dan seniman Malaysia dan Dr. Wildan, Kepala Dinas Kepustakaan dan Kearsipan. Kedua pembcara ini adalah “orang dekat” Ali Hasjmy, dalam pengertian pada ide, gagasan dan gerakannya.

Wildan, sejak strata dua, sudah memberi perhatian kepada kajian pemikiran Ali Hasjmy.

Dia mengingat perjumpaan awalnya dengan Hasjmy, yang saat itu sebagai Ketua MUI dan LAKA. “Prof. Ali Hasjmy orangnya disiplin terhadap waktu dan sangat menghargai pengetahuan.” kenangnya.

Wildan memiliki memori kuat awal mula perjumpaan itu, ketika dia hendak mewawancarai Hasjmy dalam penyelesaian tesis masternya. Tokoh besar itu menyambutnya dengan setelan rapi dan gagah lengkap dengan memakai jas dan dasi. Karena bagi Hasjmy, dia akan berhadapan dengan proses pengetahuan. Wildan juga menulis untuk disertasinya mengenai aspek nasionalisme dalam karya Ali Hasjmy.

Wildan tampil sebagai pembicara pertama. Dalam pemaparannya, Wildan menjelaskan posisi intelektual Ali Hasjmy. Mulai dari karya-karyanya sampai proses kreatifnya.

Wildan mencatat, bahwa Hasjmy telah menulis banyak karya di berbagai bidang. Dalam aspek sastra, Hasjmy menulis 11 novel, 10 buku puisi, 32 cerpen dan 2 karya imajinatif.  Wildan juga memberi apresiasi kepada Kepustakaan dan museum Ali Hasjmy yang memiliki beragam koleksi, dari naskah kuno, buku-buku klasik, barang-barang pribadi, sampai alat teknologi tradisional Aceh.

Pembicara kedua adalah Siti Zainon Ismail. Dia mengenang awal mula perjumpaan dengan Ali Hasjmy di Gayo. Usianya masih 35  tahun. Dia mengingat sedang menghadiri acara sastra dan kebudayaan. Acara tersebut menghadirkan Mochtar Lubis dan Taufik Ismail. Siti Zainon mengingat dengan lekat lekat, ada seseorang yang dengan lembut berbicara dengannya dan  memintanya pula, selepas Jumat, membaca puisi di pelataran masjid.

Sejak saat itu, hubungan keduanya terjalin, seperti ayah dan anak. Memang, Ali Hasjmy menjadikan Siti Zainon Ismail sebagai anak angkatnya. Dalam pemaparannya juga, dengan tatapan mata yang dalam, dia mengenang, di tahun 1990, Siti Zainon diberi gelar oleh LAKA, Ali Hasjmy saat itu sebagai ketuanya, sebagai Cut Fakinah.

” Saya merasa tidak layak. Siapalah saya,” kenangnya.

Akan tetapi, ada kata-kata Ali Hasjmy yang selalu diingatnya, “ini untuk perkerjaan masa depan”

Apa yang dipikirkan oleh Hasjmy adalah benar. Siti Zainon mencurahkan hampir sepanjang hidupnya menulis tentang Aceh, pada aspek kebudayaan, sastra dan kesenian. Selain itu dia tidak pernah  berhenti mendorong ingatan sosial tentang Ali Hasjmy untuk terus di dada generasi muda Aceh, Malaysia dan Nusantara.

Sesi seminar semakin menarik ketika ketika kolega-kolega lama Ali Hasjmy, baik dari guru besar sampai Sastrawan Negara,  memberi testimoninya.

Selain itu juga, pihak yayasan Pendidikan Ali Hasjmy juga memberi beberapa keterangan tentang sosok Ali Hasjmy, Yang diwakili oleh salah satunya puteranya, Dharma Hasjmy.

Saya sendiri juga menyampaikan beberapa hal tentang Ali Hasjmy. Diantaranya, Hasjmy adalah kepada siapa kita memahami ide tentang keacehan. Tapi kini, dengan perubahan sosial politik, ide Hasjmy mulai kehilangan tempat di ruang publik, namun terus dikaji dalam bingkai akademik. Saya juga menyampaikan bahwa untuk mengembalikan gagasan Hasjmy seperti sedia kala, baik tentang kebudayaan, sejarah, ide tentang Aceh dan sebagainya, perlu dukungan dari Malaysia, baik oleh pemikirnya, budayawannya, seniman dan lain-lain.

Acara ini ditutup dengan pembicaraan antara Dewan Bahasa dan Pustaka, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dan Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy. Ada dua hasilnya, yaitu DBP akan melakukan MoU dengan Pemerintahan Aceh tentang peningkatan budaya literasi. Sedangkan dengan pihak Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, adanya perjanjian untuk mencetak kembali karya-karya Ali Hasjmy. Untuk cetakan buku yang pertama akan diterbitkan kembali karya Ali Hasjmy yang berjudul, “Ruba’i Hamzah Fansuri.” Buku ini di tahun 1972 diterbitkan pertama kali juga oleh DBP Malaysia.

Tulisan ini, sebelumnya sudah  sudah dipublikasikan: 

http://portalsatu.com/read/Citizen-Reporter/laporan-perjalanan-ke-kuala-lumpur-48259

http://portalsatu.com/read/Citizen-Reporter/melihat-koleksi-dokumentasi-melayu-hingga-menyimak-paparan-wildan-tentang-ali-hasjmy-48272

http://portalsatu.com/read/Citizen-Reporter/siti-zainon-ismail-dengan-gelar-cut-nyak-fakinah-48295

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *